Kisah Cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi, Berawal di Jepang hingga Berakhir di Tengah Badai Politik Indonesia

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 17:25 WIB
Kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi bermula dari pertemuan di Jepang hingga diuji gejolak politik Indonesia setelah peristiwa G30S 1965.(Pinterest)
Kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi bermula dari pertemuan di Jepang hingga diuji gejolak politik Indonesia setelah peristiwa G30S 1965.(Pinterest)

JAKARTA – Perjalanan cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi menjadi salah satu kisah paling menarik dalam sejarah Indonesia modern. Hubungan Presiden pertama Republik Indonesia dengan perempuan asal Jepang bernama Naoko Nemoto itu bukan hanya menghadirkan cerita romantis, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi seorang pemimpin dapat dipengaruhi oleh dinamika politik nasional.

Pertemuan mereka yang bermula dalam kunjungan diplomatik Soekarno ke Jepang berkembang menjadi hubungan yang serius hingga berujung pernikahan. Naoko Nemoto kemudian dikenal masyarakat Indonesia dengan nama Ratna Sari Dewi dan menjadi salah satu istri Presiden Soekarno.

Namun, perjalanan rumah tangga mereka berlangsung di tengah situasi politik yang semakin memanas. Perubahan besar yang terjadi pada pertengahan 1960-an akhirnya membuat kisah cinta tersebut harus menghadapi ujian yang tidak mudah.

Baca Juga: Hayden Panettiere Meninggal Dunia di Usia 36 Tahun, Riwayat Kecanduan Kembali Jadi Sorotan

Awal Pertemuan dalam Kunjungan Diplomatik

Kisah Soekarno dan Naoko Nemoto dimulai pada 1959 ketika Presiden Soekarno melakukan kunjungan resmi ke Jepang.

Dalam sebuah acara kenegaraan, Soekarno bertemu dengan Naoko Nemoto yang saat itu dikenal sebagai model dan entertainer muda. Pertemuan tersebut berkembang menjadi perkenalan yang semakin intens.

Keduanya disebut memiliki ketertarikan yang sama terhadap seni, budaya, serta hubungan internasional. Dari sanalah hubungan mereka semakin dekat hingga akhirnya Naoko menerima pinangan Soekarno.

Setelah menikah, Naoko memperoleh nama Indonesia, Ratna Sari Dewi.

Menjalani Kehidupan Baru di Indonesia

Sebagai istri Presiden, Ratna Sari Dewi harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di Indonesia.

Ia tidak hanya belajar budaya Indonesia, tetapi juga menjalani kehidupan di lingkungan Istana Kepresidenan yang penuh protokol dan sorotan publik.

Sebagai perempuan yang berasal dari Jepang, Dewi menjadi perhatian masyarakat. Penampilannya yang elegan dan kemampuannya beradaptasi membuatnya dikenal luas, meski tidak lepas dari berbagai komentar dan penilaian publik.

Pernikahan yang Mengundang Berbagai Pandangan

Hubungan Soekarno dan Ratna Sari Dewi sejak awal memunculkan beragam respons.

Sebagian masyarakat melihat pernikahan tersebut sebagai lambang persahabatan Indonesia dan Jepang yang semakin erat setelah hubungan kedua negara membaik pasca-Perang Dunia II.

Namun, terdapat pula berbagai spekulasi politik yang berkembang pada masa itu. Ada pihak yang mengaitkan kehadiran Ratna Sari Dewi dengan kepentingan diplomatik maupun ekonomi Jepang. Klaim tersebut tidak pernah dibuktikan secara resmi dan lebih banyak muncul sebagai opini politik yang berkembang di tengah situasi nasional saat itu.

Soekarno sendiri tetap menunjukkan bahwa hubungan mereka didasari rasa saling mencintai.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Hotel di Blitar untuk Liburan Keluarga

Gejolak Politik Mengubah Kehidupan

Situasi mulai berubah setelah Indonesia memasuki masa penuh gejolak pada pertengahan 1960-an.

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) menjadi awal perubahan besar dalam peta politik nasional. Kekuasaan Soekarno perlahan melemah hingga akhirnya digantikan oleh pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Soeharto.

Perubahan tersebut membawa dampak besar bagi kehidupan keluarga Soekarno, termasuk Ratna Sari Dewi.

Sebagai istri Presiden yang tengah kehilangan pengaruh politik, Dewi menghadapi situasi yang semakin sulit dan penuh ketidakpastian.

Meninggalkan Indonesia dengan Berat Hati

Dalam kondisi politik yang terus berubah, Ratna Sari Dewi akhirnya memilih meninggalkan Indonesia dan kembali ke Jepang.

Keputusan itu menjadi salah satu momen paling emosional dalam perjalanan hidupnya. Meski harus meninggalkan Indonesia, Dewi tetap menyimpan kenangan mendalam tentang Soekarno.

Setelah Presiden pertama RI itu wafat pada 1970, Ratna Sari Dewi beberapa kali mengenang sosok suaminya melalui buku autobiografi, wawancara, maupun berbagai kegiatan yang membahas sejarah Indonesia.

Ia tetap menunjukkan penghormatan kepada Soekarno sebagai sosok yang memiliki peran besar dalam hidupnya.

Warisan Cinta yang Tetap Dikenang

Hingga kini, kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi masih menjadi salah satu cerita sejarah yang sering dibahas.

Hubungan mereka tidak hanya menggambarkan kisah asmara lintas budaya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana perubahan politik dapat memengaruhi kehidupan pribadi seseorang.

Di tengah berbagai dinamika yang pernah terjadi, perjalanan cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah Indonesia yang penuh warna. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa di balik perjalanan seorang pemimpin negara, terdapat sisi kemanusiaan yang juga menghadapi cinta, pengorbanan, dan kehilangan.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Politika Historia
Ratna Sari Dewi Naoko Nemoto soekarno G30S 1965 sejarah indonesia