Rumah Ramah Lingkungan Rp500 Juta, Dilengkapi Solar Panel dan Sistem Daur Ulang Air

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 17:30 WIB
Rumah ramah lingkungan Rp500 juta ini dilengkapi panel surya, pengolahan air hujan, daur ulang air, material upcycle, dan kompos.(pinterest)
Rumah ramah lingkungan Rp500 juta ini dilengkapi panel surya, pengolahan air hujan, daur ulang air, material upcycle, dan kompos.(pinterest)

JAKARTA - Rumah ramah lingkungan tidak selalu harus dibangun dengan teknologi mahal dan desain yang rumit. Konsep tersebut diterapkan dalam sebuah rumah berukuran kompak di Jakarta yang menggabungkan penggunaan material daur ulang, panel surya, pemanenan air hujan hingga sistem pengolahan air bekas.

Rumah tersebut dikenal dengan nama Mini Responsible House. Pemiliknya, Denia, menjelaskan konsep rumah itu sejak awal dirancang untuk meminimalkan dampak lingkungan dari aktivitas sehari-hari. Denia menyebut dirinya bersama suaminya terlebih dahulu membuat brief cukup detail sebelum memilih arsitek.

Mereka menginginkan rumah yang ramping dengan material yang sebisa mungkin berasal dari bahan daur ulang atau ramah lingkungan. Selain itu, mereka memasukkan kebutuhan seperti grey water recycling system, tempat pengomposan dan pengelolaan sampah sebagai bagian dari konsep rumah.

Salah satu fitur yang diterapkan adalah rainwater harvesting. Air hujan dari atap dialirkan melalui talang menuju tangki penampungan. Di dalam sistem tersebut terdapat filter sederhana menggunakan ijuk. Air kemudian dapat dipompa atau digunakan dengan memanfaatkan gravitasi.

Air hujan yang ditampung tidak digunakan untuk konsumsi. Pemilik rumah memanfaatkannya untuk kebutuhan luar ruangan, seperti menyiram tanaman dan membasahi jalan ketika cuaca panas.

Rumah tersebut juga menggunakan panel surya yang masih terhubung dengan jaringan PLN atau sistem on-grid. Dengan sistem tersebut, pemilik masih menggunakan listrik PLN sekaligus memanfaatkan energi dari panel surya. Pemilik mengklaim penggunaan panel surya dapat menghemat hingga 50 persen dari tagihan listrik sebelumnya.

Panel surya yang digunakan memiliki kapasitas sekitar 3.500 watt, sama dengan daya listrik rumah. Pemasangannya menjadi tambahan dari biaya pembangunan rumah. Menurut penuturan pemilik, panel surya tersebut menghabiskan biaya sekitar Rp70 juta saat dipasang.

Sementara itu, biaya pembangunan rumah secara keseluruhan sekitar Rp500 juta. Angka tersebut merupakan biaya sekitar tujuh tahun lalu dan sudah mencakup sejumlah elemen seperti sistem pengolahan air, plumbing, kitchen set serta beberapa furnitur besar. Panel surya belum termasuk dalam angka tersebut.

Selain energi dan air, konsep ramah lingkungan juga terlihat dari pemilihan material. Kayu yang digunakan pada sejumlah bagian rumah merupakan kayu recycle atau upcycle. Material tersebut antara lain digunakan untuk teras, lantai, furnitur dan beberapa bagian interior.

Baca Juga: 6 Hotel Murah di Surabaya Mulai Rp80 Ribuan, Ada yang Dekat Terminal dan Kampus

Rumah ini juga menerapkan pengelolaan sampah organik. Sampah dari dapur dipisahkan dan kemudian diproses menjadi kompos. Cangkang telur yang sulit terurai juga dikeringkan dan dihancurkan untuk kemudian dimanfaatkan sebagai bahan tambahan bagi tanaman.

Pengelolaan air bekas menjadi bagian penting lainnya. Air dari wastafel, kamar mandi dan kitchen sink dikumpulkan melalui sistem grey water recycling. Air tersebut kemudian melalui beberapa tahapan penyaringan sebelum ditampung dan digunakan kembali sebagai air untuk menyiram toilet.

Setelah digunakan untuk toilet, air tidak langsung dialirkan ke selokan kota. Air tersebut diteruskan menuju septic tank dan kemudian ke bidang atau sumur resapan. Pemilik menyebut konsep ini sebagai bagian dari upaya menerapkan sistem zero discharge di rumah.

Dari sisi desain, rumah dibuat kompak dengan lebar sekitar 4,5 meter. Langit-langit lantai bawah dibuat sekitar 2,5 meter. Konsep tersebut disebut membantu mengurangi volume ruang yang perlu didinginkan oleh pendingin udara.

Rumah juga memanfaatkan bukaan dan vegetasi untuk mendukung sirkulasi udara. Pada bagian yang menghadap barat, terdapat secondary skin berbentuk perforated yang dipadukan dengan tanaman untuk membantu mengurangi paparan panas dan polusi.

Pembangunan rumah sempat terdampak pandemi Covid-19 sehingga pengerjaannya lebih lama dari rencana awal. Jika normalnya diperkirakan sekitar enam bulan, proses pembangunan akhirnya berlangsung lebih lama.

Bagi pemiliknya, berbagai fitur tersebut bukan sekadar upaya mengurangi dampak lingkungan. Konsep rumah ramah lingkungan juga dipandang sebagai investasi karena sejumlah teknologi yang digunakan dapat membantu menekan pengeluaran rumah tangga dalam jangka panjang.

Editor : M. Helmi Nurhisam
Mini Responsible House Solar Panel Grey Water Recycling jakarta rumah ramah lingkungan