Cara Menanam Bawang Merah agar Hasil Panen Maksimal, Petani Bagikan Pengalamannya

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 17:05 WIB
Cara menanam bawang merah dibagikan petani dari Yogyakarta, mulai dari bibit, jarak tanam, pemupukan hingga pengendalian hama. (PINTEREST)
Cara menanam bawang merah dibagikan petani dari Yogyakarta, mulai dari bibit, jarak tanam, pemupukan hingga pengendalian hama. (PINTEREST)

YOGYAKARTA - Cara menanam bawang merah menjadi perhatian karena komoditas ini dinilai mampu memberikan hasil yang cukup menjanjikan jika dikelola dengan tepat. Pengalaman tersebut dibagikan Tukimin, petani dari Dusun Samiran, Kalurahan Parang Tritis, Kapanewon Kretek, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tukimin mengaku telah menggeluti dunia pertanian selama sekitar 15 tahun. Dalam pengelolaannya, ia menanam bawang merah bersama cabai dengan pola tumpang sari. Luas lahan yang digarap mencapai 9.000 meter persegi.

Menurutnya, pola tumpang sari menjadi praktik yang umum dilakukan petani di wilayah Parang Tritis. Bawang merah ditanam terlebih dahulu. Setelah tanaman berumur sekitar 25 hingga 30 hari, tanaman cabai kemudian ditanam di antara bawang merah.

Baca Juga: Tahfidzul Quran MIN 13 Blitar Jadi Ekskul Favorit, Puluhan Siswa Tak Hanya Hafal Juz Amma tapi Diben

Memilih Bibit dan Mengatur Jarak Tanam

Dalam cara menanam bawang merah, pemilihan varietas menjadi salah satu perhatian utama. Tukimin menyebut mayoritas petani di wilayahnya menggunakan varietas Tajuk. Bibit tersebut diperoleh dari Nganjuk.

Selain Tajuk, terdapat pula petani yang menggunakan varietas Bauci dan Bima. Namun, Tajuk lebih banyak dipilih karena dinilai memiliki tonase yang lebih baik.

Tukimin menjelaskan, bawang merah varietas Tajuk memiliki bentuk umbi yang cenderung bulat dan ukurannya relatif seragam. Sementara itu, varietas lain seperti Bauci disebut memiliki umbi besar, tetapi daya simpannya dinilai tidak sebaik Tajuk.

Jarak tanam bawang merah yang digunakan berada di kisaran 18 hingga 20 sentimeter. Sementara cabai ditanam dengan jarak sekitar 40 sentimeter.

Untuk masa panen, bawang merah umumnya dipanen ketika berumur sekitar 60 hari atau dua bulan. Waktu tanam juga menjadi perhatian karena kondisi lahan sangat berkaitan dengan ketersediaan air dan risiko genangan.

Tukimin mengatakan pola tanam di wilayahnya menyesuaikan kondisi musim. Pada musim dengan potensi hujan, bedengan dibuat lebih tinggi untuk mengantisipasi genangan.

Pemupukan, Penyiraman dan Pengendalian Hama

Perawatan tanaman dilakukan bersamaan dengan tanaman bawang merah. Mulai dari pemupukan, penyiraman hingga pengendalian hama dan penyakit.

Untuk pupuk, Tukimin menyebut petani di wilayahnya mayoritas menggunakan YaraMila. Sebagian juga menggunakan pupuk organik, meski penggunaannya tidak sebanyak pupuk utama.

Penyiraman dilakukan menggunakan selang. Setiap petak lahan memiliki sumur pantai yang menjadi sumber air. Penyiraman sebelumnya menggunakan jet pump berbahan bakar diesel. Setelah listrik tersedia di area persawahan, penggunaan jet pump listrik dinilai lebih menghemat biaya.

Hama yang paling mengganggu tanaman bawang merah adalah ulat. Pengendaliannya dilakukan menggunakan insektisida. Sementara penyakit yang dapat menyerang antara lain moler dan jamur, dengan fungisida digunakan sebagai salah satu upaya pengendalian.

Baca Juga: Tahfidzul Quran MIN 13 Blitar Jadi Ekskul Favorit, Puluhan Siswa Tak Hanya Hafal Juz Amma tapi Diben

Menurut Tukimin, penanaman secara serentak dapat membantu mengurangi risiko hama dan penyakit. Karena itu, pola tanam bersama menjadi salah satu hal yang diperhatikan petani.

Dari sisi pemasaran, hasil panen bawang merah umumnya dijual kepada tengkulak. Belakangan, terdapat pula pembeli dari luar daerah yang langsung membeli hasil tanaman di lahan.

Sistem tebas membuat petani tidak perlu membawa seluruh hasil panen ke pasar. Harga telah disepakati ketika tanaman masih berada di lahan, kemudian petani tinggal melakukan proses pencabutan sesuai kesepakatan.

Tukimin menilai usaha bawang merah cukup menjanjikan. Ia mencontohkan lahan seluas 2.200 meter persegi yang menghasilkan penjualan hingga Rp82 juta. Namun, besaran biaya operasional yang disebut dalam rekaman tidak terdengar jelas sehingga tidak dapat dipastikan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa modal menjadi salah satu tantangan utama bagi petani bawang merah. Modal biasanya berasal dari tabungan hasil pertanian sebelumnya, meski sebagian petani memilih menggunakan pinjaman bank.

Tukimin juga berharap ketersediaan pupuk tetap terjaga. Menurutnya, kelangkaan pupuk dapat membuat harga meningkat dan berdampak pada hasil produksi.

Ia turut mengajak generasi muda untuk mencoba terjun ke sektor pertanian. Menurut pengalamannya, bertani memberikan keleluasaan dalam mengatur waktu sekaligus peluang memperoleh hasil dari pengelolaan lahan secara mandiri.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Agrotek
Budidaya bawang merah Cara menanam bawang merah petani pertanian bawang merah