JAKARTA - Bonsai klampis putih memiliki karakter alami yang menjadi daya tarik tersendiri. Pohon lokal Indonesia hasil dongkelan dari Gunung Kidul, Wonosari, ini mempunyai batang berkesan tua, kaki-kaki yang mulai terbentuk, serta jalur urat yang terlihat jelas pada bagian batang.
Pohon tersebut dirawat dan dirapikan setelah pertumbuhan tunas serta ranting membuat bentuknya menjadi semrawut. Proses perapian dilakukan dengan memilih cabang yang dianggap penting, kemudian memangkas ranting yang tidak diperlukan.
Dalam video di kanal GR Piknik, Anom menjelaskan bahwa klampis putih tersebut sebelumnya sudah ditanam di ground dan tumbuh subur. Ukuran batang ketika didapat dari dongkelan memang sudah besar. Setelah dikembangkan, pertumbuhan tunasnya semakin banyak sehingga diperlukan kontrol secara rutin.
Salah satu kelebihan bahan tersebut terletak pada karakter alaminya. Bagian batang terlihat memiliki urat dan otot yang kuat. Sementara bagian kering pada pohon juga memberikan kesan tua.
Karakter tersebut disebut terbentuk secara alami. Pohon merupakan bahan dongkelan dari kawasan Gunung Kidul yang kemudian dikembangkan hingga tumbuh dengan baik.
Baca Juga: Cara Cek Desil 2026 Lewat HP, Begini Langkah Melihat Kategori Desil
Cutting untuk Menjaga Bentuk Alami
Perapian bonsai klampis putih dilakukan menggunakan teknik cutting. Ranting yang tidak diperlukan dipotong, sedangkan bagian yang dianggap memiliki arah pertumbuhan sesuai konsep tetap dipertahankan.
Teknik tersebut dipilih karena klampis memiliki pertumbuhan yang cepat. Jika menggunakan kawat, pertumbuhan batang dan cabang harus lebih sering dikontrol agar kawat tidak melukai bagian pohon.
Kawat sebenarnya pernah digunakan pada tahap awal untuk mengarahkan tunas pertama. Namun, setelah bentuk dasar terbentuk, pemilik lebih memilih cutting.
Menurutnya, teknik tersebut membuat arah pertumbuhan pohon tetap terlihat alami. Karakter tua pada batang juga dinilai lebih muncul dibandingkan jika terlalu banyak menggunakan kawat.
Proses pemilihan ranting dilakukan dengan cukup teliti. Tunas yang tumbuh kembar dan terlalu berdekatan, misalnya, salah satunya perlu dipotong. Ranting yang arahnya tidak sesuai juga dihilangkan.
Ranting yang saling bersilangan menjadi bagian lain yang harus diperhatikan. Jika dibiarkan, pertumbuhan bisa membuat struktur pohon kembali berantakan.
Dengan cutting, pertumbuhan bonsai diarahkan secara bertahap. Setelah ranting baru tumbuh, pemilik kembali melihat arah dan bentuknya. Bagian yang tidak diperlukan dipotong, sementara ranting yang sesuai dibiarkan berkembang.
Tantangan Merawat Klampis yang Cepat Tumbuh
Pertumbuhan yang cepat menjadi salah satu tantangan utama dalam merawat bonsai klampis. Banyaknya tunas membuat pemilik harus jeli menentukan bagian yang dipertahankan.
Pemilik tidak menetapkan waktu pemotongan secara pasti. Cutting berikutnya bergantung pada kesuburan pohon dan seberapa cepat tunas kembali tumbuh.
Jika dalam waktu singkat ranting sudah membesar, pemotongan bisa dilakukan kembali. Namun, apabila pertumbuhan membutuhkan waktu lebih lama, cutting juga menunggu hingga pohon kembali sehat dan tumbuh sesuai kebutuhan.
Perawatan juga dilakukan dengan pupuk fermentasi buatan sendiri yang menggunakan kotoran kambing. Untuk penyiraman, frekuensinya disesuaikan dengan kondisi pohon dan lingkungan.
Baca Juga: Cara Cek Desil 2026 Lewat HP, Begini Langkah Melihat Kategori Desil
Saat pohon berada di ground dan kondisi cukup basah, penyiraman tidak perlu dilakukan terlalu sering. Ketika kondisi kering, kebutuhan air menjadi lebih tinggi.
Anom juga menekankan bahwa bonsai yang sehat tidak harus mempunyai daun yang sangat rimbun. Jumlah daun perlu disesuaikan dengan ukuran pohon agar tetap terlihat proporsional.
Setelah ranting-ranting yang tidak diperlukan dipotong, struktur bonsai klampis putih tersebut menjadi lebih terbuka. Bagian atas mendapatkan pencahayaan lebih baik dan arah cabang terlihat lebih jelas.
Tahap berikutnya adalah membiarkan ranting tumbuh kembali. Proses cutting kemudian dilakukan secara bertahap hingga percabangan semakin rapat dan bentuk pohon sesuai dengan konsep yang diharapkan.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Agropiknik