Cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi, Kisah Romantis yang Bertahan di Tengah Gejolak Politik Indonesia

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 17:20 WIB
Kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi menjadi salah satu romansa paling ikonik dalam sejarah Indonesia yang diuji gejolak politik era 1960-an.(Pinterest)
Kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi menjadi salah satu romansa paling ikonik dalam sejarah Indonesia yang diuji gejolak politik era 1960-an.(Pinterest)

JAKARTA – Nama Soekarno dan Ratna Sari Dewi hingga kini masih menjadi bagian dari kisah sejarah Indonesia yang penuh warna. Hubungan keduanya bukan sekadar cerita cinta seorang presiden dengan perempuan asal Jepang, tetapi juga menggambarkan bagaimana romansa harus menghadapi tekanan politik, perubahan kekuasaan, hingga perpisahan yang tak terhindarkan.

Ratna Sari Dewi, yang lahir dengan nama Naoko Nemoto, bertemu Soekarno saat Presiden pertama Republik Indonesia itu melakukan kunjungan resmi ke Jepang pada 1959. Pertemuan tersebut menjadi awal kisah cinta yang kemudian menarik perhatian dunia internasional karena mempertemukan dua sosok dari latar belakang budaya yang berbeda.

Di balik kisah romantis itu, perjalanan mereka juga diwarnai berbagai tantangan, mulai dari sorotan publik hingga pergolakan politik yang mengubah sejarah Indonesia pada pertengahan 1960-an.

Pertemuan Bersejarah di Tokyo

Kisah cinta Soekarno dan Naoko Nemoto bermula dalam sebuah jamuan resmi di Tokyo pada 1959.

Saat itu, Soekarno tengah menjalankan agenda diplomatik ke Jepang. Dalam acara tersebut, ia berkenalan dengan Naoko Nemoto yang dikenal sebagai model sekaligus entertainer muda.

Percakapan keduanya berkembang dari topik seni, budaya, hingga hubungan Indonesia dan Jepang. Kedekatan itu kemudian berlanjut hingga akhirnya Naoko dipersunting Soekarno dan diberi nama Indonesia, Ratna Sari Dewi.

Pernikahan tersebut menjadikan Dewi sebagai salah satu istri Presiden Soekarno sekaligus membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Menyesuaikan Diri dengan Kehidupan di Indonesia

Setelah menetap di Indonesia, Ratna Sari Dewi harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat berbeda dari Jepang.

Ia memasuki kehidupan Istana yang penuh aturan sekaligus menjadi perhatian masyarakat. Selain belajar budaya Indonesia, Dewi juga harus memahami dinamika politik yang kala itu sedang berkembang.

Sebagai pendamping kepala negara, setiap langkahnya menjadi sorotan media maupun publik.

Di balik kehidupan yang tampak glamor, Dewi menghadapi tekanan besar sebagai perempuan asing yang berada di pusat pemerintahan Indonesia.

Pernikahan yang Tak Lepas dari Kontroversi

Hubungan Soekarno dan Ratna Sari Dewi juga memunculkan beragam tanggapan.

Sebagian kalangan memandang pernikahan tersebut sebagai simbol semakin eratnya hubungan Indonesia dan Jepang pasca-Perang Dunia II.

Namun, muncul pula berbagai spekulasi yang mengaitkan keberadaan Dewi dengan kepentingan diplomasi maupun ekonomi Jepang di Indonesia. Klaim-klaim tersebut tidak pernah dibuktikan secara resmi dan lebih banyak berkembang sebagai opini politik pada masa itu.

Di tengah berbagai pandangan tersebut, Soekarno tetap menunjukkan dukungan kepada Ratna Sari Dewi dan tidak pernah menyembunyikan hubungan mereka.

Gejolak Politik Mengubah Jalan Hidup

Kebahagiaan pasangan ini mulai diuji ketika situasi politik Indonesia memasuki masa penuh gejolak.

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) menjadi titik balik yang melemahkan posisi politik Soekarno. Dalam beberapa tahun berikutnya, kekuasaan Presiden pertama RI itu perlahan beralih kepada pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto.

Perubahan politik tersebut berdampak langsung pada kehidupan Ratna Sari Dewi.

Sebagai istri Soekarno, ia berada dalam situasi yang tidak mudah. Kondisi keamanan dan perubahan politik membuat keberadaannya di Indonesia semakin sulit.

Memilih Meninggalkan Indonesia

Di tengah perubahan besar tersebut, Ratna Sari Dewi akhirnya memilih kembali ke Jepang.

Keputusan itu menjadi salah satu bab paling emosional dalam kisah hidupnya karena harus meninggalkan Indonesia dan berpisah dari kehidupan yang telah ia bangun bersama Soekarno.

Meski demikian, Dewi tetap menyimpan rasa hormat dan kasih sayang kepada Soekarno. Setelah Presiden pertama RI itu wafat pada 1970, ia beberapa kali membagikan kenangan mereka melalui wawancara dan buku autobiografi.

Kisah yang Tetap Hidup dalam Sejarah

Hingga kini, kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi masih sering dibahas dalam berbagai buku sejarah maupun dokumenter.

Hubungan mereka dipandang sebagai salah satu romansa paling ikonik dalam sejarah Indonesia karena memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi seorang pemimpin bangsa tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik yang sedang berlangsung.

Meski perjalanan cinta mereka harus berakhir akibat perubahan zaman, kisah Soekarno dan Ratna Sari Dewi tetap dikenang sebagai simbol hubungan lintas budaya yang bertahan di tengah badai sejarah.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Politika Historia
Ratna Sari Dewi Naoko Nemoto kisah cinta Soekarno soekarno sejarah indonesia