JAKARTA - Harga sewa sound horeg untuk sebuah acara ternyata bisa mencapai puluhan juta rupiah. Mas Bre, pemilik Brewo Audio asal Blitar, Jawa Timur, menyebut tarif terendah yang diterapkan saat ini berada di kisaran Rp30 juta sampai Rp35 juta untuk wilayah Jawa Timur.
Nominal tersebut merupakan tarif paling rendah untuk membawa sound ke lokasi yang masih dianggap dekat. Blitar dan Malang disebut masuk kategori wilayah terdekat. Sementara untuk daerah yang lebih jauh seperti Pasuruan dan Mojokerto, tarif dapat berbeda karena adanya tambahan pertimbangan transportasi.
Sound horeg dalam skala besar juga membutuhkan modal yang tidak sedikit. Mas Bre mengungkapkan, nilai satu paket sound beserta truknya bisa mencapai lebih dari Rp1 miliar. Angka tersebut menggambarkan besarnya investasi di balik bisnis penyewaan perangkat audio yang kini berkembang di sejumlah daerah.
Baca Juga: Tabel KUR BNI 2026 Plafon Rp10 Juta hingga Rp500 Juta, Cek Tenor dan Syaratnya
Berawal dari Sound Enam Sap
Bisnis Mas Bre tidak langsung dimulai dalam skala besar. Ia mengaku mulai terjun ke dunia sound pada 2019 setelah sebelumnya lebih dulu menjadi penikmat musik dengan karakter bass kuat.
Pada awalnya, perangkat yang dimiliki hanya sekitar enam sap. Sound tersebut digunakan untuk kegiatan karnaval di lingkungan sendiri. Dari penggunaan pribadi, perlahan mulai muncul pesanan dari pihak lain.
Pesanan yang berdatangan kemudian membuat peralatan terus ditambah. Bisnis yang awalnya hanya dilakukan bersama warga dan pemuda sekitar akhirnya berkembang menjadi pekerjaan utama.
Mas Bre mengatakan satu tim saat ini terdiri dari tujuh orang. Sementara total anggota tim yang dimilikinya mencapai sekitar 70 orang. Dalam perkembangannya, Brewo Audio bahkan mampu mengoperasikan 10 truk atau 10 tim dalam waktu bersamaan.
Skala usaha tersebut menunjukkan bahwa harga sewa sound horeg bukan hanya berkaitan dengan perangkat speaker. Ada kru yang harus disiapkan, kendaraan yang digunakan, serta berbagai kebutuhan teknis untuk memastikan pertunjukan berjalan sesuai rencana.
Booking Karnaval Harus Jauh-Jauh Hari
Tingginya permintaan juga membuat jadwal sound horeg, terutama untuk karnaval, harus dipersiapkan jauh sebelumnya. Mas Bre mengatakan pelanggan biasanya sudah melakukan booking sekitar satu tahun sebelum acara berlangsung.
Bahkan, ada pelanggan yang melakukan pemesanan hingga dua tahun sebelumnya. Alasannya sederhana, jadwal untuk tahun berikutnya bisa lebih dahulu diambil oleh penyelenggara lain.
Menurutnya, tingkat kesibukan sound horeg juga mengikuti musim acara masyarakat. Periode karnaval dan berbagai kegiatan masyarakat menjadi masa yang lebih padat dibandingkan awal tahun.
Brewo Audio sendiri tidak hanya melayani wilayah Blitar. Mas Bre menyebut timnya juga pernah menerima pekerjaan hingga sejumlah wilayah Jawa Tengah, seperti Pati, Jepara, Rembang, dan Blora.
Untuk daerah di luar Jawa Timur, ia mengakui adanya pasar sound horeg, termasuk di Kalimantan dan Sumatera. Namun, ukuran sound yang berkembang di wilayah tersebut disebut belum sebesar yang biasa ditemui di Jawa Timur.
Perizinan dan Keluhan Warga Jadi Perhatian
Besarnya perangkat yang digunakan membuat persoalan lingkungan turut menjadi bagian dari pembahasan sound horeg. Dalam wawancara tersebut, Mas Bre menegaskan bahwa penyelenggara harus mengurus perizinan sebelum sebuah sound didatangkan.
Ia menyebut izin dapat melibatkan keamanan dan lingkungan. Jika masyarakat atau pihak setempat tidak memberikan izin, penyedia sound tidak dapat begitu saja hadir dalam sebuah acara.
Pandangan masyarakat terhadap sound horeg sendiri tidak sepenuhnya sama. Ada warga yang menganggapnya sebagai hiburan dan menikmati suasana acara. Namun, ada pula yang merasa terganggu, terutama ketika suara terlalu keras atau kegiatan berlangsung di lingkungan permukiman.
Baca Juga: Tabel KUR BNI 2026 Plafon Rp10 Juta hingga Rp500 Juta, Cek Tenor dan Syaratnya
Salah seorang warga bahkan mengusulkan agar pertunjukan sound berukuran besar lebih banyak ditempatkan di lapangan. Dengan begitu, masyarakat yang ingin menikmati hiburan dapat datang, sedangkan warga yang tidak berminat tidak harus ikut terdampak.
Mas Bre juga menyampaikan pentingnya tanggung jawab penyelenggara apabila terjadi kerusakan. Ia menyarankan agar penyelenggara tidak hanya mengurus izin, tetapi juga siap menanggung kerusakan yang mungkin terjadi selama kegiatan.
Di sisi lain, ia berharap pelaku sound horeg dapat menjaga penampilan dan perilaku selama acara. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengurangi munculnya pemberitaan negatif dan menjaga agar keberadaan sound horeg tetap dapat diterima masyarakat.
Dengan tarif mulai Rp30 juta hingga Rp35 juta untuk wilayah terdekat, bisnis sound horeg memang memiliki nilai transaksi yang besar. Namun, di balik angka tersebut terdapat investasi perangkat, kru, kendaraan, jadwal yang padat, hingga tanggung jawab terhadap lingkungan. Harga sewa yang tinggi akhirnya menjadi bagian dari keseluruhan operasional bisnis, bukan sekadar biaya untuk menghasilkan suara keras.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : kapanlagi.com