JAKARTA – Kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi atau Naoko Nemoto menjadi salah satu cerita paling menarik dalam sejarah Indonesia. Hubungan keduanya tidak hanya menghadirkan kisah romansa lintas negara, tetapi juga memperlihatkan bagaimana cinta harus menghadapi tekanan politik di tengah perubahan besar yang melanda Indonesia pada era 1960-an.
Pertemuan Soekarno dengan Naoko Nemoto di Jepang menjadi awal perjalanan yang kemudian mengubah kehidupan perempuan asal Negeri Sakura tersebut. Setelah menikah dengan Presiden pertama Republik Indonesia itu, Naoko mendapat nama Indonesia, Ratna Sari Dewi, dan menjalani kehidupan sebagai bagian dari keluarga Istana.
Namun, di balik kemewahan dan sorotan publik, perjalanan cinta mereka diwarnai berbagai tantangan, mulai dari perbedaan budaya hingga gejolak politik yang berujung pada berakhirnya kekuasaan Soekarno.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Hotel di Blitar untuk Liburan Keluarga
Pertemuan Berawal dari Kunjungan Diplomatik ke Jepang
Kisah ini bermula pada 1959 ketika Soekarno melakukan kunjungan diplomatik ke Jepang. Dalam sebuah jamuan resmi, ia bertemu dengan Naoko Nemoto, seorang perempuan muda yang saat itu dikenal sebagai model dan entertainer.
Percakapan keduanya disebut berlangsung hangat, membahas berbagai hal mulai dari seni, budaya, hingga hubungan Indonesia dan Jepang. Pertemuan tersebut menjadi awal kedekatan yang kemudian berkembang menjadi hubungan asmara.
Naoko kemudian dipersunting Soekarno dan memperoleh nama Indonesia, Ratna Sari Dewi.
Menjalani Kehidupan sebagai Istri Presiden
Setelah menjadi istri Presiden Soekarno, Ratna Sari Dewi harus beradaptasi dengan kehidupan baru yang jauh berbeda dari Jepang.
Sebagai ibu negara pendamping Presiden, ia tidak hanya menghadapi sorotan publik, tetapi juga harus menyesuaikan diri dengan budaya Indonesia dan dinamika politik yang semakin kompleks.
Di balik kehidupan yang tampak mewah, Dewi juga menghadapi tekanan sebagai sosok yang berasal dari luar negeri dan menjadi bagian dari lingkaran kekuasaan Indonesia.
Kehadiran Ratna Sari Dewi Tuai Beragam Tanggapan
Keberadaan Ratna Sari Dewi di Indonesia memunculkan berbagai reaksi.
Sebagian masyarakat melihatnya sebagai simbol eratnya hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang setelah Perang Dunia II.
Namun, ada pula pihak yang memandang kehadiran Dewi dengan penuh kecurigaan. Di tengah situasi politik yang sensitif, muncul berbagai spekulasi yang mengaitkan pernikahan tersebut dengan kepentingan politik maupun hubungan ekonomi kedua negara.
Meski demikian, berbagai anggapan tersebut tidak pernah terbukti secara resmi dan lebih banyak berkembang sebagai opini politik pada masa itu.
Soekarno sendiri tetap menunjukkan dukungannya kepada Ratna Sari Dewi dan menegaskan bahwa hubungan mereka dilandasi rasa saling mencintai.
Gejolak Politik Mengubah Segalanya
Memasuki pertengahan 1960-an, situasi politik Indonesia semakin memanas.
Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) menjadi titik balik yang mengubah arah pemerintahan Indonesia. Setelah peristiwa tersebut, posisi politik Soekarno terus melemah hingga akhirnya kekuasaan beralih kepada pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto.
Dalam situasi tersebut, Ratna Sari Dewi ikut merasakan dampaknya.
Sebagai istri Soekarno, ia berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, ia tetap mendampingi suaminya, namun di sisi lain kondisi politik membuat keberadaannya di Indonesia semakin tidak mudah.
Memilih Kembali ke Jepang
Seiring semakin berkurangnya pengaruh politik Soekarno, Ratna Sari Dewi akhirnya memutuskan meninggalkan Indonesia dan kembali ke Jepang.
Keputusan tersebut menjadi salah satu momen paling emosional dalam perjalanan hidupnya.
Meski harus berpisah secara fisik dengan Indonesia, Dewi tetap mengenang Soekarno sebagai sosok yang sangat berarti dalam hidupnya.
Dalam berbagai kesempatan setelah wafatnya Soekarno pada 1970, Ratna Sari Dewi kerap menceritakan pengalaman hidup bersama Presiden pertama RI tersebut melalui wawancara maupun buku autobiografi yang ia terbitkan.
Warisan Sejarah yang Masih Dikenang
Hingga kini, kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi masih menjadi bagian menarik dari sejarah Indonesia.
Hubungan keduanya tidak hanya dipandang sebagai kisah romansa, tetapi juga mencerminkan bagaimana kehidupan pribadi seorang pemimpin negara dapat bersinggungan langsung dengan dinamika politik nasional maupun internasional.
Meski perjalanan mereka berakhir di tengah perubahan besar dalam sejarah Indonesia, kisah Soekarno dan Ratna Sari Dewi tetap dikenang sebagai salah satu cerita cinta paling ikonik yang pernah mewarnai perjalanan bangsa.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Politika Historia