Soekarno dan Ratna Sari Dewi, Kisah Cinta Lintas Negara yang Bertahan di Tengah Badai Sejarah Indonesia

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 17:30 WIB
Kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi menjadi romansa lintas negara yang diuji gejolak politik Indonesia hingga perubahan kekuasaan era 1960-an.(Pinterest)
Kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi menjadi romansa lintas negara yang diuji gejolak politik Indonesia hingga perubahan kekuasaan era 1960-an.(Pinterest)

JAKARTA – Di balik kiprah Soekarno sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, tersimpan kisah cinta yang hingga kini masih menarik perhatian publik. Hubungannya dengan Ratna Sari Dewi, perempuan asal Jepang yang lahir dengan nama Naoko Nemoto, menjadi salah satu romansa paling ikonik dalam sejarah Indonesia.

Kisah mereka bermula dari sebuah pertemuan saat kunjungan diplomatik Soekarno ke Jepang pada akhir 1950-an. Hubungan yang awalnya berawal dari perkenalan kemudian berkembang menjadi pernikahan yang menyatukan dua budaya berbeda. Namun, perjalanan cinta tersebut berlangsung di tengah situasi politik Indonesia yang terus bergejolak hingga akhirnya memengaruhi kehidupan pribadi keduanya.

Meski harus berpisah akibat perubahan politik, kisah Soekarno dan Ratna Sari Dewi tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah yang memperlihatkan sisi manusiawi seorang pemimpin bangsa.

Baca Juga: Hayden Panettiere Meninggal Dunia di Usia 36 Tahun, Riwayat Kecanduan Kembali Jadi Sorotan

Pertemuan Soekarno dan Naoko Nemoto di Jepang

Perjalanan cinta ini bermula pada 1959 ketika Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang.

Dalam sebuah jamuan resmi, Presiden Soekarno bertemu dengan Naoko Nemoto, seorang perempuan muda yang dikenal sebagai model sekaligus entertainer. Pertemuan tersebut menjadi awal hubungan yang semakin dekat.

Keduanya banyak berbincang mengenai seni, budaya, hingga hubungan Indonesia dan Jepang. Kedekatan itu kemudian berkembang menjadi kisah asmara yang berujung pada pernikahan.

Setelah resmi menjadi istri Soekarno, Naoko Nemoto memperoleh nama Indonesia, Ratna Sari Dewi.

Menjadi Bagian dari Kehidupan Istana

Sebagai istri Presiden, Ratna Sari Dewi memasuki kehidupan yang sama sekali baru.

Ia harus menyesuaikan diri dengan budaya Indonesia sekaligus menjalani berbagai aktivitas kenegaraan yang melekat pada lingkungan Istana Kepresidenan.

Selain menikmati berbagai fasilitas sebagai keluarga presiden, Dewi juga menghadapi tekanan besar karena setiap aktivitasnya menjadi perhatian publik.

Sebagai perempuan asing di lingkungan politik Indonesia, ia dituntut mampu beradaptasi dengan cepat di tengah situasi nasional yang dinamis.

Kehadiran Ratna Sari Dewi Memunculkan Beragam Respons

Pernikahan Soekarno dan Ratna Sari Dewi menuai berbagai tanggapan.

Sebagian masyarakat menilai hubungan tersebut menjadi simbol semakin eratnya hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang.

Namun, pada saat yang sama muncul pula sejumlah spekulasi yang mengaitkan keberadaan Ratna Sari Dewi dengan kepentingan politik maupun ekonomi Jepang di Indonesia. Hingga kini tidak ada bukti resmi yang menguatkan anggapan tersebut sehingga lebih dikenal sebagai bagian dari dinamika opini politik pada masa itu.

Terlepas dari berbagai pandangan tersebut, Soekarno tetap menunjukkan kedekatan dan dukungannya kepada Ratna Sari Dewi.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Hotel di Blitar untuk Liburan Keluarga

Gejolak Politik Mengubah Segalanya

Memasuki pertengahan 1960-an, kondisi politik Indonesia mengalami perubahan besar.

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) menjadi titik balik yang melemahkan posisi Soekarno sebagai kepala negara. Dalam beberapa tahun berikutnya, kekuasaan beralih kepada pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Soeharto.

Perubahan politik tersebut membawa dampak langsung terhadap kehidupan keluarga Soekarno.

Ratna Sari Dewi berada dalam situasi yang semakin sulit. Selain menghadapi tekanan politik, ia juga harus mempertimbangkan keselamatan dirinya di tengah perubahan kekuasaan yang berlangsung cepat.

Memilih Kembali ke Jepang

Di tengah kondisi yang tidak menentu, Ratna Sari Dewi akhirnya memutuskan kembali ke Jepang.

Keputusan tersebut menjadi langkah berat karena ia harus meninggalkan Indonesia, negara yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Meski tinggal di Jepang, Ratna Sari Dewi tetap mengenang Soekarno. Setelah Presiden pertama RI itu wafat pada 1970, ia beberapa kali membagikan kisah kehidupan mereka melalui wawancara, buku autobiografi, dan berbagai forum internasional.

Ia juga tetap menyampaikan rasa hormat kepada Soekarno sebagai sosok yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan hidupnya.

Warisan Sejarah yang Terus Dikenang

Hingga saat ini, kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi masih menjadi salah satu bagian menarik dalam sejarah Indonesia.

Hubungan mereka tidak hanya menggambarkan romansa lintas budaya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana perubahan politik dapat memengaruhi kehidupan pribadi seorang pemimpin negara beserta keluarganya.

Meski perjalanan cinta mereka harus berakhir di tengah badai sejarah, nama Soekarno dan Ratna Sari Dewi tetap dikenang sebagai pasangan yang kisahnya melampaui batas negara, budaya, dan zaman. Cerita mereka menjadi pengingat bahwa di balik dinamika politik, selalu ada sisi kemanusiaan yang turut membentuk perjalanan sejarah sebuah bangsa.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Politika Historia
Ratna Sari Dewi Naoko Nemoto kisah cinta Soekarno soekarno sejarah indonesia