Kisah Cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi: Romansa Lintas Negara yang Bertahan di Tengah Gejolak Politik Indonesia

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 17:35 WIB
Kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi menjadi romansa bersejarah yang bertahan di tengah gejolak politik Indonesia hingga masih dikenang sampai sekarang.(Pinterest)
Kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi menjadi romansa bersejarah yang bertahan di tengah gejolak politik Indonesia hingga masih dikenang sampai sekarang.(Pinterest)

JAKARTA – Kisah cinta Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dengan Ratna Sari Dewi atau Naoko Nemoto masih menjadi salah satu cerita paling menarik dalam sejarah Indonesia. Hubungan keduanya bukan hanya menghadirkan kisah asmara lintas negara, tetapi juga menggambarkan bagaimana cinta harus berhadapan dengan perubahan politik yang dramatis pada era 1960-an.

Pertemuan Soekarno dan Ratna Sari Dewi menjadi sorotan karena berlangsung di tengah hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang yang terus berkembang. Di balik kemewahan kehidupan istana, hubungan mereka juga diwarnai berbagai tantangan, mulai dari sorotan publik hingga gejolak politik yang berujung pada berakhirnya kekuasaan Soekarno.

Hingga kini, kisah cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi masih sering diperbincangkan karena dianggap sebagai salah satu romansa paling ikonik dalam sejarah politik Indonesia. Perjalanan keduanya menunjukkan bahwa kehidupan pribadi seorang pemimpin negara tidak pernah benar-benar terlepas dari dinamika politik.

Baca Juga: Hayden Panettiere Meninggal Dunia di Usia 36 Tahun, Riwayat Kecanduan Kembali Jadi Sorotan

Pertemuan Soekarno dan Naoko Nemoto di Jepang

Pada 1959, Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang sebagai bagian dari agenda diplomatik Indonesia. Dalam sebuah jamuan resmi, ia bertemu dengan Naoko Nemoto, perempuan muda asal Jepang yang saat itu dikenal sebagai model dan entertainer.

Pertemuan tersebut berkembang menjadi hubungan yang semakin dekat. Soekarno dikisahkan terpikat oleh kecantikan sekaligus kecerdasan Naoko. Percakapan keduanya tidak hanya membahas seni dan budaya, tetapi juga perkembangan hubungan Indonesia dan Jepang.

Setelah hubungan mereka semakin serius, Naoko kemudian memeluk Islam dan memperoleh nama Indonesia, Ratna Sari Dewi. Ia resmi menjadi salah satu istri Presiden Soekarno dan mulai menjalani kehidupan baru di Indonesia.

Menjadi Ibu Negara dengan Berbagai Tantangan

Kehidupan Ratna Sari Dewi di Indonesia tidak sepenuhnya berjalan mudah. Sebagai istri kepala negara, ia harus beradaptasi dengan budaya baru sekaligus menghadapi perhatian publik yang sangat besar.

Di sisi lain, kehadiran Dewi juga memunculkan beragam pandangan. Sebagian masyarakat melihatnya sebagai simbol eratnya hubungan Indonesia dan Jepang pasca-Perang Dunia II. Namun, ada pula pihak yang menilai kehadirannya memiliki dimensi politik di tengah meningkatnya hubungan ekonomi kedua negara.

Meski demikian, Soekarno tetap menunjukkan dukungan penuh kepada istrinya. Ia beberapa kali tampil bersama Dewi dalam berbagai acara resmi kenegaraan, memperlihatkan bahwa hubungan mereka bukan sekadar bagian dari diplomasi, melainkan juga hubungan pribadi yang kuat.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Hotel di Blitar untuk Liburan Keluarga

Gejolak Politik Mengubah Segalanya

Memasuki pertengahan dekade 1960-an, kondisi politik Indonesia berubah drastis. Ketegangan politik yang semakin meningkat mencapai puncaknya setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965.

Perubahan tersebut membuat posisi Soekarno sebagai presiden semakin melemah. Seiring bergesernya kekuasaan menuju pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto, berbagai orang yang berada di lingkaran dekat Soekarno turut merasakan dampaknya, termasuk Ratna Sari Dewi.

Dalam situasi tersebut, Dewi dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Ia tetap mendampingi Soekarno di tengah situasi politik yang tidak menentu, tetapi kondisi keamanan membuat masa depannya di Indonesia semakin sulit.

Pada akhirnya, Ratna Sari Dewi memutuskan meninggalkan Indonesia dan kembali ke Jepang. Keputusan itu menjadi akhir dari kebersamaan mereka secara fisik, meski hubungan emosional keduanya tetap dikenang hingga kini.

Warisan Sejarah yang Masih Dikenang

Setelah kejatuhan Soekarno, Ratna Sari Dewi tetap beberapa kali mengenang sosok suaminya melalui wawancara, buku, maupun berbagai kesempatan publik. Ia menceritakan kehidupan bersama Soekarno dari sudut pandang pribadi yang memperlihatkan sisi manusiawi sang proklamator.

Kisah mereka kemudian menjadi bagian dari sejarah Indonesia yang tidak hanya berbicara mengenai politik, tetapi juga mengenai hubungan antarmanusia di tengah perubahan zaman.

Banyak sejarawan menilai perjalanan cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi seorang pemimpin dapat dipengaruhi oleh dinamika politik nasional maupun internasional. Romansa mereka menjadi salah satu cerita yang terus menarik perhatian generasi baru untuk memahami sejarah Indonesia dari sudut pandang yang berbeda.

Hingga saat ini, nama Ratna Sari Dewi masih sering dikaitkan dengan warisan sejarah Soekarno. Kisah cinta mereka menjadi pengingat bahwa di balik berbagai peristiwa besar dalam sejarah bangsa, terdapat cerita tentang kesetiaan, pengorbanan, dan perjalanan hidup yang tidak pernah lepas dari perubahan zaman.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Politika Historia
Ratna Sari Dewi Naoko Nemoto kisah cinta Soekarno soekarno sejarah indonesia