JAKARTA - Hari baik membeli kendaraan menurut primbon Jawa menjadi salah satu perhitungan yang dipercaya sebagian masyarakat dalam tradisi Jawa. Berdasarkan pengalaman yang disampaikan dalam sebuah video, pemilihan hari ketika membeli kendaraan bermesin, baik roda dua maupun roda empat, disebut berkaitan dengan harapan agar kendaraan awet dan pemilik maupun pengendaranya selamat.
Dalam video tersebut, Bataji membagikan pengalaman mengenai tata cara memilih hari untuk membeli kendaraan bermesin. Perhitungan yang disampaikan berkaitan dengan adat dan perhitungan Jawa, terutama dengan melihat jumlah neptu hari dan pasaran.
Menurut penjelasan Bataji, tujuan memilih hari pembelian kendaraan bukan hanya berkaitan dengan kendaraan itu sendiri. Ada pula harapan agar kendaraan tidak mudah mengalami kerusakan serta dapat digunakan dengan aman oleh pemilik maupun pengendaranya.
Salah satu hal yang ditekankan adalah memilih hari dengan jumlah perhitungan yang genap. Bataji memberikan contoh Minggu Legi. Menurut perhitungan yang disampaikannya, Minggu memiliki nilai lima, sedangkan Legi juga lima. Jika dijumlahkan, hasilnya 10 atau genap.
Hari dengan jumlah genap tersebut disebut dalam video sebagai pilihan yang dipercaya dapat membawa keselamatan bagi pemilik dan pengendara kendaraan. Perhitungan ini menjadi bagian dari pengalaman dan pengetahuan adat Jawa yang dibagikan oleh Bataji kepada penonton.
Baca Juga: Cara Menentukan Hari Baik Usaha Berdasarkan Weton dengan Hitungan Neptu
Jumat Disebut Sebaiknya Dihindari
Selain mencari hari dengan jumlah genap, ada satu hari yang secara khusus disebut perlu dihindari ketika membeli kendaraan bermesin, yakni Jumat.
Bataji menjelaskan bahwa pembelian kendaraan pada Jumat menurut pengalaman dan perhitungan yang disampaikannya dipercaya dapat membuat kendaraan lebih mudah mengalami kerusakan.
"Kalau hari Jumat ini seringkali yang terjadi adalah kendaraan itu terlalu mudah untuk rusak," kata Bataji dalam video tersebut.
Kerusakan yang dimaksud tidak hanya disebut berkaitan dengan mesin. Dalam penjelasannya, ia menyebut kendaraan bisa mengalami kerusakan pada bagian lainnya.
Selain Jumat, pembeli kendaraan juga diminta memperhatikan hari yang disebut sebagai hari naas atau hari terlarang. Dalam penjelasan tersebut, salah satu pertimbangannya berkaitan dengan hari meninggalnya orang tua sendiri maupun mertua.
Bataji juga menyebut adanya istilah sangaran tahun dalam adat Jawa. Dalam penjelasan video, salah satu contoh yang disebut adalah tanggal 1 Suro. Ada pula istilah sangaran tertentu yang dikaitkan dengan perhitungan waktu dalam kalender Jawa.
Karena itu, pemilihan waktu pembelian kendaraan menurut perhitungan yang dibagikan tidak hanya melihat apakah jumlah neptunya genap atau ganjil. Hari naas, hari yang dianggap terlarang, serta Jumat juga disebut perlu diperhatikan.
Baca Juga: Cara Menentukan Hari Baik Usaha Berdasarkan Weton dengan Hitungan Neptu
Perhitungan Dikembalikan kepada Kepercayaan Masing-Masing
Bataji menegaskan bahwa informasi tersebut merupakan pengalaman atau "tukar kawruh" yang dibagikan kepada masyarakat. Ia tidak memaksakan penonton untuk mengikuti perhitungan tersebut ketika hendak membeli kendaraan.
Menurutnya, siapa pun tetap memiliki kebebasan untuk memilih hari pembelian kendaraan sesuai dengan pertimbangannya masing-masing. Ia hanya membagikan pengalaman mengenai perhitungan Jawa yang diyakininya.
Bagi masyarakat yang menggunakan perhitungan tradisional Jawa, informasi mengenai hari baik membeli kendaraan menurut primbon Jawa tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan sebelum melakukan pembelian.
Perhitungan yang disampaikan dalam video terutama menekankan pemilihan hari dengan jumlah genap, sekaligus menghindari Jumat serta hari yang dianggap naas atau terlarang. Tujuan yang disebut adalah mendapatkan keselamatan bagi kendaraan, pemilik, dan pengendaranya.
Pada akhirnya, penentuan hari membeli kendaraan berdasarkan primbon merupakan bagian dari kepercayaan dan adat yang diyakini sebagian masyarakat. Bataji sendiri menyampaikan informasi tersebut sebagai pengalaman, sehingga pilihan untuk menggunakannya kembali kepada masing-masing orang.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Mbah Tarji