Rumah Ramah Lingkungan Rp500 Juta Punya Sistem Daur Ulang Air dan Panel Surya

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 17:35 WIB
Rumah ramah lingkungan Rp500 juta ini mengusung panel surya, daur ulang air, pemanenan air hujan, material upcycle dan pengolahan sampah.(pinterest)
Rumah ramah lingkungan Rp500 juta ini mengusung panel surya, daur ulang air, pemanenan air hujan, material upcycle dan pengolahan sampah.(pinterest)

JAKARTA - Rumah ramah lingkungan milik pasangan yang dikenal melalui platform Cleanomic ini memanfaatkan lahan terbatas dengan berbagai konsep berkelanjutan. Rumah tersebut memiliki lebar sekitar 4,5 meter dan panjang sekitar 12 meter, tetapi dilengkapi panel surya, pemanenan air hujan, sistem daur ulang air hingga pengolahan sampah organik.

Rumah bernama Mini Responsible House itu dibangun dengan konsep compact house. Pemiliknya, Denia, mengatakan konsep tersebut sejak awal memang diarahkan untuk mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas rumah tangga.

Sebelum pembangunan dimulai, pemilik membuat brief untuk calon arsitek. Mereka ingin rumah yang ramping, tetapi tetap memenuhi kebutuhan keluarga. Material yang digunakan juga sebisa mungkin berasal dari bahan recycle atau ramah lingkungan.

“Jadi, responsible terhadap lingkungan. Kita berusaha banget untuk gimana caranya meminimalisir dampak lingkungan dari kegiatan di rumah kita sehari-hari,” kata Denia dalam video Arsitektur Indonesia.

Salah satu fitur yang paling menonjol adalah sistem rainwater harvesting. Air hujan dari atap dialirkan menggunakan talang menuju tangki penampungan. Sistemnya relatif sederhana karena menggunakan filter berbahan ijuk dan pompa untuk mengalirkan air.

Namun, air hujan yang ditampung tidak digunakan untuk minum. Air tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan di luar rumah, seperti menyiram tanaman dan menyiram jalan ketika cuaca panas.

Selain air hujan, rumah ini mempunyai grey water recycling system. Air dari wastafel, kamar mandi dan kitchen sink dikumpulkan melalui sistem khusus. Air kemudian melewati penyaringan sebelum ditampung kembali.

Air hasil pengolahan tersebut digunakan untuk kebutuhan toilet atau flushing. Dengan demikian, air bekas tidak langsung dibuang ke saluran kota.

Sistem tersebut juga terhubung dengan septic tank dan sumur resapan. Konsep ini menjadi bagian dari upaya pemilik menerapkan zero discharge di rumahnya.

Mengandalkan Panel Surya

Untuk kebutuhan energi, rumah menggunakan solar panel dengan sistem on-grid. Artinya, panel surya tetap terhubung dengan jaringan PLN sehingga pemilik masih menggunakan listrik PLN ketika dibutuhkan.

Kapasitas panel surya yang digunakan sekitar 3.500 watt. Saat dipasang, biaya panel surya disebut berada di kisaran Rp70 juta. Sistem tersebut menjadi tambahan dari biaya pembangunan rumah.

Baca Juga: 10 Hotel Murah di Surabaya dengan Harga Jelas Nyaman di Kantong

Menurut pemilik, penggunaan solar panel dapat menghemat hingga 50 persen dari total tagihan listrik sebelumnya. Dalam perhitungannya, investasi panel surya tersebut disebut sudah mencapai titik balik modal setelah sekitar tujuh tahun.

Sementara itu, biaya pembangunan rumah secara keseluruhan berada di kisaran Rp500 juta. Angka tersebut merupakan biaya sekitar tujuh tahun lalu.

Biaya tersebut sudah mencakup berbagai kebutuhan rumah, termasuk plumbing untuk sistem pengolahan air, kitchen set, built-in closet dan sejumlah furnitur besar. Panel surya menjadi salah satu komponen yang tidak masuk dalam biaya Rp500 juta tersebut.

Sampah Organik Diolah Menjadi Kompos

Konsep berkelanjutan juga diterapkan pada pengelolaan sampah. Sampah rumah tangga dipisahkan berdasarkan jenisnya. Sampah seperti botol kaca dan plastik dikumpulkan untuk kemudian dibawa ke bank sampah atau tempat pengelolaan yang sesuai.

Baca Juga: 10 Hotel Murah di Surabaya dengan Lokasi Strategis dan Fasilitas Lengkap

Sementara sampah organik diproses menjadi kompos. Salah satu material yang digunakan adalah sekam bakar. Material tersebut ditempatkan bersama sampah organik untuk membantu menyerap air dan mengurangi bau.

Cangkang telur juga tidak langsung dibuang. Cangkang dikeringkan terlebih dahulu, kemudian dihancurkan agar dapat dimanfaatkan untuk tanaman.

Rumah tersebut menggunakan sejumlah material recycle dan upcycle. Kayu yang dipakai untuk teras, lantai dan beberapa furnitur merupakan material yang disebut sebagai kayu recycle atau upcycle. Pemilik memperoleh material tersebut melalui vendor yang menjadi rekanan arsitek.

Dari sisi desain, rumah dibuat dengan ukuran compact. Lantai bawah memiliki ketinggian sekitar 2,5 meter. Desain tersebut disebut membuat volume ruang lebih kecil sehingga kebutuhan pendinginan menggunakan AC juga dapat ditekan.

Rumah juga memanfaatkan bukaan untuk menciptakan sirkulasi udara silang. Vegetasi ditempatkan di sejumlah bagian rumah, termasuk pada area yang menghadap barat.

Pembangunannya sendiri sempat terdampak pandemi Covid-19. Proyek yang awalnya diperkirakan selesai sekitar enam bulan akhirnya membutuhkan waktu lebih lama.

Bagi pemilik, konsep sustainable pada rumah tersebut bukan hanya berkaitan dengan lingkungan. Penghematan energi, pemanfaatan kembali air dan pengurangan sampah juga dipandang sebagai bentuk investasi untuk mengurangi pengeluaran sekaligus menjaga lingkungan.

Editor : M. Helmi Nurhisam
Mini Responsible House Panel Surya Daur Ulang Air Cleanomic rumah ramah lingkungan