BLITAR – Perjalanan Muzahidin, sosok di balik sound horek yang dikenal dengan nama Mas Bre, tidak langsung dimulai dari dunia audio. Sebelum membangun sound untuk karnaval, ia sempat menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari berjualan komputer hingga mengelola warnet.
Kini, bisnis sound yang dibangunnya berkembang dan mendapat tanggapan dari berbagai daerah, termasuk wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Pernah Jualan Komputer dan Bangun Warnet
Muzahidin merupakan warga asli Blitar. Ia lahir dan menghabiskan masa kecilnya di wilayah Sumbersari, Udanawu. Pendidikan terakhirnya ditempuh di SMK Negeri 1 Blitar dengan jurusan elektronik.
Baca Juga: 5 HP Bekas 2-3 Jutaan dengan Performa Kencang dan Kamera Cakep, Ada Xiaomi hingga Samsung
Latar belakang tersebut kemudian cukup membantu ketika ia mulai berkecimpung di dunia komputer dan audio.
Sekitar 2010, Muzahidin pernah bekerja menjual komputer bekas di sebuah toko di wilayah Tulungagung. Setelah sekitar delapan bulan bekerja, ia memilih keluar dan melanjutkan usaha secara mandiri dari rumah.
Tidak berhenti di sana, ia kemudian membangun sebuah warnet bernama Aldonet. Usaha tersebut berjalan sekitar 2010 hingga 2014, ketika bisnis warnet masih cukup diminati karena penggunaan internet melalui telepon seluler belum seperti sekarang.
Baca Juga: Mila Nurwati dan Valen Akbar Sering Dijodohkan Fans, Begini Tanggapan Keduanya
Setelah perkembangan zaman mulai mengubah bisnis warnet, Muzahidin kemudian mencoba berbagai aktivitas bisnis online dan trading hingga sekitar 2018.
Mulai Tertarik Dunia Sound Horek dari Karnaval
Ketertarikannya terhadap sound horek muncul setelah ia sering melihat karnaval di wilayah Malang. Saat itu, penggunaan truk dengan perangkat sound berukuran besar sudah menjadi bagian dari kemeriahan karnaval.
Dari situlah Muzahidin melihat adanya peluang.
Sekitar 2018, ia mulai membangun sound sendiri. Pada awalnya, perangkat yang dimiliki masih sekitar delapan subwoofer. Konfigurasi tersebut kemudian berkembang menjadi sekitar 12 subwoofer.
Ia mengaku sejak awal memang ingin mengarahkan sound tersebut untuk kebutuhan karnaval, bukan untuk pertunjukan terop atau hajatan pada umumnya.
Baca Juga: Kedekatan Mila dan Valen Bikin Fans Baper, dari Main Game hingga Gelang Pasangan
“Dari awal memang saya khususkan karnaval,” ujarnya dalam wawancara.
Menurutnya, karnaval sudah memiliki pasar tersendiri dan semakin berkembang. Ia kemudian mencoba masuk dengan konsep audio dan pemasaran yang berbeda.
Job Mulai Ramai pada 2019
Setelah melakukan promosi dan mengikuti beberapa kegiatan karnaval, Muzahidin mulai mendapatkan job berbayar. Sekitar 2019, ia mulai rutin menerima tanggapan.
Pada masa awal, tarif yang diterima masih relatif rendah. Untuk konfigurasi sekitar 12 subwoofer, ia menyebut pernah mendapatkan bayaran sekitar Rp8 juta untuk wilayah Malang.
Seiring semakin dikenal, nilai tanggapannya ikut meningkat. Dalam wawancara tersebut, ia menyebut tarif untuk wilayah Malang saat ini bisa berada di kisaran Rp24 juta hingga Rp25 juta, dengan jumlah dan konfigurasi sound yang menyesuaikan kebutuhan acara.
Perkembangan tersebut tidak lepas dari investasi perangkat yang terus dilakukan.
Muzahidin mengatakan dirinya sudah mulai membeli berbagai komponen sound bahkan sebelum mendapatkan banyak job. Perangkat tersebut kemudian dirakit dan diuji secara bertahap hingga membentuk sistem sound yang digunakan untuk karnaval.
Sempat Terhenti karena Pandemi
Perkembangan bisnis sound horek yang mulai berjalan pada 2019 kemudian menghadapi tantangan besar ketika pandemi COVID-19 melanda pada 2020.
Kegiatan karnaval dan berbagai acara keramaian praktis berhenti sehingga aktivitas job juga ikut terdampak.
Baca Juga: 19.602 Warga Kota Blitar Dapat Beras Bantuan, Ini Bedanya dengan Penyaluran Sebelumnya
Setelah pandemi mereda, kegiatan masyarakat kembali berjalan. Karnaval kemudian kembali ramai dan menjadi salah satu momentum penting bagi perkembangan bisnis sound horek.
Menurut Muzahidin, sekitar 2023 aktivitas karnaval mulai kembali ramai. Kondisi tersebut membuat permintaan sound kembali meningkat.
Kini Merambah Jawa Tengah
Tidak hanya beroperasi di sekitar Blitar dan Malang, sound milik Muzahidin kini juga menerima tanggapan dari berbagai daerah.
Ia menyebut Jawa Tengah sebagai salah satu wilayah yang cukup sering menjadi tujuan job belakangan ini. Konfigurasi sound yang digunakan dapat menyesuaikan kebutuhan acara, mulai dari sekitar 12 hingga 16 subwoofer.
Sementara untuk wilayah Malang, konfigurasi bahkan dapat mencapai 24 subwoofer ketika musim karnaval sedang ramai.
Menurutnya, periode Agustus hingga November menjadi salah satu musim paling sibuk karena banyak daerah menggelar karnaval dalam rangkaian perayaan kemerdekaan.
Memilih Fokus pada Karnaval
Meski memiliki perangkat audio dalam jumlah besar, Muzahidin tidak mengambil semua jenis acara.
Ia mengatakan masih memilih untuk fokus pada karnaval dan tidak menerima sebagian besar tanggapan terop atau hajatan kecil. Menurutnya, keputusan tersebut juga memberikan kesempatan kepada pelaku usaha sound lain untuk mendapatkan pekerjaan.
Baca Juga: Enam Kepala OPD Kota Blitar Resmi Dilantik, Sekda dan Direktur RSUD Masih Menunggu
“Rezeki dibagi, berjalan pada posisinya masing-masing,” ujarnya.
Bagi Muzahidin, perkembangan bisnis sound horek yang dijalani selama bertahun-tahun merupakan hasil dari keberanian melihat peluang, melakukan investasi perangkat, serta membangun karakter sound yang berbeda.
Dari pengalaman berjualan komputer, mengelola warnet, hingga akhirnya terjun ke dunia audio, perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah usaha dapat berkembang dari hobi dan melihat peluang menjadi bisnis sound horek yang memiliki pasar hingga lintas provinsi.
Source YouTube Radar Blitar TV
Editor : Valentyo Samuel Putra Widodo