JAKARTA – Sosok Dewi Soekarno mencuri perhatian saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Kehadiran istri mendiang Presiden pertama RI Soekarno itu disambut antusias para tamu undangan dan awak media yang telah menunggu sejak pagi.
Mengenakan busana bernuansa merah putih yang dipadukan dengan kain batik, Dewi Soekarno tampak ramah melayani pertanyaan wartawan sebelum memasuki area acara. Dalam kesempatan singkat tersebut, ia mengaku baru tiba di Indonesia dari Jepang menggunakan penerbangan Garuda Indonesia khusus untuk menghadiri peringatan HUT ke-81 RI di Istana Negara.
"Saya dari Jepang, baru tiba di tanah air," ujar Dewi Soekarno saat menjawab pertanyaan awak media.
Kehadiran Dewi Soekarno menjadi salah satu momen yang menyita perhatian dalam rangkaian upacara peringatan kemerdekaan. Banyak tamu maupun masyarakat yang ingin melihat langsung sosok yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari sejarah keluarga Presiden Soekarno.
Baca Juga: Hayden Panettiere Tutup Usia di 36 Tahun, Polisi Ungkap Fakta Awal Kematian Sang Aktris Hollywood
Sampaikan Harapan untuk Indonesia
Saat ditanya mengenai harapannya di momen peringatan kemerdekaan tahun ini, Dewi Soekarno menyampaikan pesan singkat namun penuh makna.
"Semoga Indonesia selalu maju," ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi harapan sederhana yang mencerminkan keinginannya agar Indonesia terus berkembang di berbagai bidang, baik ekonomi, sosial, budaya, maupun pembangunan nasional.
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sendiri menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pahlawan sekaligus memperkuat semangat persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Terkejut Melihat Perubahan Kompleks Istana
Selain menyampaikan ucapan selamat, Dewi Soekarno juga mengaku terkejut melihat banyak perubahan di kawasan Kompleks Istana Kepresidenan dibandingkan dengan kondisi yang pernah ia kenal pada masa lalu.
Menurutnya, kawasan Istana kini memiliki sejumlah bangunan baru yang tidak pernah ada sebelumnya.
"Saya kaget sekali. Istananya sudah banyak berubah. Ada gedung yang dulu tidak ada. Antara Istana Negara dan Istana Merdeka sekarang ada bangunan baru," ungkapnya.
Ia mengaku masih menyimpan sejumlah foto lama kawasan Istana yang memperlihatkan kondisi berbeda dibandingkan saat ini. Namun, beberapa dokumentasi tersebut kini sudah tidak lagi berada di tangannya.
"Saya punya beberapa gambar dulu, tapi sekarang saya kira sudah tidak ada lagi. Saya tidak tahu ke mana," katanya.
Mengenang Jejak Sejarah
Sebagai sosok yang pernah menjadi bagian dari kehidupan Presiden Soekarno, Dewi Soekarno memiliki banyak kenangan terhadap Istana Kepresidenan. Karena itu, perubahan yang terjadi di kawasan tersebut menjadi pengalaman emosional baginya saat kembali menghadiri peringatan kemerdekaan Indonesia.
Meski demikian, ia mengaku senang melihat perkembangan dan pembaruan yang dilakukan pemerintah terhadap kawasan bersejarah tersebut.
Kehadirannya juga menjadi simbol bahwa semangat persatuan dan penghormatan terhadap sejarah bangsa tetap terjaga dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Hayden Panettiere Meninggal di Usia 36 Tahun, Polisi Ungkap Kronologi Penemuan Sang Aktris
Upacara HUT ke-81 RI Berlangsung Khidmat
Upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Kepresidenan dihadiri berbagai tokoh nasional, pejabat negara, duta besar negara sahabat, veteran, serta tamu undangan dari berbagai kalangan.
Selain menjadi ajang mengenang perjuangan para pendiri bangsa, peringatan kemerdekaan juga menjadi momentum memperkuat optimisme masyarakat terhadap masa depan Indonesia.
Kehadiran Dewi Soekarno menambah warna dalam peringatan HUT RI tahun ini. Sosok yang dikenal luas di tingkat internasional itu tetap menunjukkan kecintaannya terhadap Indonesia dengan menyempatkan hadir meski baru tiba dari Jepang.
Harapannya agar Indonesia terus maju menjadi pesan sederhana yang selaras dengan semangat pembangunan nasional dan cita-cita kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendiri bangsa lebih dari delapan dekade lalu.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : KOMPASTV