Cara Menanam Bawang Merah 2 Bulan Panen, Petani Ungkap Kunci Perawatannya

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 17:15 WIB
Cara menanam bawang merah dari pengalaman petani, mulai pemilihan bibit, jarak tanam, perawatan, hama hingga potensi hasil panen. (PINTEREST)
Cara menanam bawang merah dari pengalaman petani, mulai pemilihan bibit, jarak tanam, perawatan, hama hingga potensi hasil panen. (PINTEREST)

YOGYAKARTA - Cara menanam bawang merah tidak hanya bergantung pada bibit, tetapi juga jarak tanam, pemupukan, penyiraman hingga pengendalian hama. Hal tersebut menjadi bagian dari pengalaman Tukimin, petani dari Dusun Samiran, Kalurahan Parang Tritis, Kapanewon Kretek, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tukimin telah menggeluti sektor pertanian selama sekitar 15 tahun. Ia memilih bawang merah sebagai salah satu tanaman utama yang dibudidayakan bersama cabai menggunakan pola tumpang sari.

Dalam pengelolaannya, bawang merah ditanam lebih dahulu. Ketika tanaman memasuki umur sekitar 25 sampai 30 hari, cabai mulai ditanam di sela-selanya. Pola tersebut menjadi salah satu praktik yang banyak dilakukan petani di wilayah Parang Tritis.

Baca Juga: Tahfidzul Quran MIN 13 Blitar Jadi Ekskul Favorit, Puluhan Siswa Tak Hanya Hafal Juz Amma tapi Diben

Bibit Bawang Merah Jadi Perhatian

Salah satu hal penting dalam cara menanam bawang merah adalah menentukan varietas yang sesuai. Tukimin mengatakan mayoritas petani di wilayahnya menggunakan bawang merah varietas Tajuk.

Bibit tersebut biasanya didatangkan dari Nganjuk. Selain Tajuk, ada pula petani yang menanam varietas Bauci dan Bima.

Namun, Tajuk lebih banyak digunakan karena dinilai memiliki tonase yang lebih baik. Bentuk umbinya cenderung bulat dengan ukuran yang relatif seragam.

Menurut Tukimin, varietas Bauci juga menghasilkan umbi berukuran besar. Hanya saja, daya simpannya dinilai masih kalah dibandingkan Tajuk. Perbedaan karakter tersebut menjadi salah satu pertimbangan petani ketika menentukan bibit.

Jarak tanam bawang merah yang digunakan sekitar 18 hingga 20 sentimeter. Sementara itu, cabai ditanam dengan jarak sekitar 40 sentimeter.

Bawang merah biasanya dapat dipanen ketika memasuki usia sekitar 60 hari. Dengan waktu budidaya yang relatif singkat, tanaman tersebut menjadi salah satu pilihan petani untuk mendapatkan hasil dari lahan pertanian.

Perawatan Mengikuti Kondisi Tanaman

Perawatan tanaman dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan bawang merah. Pemupukan, penyiraman dan pengendalian hama dilakukan selama masa pertumbuhan.

Tukimin menyebut YaraMila menjadi salah satu pupuk yang banyak digunakan petani di wilayahnya. Pupuk organik juga digunakan, meski tidak sebanyak pupuk utama.

Sistem penyiraman menggunakan selang yang mengambil air dari sumur pantai di sekitar lahan. Sebelumnya, petani menggunakan jet pump dengan tenaga diesel. Setelah jaringan listrik tersedia di area persawahan, jet pump listrik digunakan karena dinilai lebih hemat.

Hama dan penyakit tetap menjadi tantangan dalam budidaya bawang merah. Salah satu hama yang disebut paling parah adalah ulat.

Untuk mengatasinya, petani melakukan pengobatan menggunakan insektisida. Sementara penyakit seperti moler dan jamur dikendalikan menggunakan fungisida.

Baca Juga: Tahfidzul Quran MIN 13 Blitar Jadi Ekskul Favorit, Puluhan Siswa Tak Hanya Hafal Juz Amma tapi Diben

Tukimin mengatakan penanaman secara serentak dapat membantu mengurangi hama dan penyakit. Pola tersebut membuat pengendalian di lahan menjadi lebih mudah dibandingkan jika waktu tanam terpencar.

Selain bawang merah, tanaman cabai juga memberikan keuntungan tambahan. Ketika bawang merah sudah dicabut, tanaman cabai yang ditanam sebelumnya mulai memasuki masa berbuah.

Petani di wilayah tersebut umumnya memetik cabai dalam kondisi hijau. Namun, cabai bisa dipanen merah apabila perbedaan harga dengan cabai hijau cukup besar.

Modal dan Harga Menjadi Tantangan

Setelah panen, bawang merah dapat dijual langsung di lahan kepada pembeli atau tengkulak. Sistem tebas membuat petani tidak perlu membawa hasil panen ke pasar.

Harga biasanya disepakati ketika tanaman masih berada di sawah. Setelah itu, petani melakukan pencabutan sesuai kesepakatan.

Tukimin mengatakan harga bawang merah sangat dipengaruhi kondisi panen. Ketika panen raya terjadi secara bersamaan, pasokan di pasar meningkat dan harga dapat turun.

Ia menyebut harga yang terlalu rendah dapat membuat usaha bawang merah tidak menutup biaya produksi. Sebaliknya, ketika harga berada pada tingkat yang lebih baik, hasilnya bisa cukup menjanjikan.

Tukimin memberikan gambaran dari lahan seluas 2.200 meter persegi. Dari lahan tersebut, hasil penjualan yang diperolehnya mencapai Rp82 juta. Sementara biaya operasional yang disebut dalam rekaman tidak terdengar lengkap sehingga besarannya tidak dapat dipastikan.

Menurutnya, modal merupakan salah satu tantangan utama dalam budidaya bawang merah. Petani biasanya menyisihkan hasil panen sebelumnya untuk modal musim berikutnya. Sebagian lainnya menggunakan pinjaman bank.

Ia juga berharap ketersediaan pupuk tidak mengalami kendala. Sebab, kelangkaan pupuk dapat membuat harga meningkat dan akhirnya berpengaruh terhadap biaya serta hasil pertanian.

Bagi generasi muda, Tukimin mendorong agar sektor pertanian tidak dipandang sebelah mata. Berdasarkan pengalamannya, bertani memberikan keleluasaan dalam mengatur pekerjaan sekaligus peluang mendapatkan hasil ekonomi dari lahan yang dikelola.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Agrotek
Budidaya bawang merah Cara menanam bawang merah Petani Yogyakarta pertanian bawang merah