BLITAR KAWENTAR - Kopi atau matcha? Pertanyaan tersebut sekilas terdengar sederhana karena jawabannya dianggap hanya bergantung pada selera. Namun, di tengah kehidupan generasi Z yang semakin lekat dengan media sosial, pilihan minuman ternyata dapat memiliki makna yang jauh lebih luas. Matcha maupun kopi kini tidak hanya dikonsumsi karena rasa, tetapi juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup, citra diri, hingga simbol status sosial.
Bagi Gen Z, matcha bukan sekadar minuman berwarna hijau. Begitu pula kopi yang tidak selalu hanya dipandang sebagai minuman berwarna hitam. Keduanya telah menjadi bagian dari percakapan sosial yang berkembang di kehidupan sehari-hari maupun ruang digital.
Coffee shop, misalnya, kini bukan lagi sekadar tempat untuk membeli kopi. Tempat tersebut dapat menjadi ruang untuk bekerja, bersosialisasi, membangun jejaring, sekaligus menunjukkan gaya hidup. Sementara itu, matcha kerap hadir dengan tampilan menarik serta narasi mengenai kesehatan, wellness, self-care, dan kehidupan modern.
Fenomena tersebut dapat dilihat melalui Analisis Wacana Kritis Teun A. van Dijk, khususnya perspektif sosiokognitif. Dalam pandangan van Dijk, wacana tidak berdiri sendiri. Wacana memiliki hubungan dengan kognisi sosial dan struktur masyarakat.
Artinya, cara seseorang menampilkan dirinya dapat dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, keyakinan, nilai, hingga ideologi yang berkembang di lingkungan sosial. Dalam konteks ini, persoalannya bukan hanya mengapa Gen Z menyukai matcha, tetapi bagaimana minuman tersebut memperoleh makna sebagai simbol gaya hidup.
Di ruang digital, matcha sering ditempatkan dalam narasi mengenai hidup sehat, self-care, ketenangan, estetika, dan kehidupan modern. Representasi yang muncul secara berulang kemudian dapat membentuk hubungan tertentu dalam pikiran masyarakat.
Baca Juga: Nomade and Coffee Jadi Andalan Ahrian Festyananda Bertahan di Tengah Maraknya Kedai Kopi Kota Blitar
Seseorang tentu bisa meminum matcha karena memang menyukai rasanya. Namun, ketika minuman tersebut terus direpresentasikan sebagai bagian dari kehidupan yang sehat, modern, aesthetic, dan kekinian, muncul makna sosial tambahan terhadap orang yang mengonsumsinya.
Istilah seperti “matcha lover” pun berkembang dalam percakapan media sosial. Sebutan tersebut menunjukkan bahwa minuman dapat menjadi bagian dari identitas yang ingin ditampilkan seseorang kepada lingkungan sosialnya.
Konteks tempat minuman dikonsumsi juga dapat memengaruhi maknanya. Segelas matcha yang disajikan di warung sederhana tentu memiliki konteks sosial yang berbeda ketika disajikan di kedai yang dianggap eksklusif, menggunakan kemasan premium, serta berada dalam latar yang dirancang estetik.
Minumannya mungkin sama-sama matcha. Namun, representasi dan makna sosial yang melekat padanya dapat berbeda.
Dalam pemikiran van Dijk, hal tersebut menunjukkan bahwa wacana tidak hanya menggambarkan realitas sosial, tetapi juga dapat ikut membentuk cara masyarakat memahami realitas. Ketika suatu representasi terus diproduksi dan diulang, representasi tersebut dapat berubah menjadi pengetahuan sosial yang dianggap biasa bahkan alamiah.
Melalui perspektif Teun A. van Dijk, hubungan antara wacana, kognisi sosial, dan masyarakat menjadi penting untuk memahami fenomena tersebut. Wacana yang berulang dapat membentuk pengetahuan sosial. Pengetahuan itu kemudian memengaruhi cara seseorang memahami dunia dan pada akhirnya berhubungan kembali dengan praktik sosial.
Karena itu, kopi maupun matcha sebenarnya bukan sekadar minuman. Keduanya dapat menjadi bagian dari wacana yang membentuk cara Gen Z melihat gaya hidup, identitas, bahkan status sosial.
Menikmati kopi, menyukai matcha, atau mengikuti tren tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, konsumsi sebaiknya tidak dilakukan semata-mata agar seseorang dianggap keren atau berkelas.
Pada akhirnya, status sosial tidak seharusnya ditentukan oleh apa yang ada di dalam gelas. Harga diri juga tidak pernah seharusnya ditentukan oleh harga minuman yang dipesan. Sebab, yang paling penting bukan apa yang diminum, melainkan apakah seseorang masih menjadi dirinya sendiri setelah gelas itu diletakkan di atas meja.
Penulis: Muhammad Aditya Wisnu Wardana (Mahasiswa S-2 Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga)
Editor : Azahra Meilisani Salma