Studio Arsitek 10 Meter Persegi di Tengah Kampung Bintaro, Desainnya Tak Biasa

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 17:40 WIB
Studio arsitek Asa Room seluas 10 meter persegi di kampung Bintaro memanfaatkan material bekas, pepohonan, dan ruang multifungsi.(pinterest)
Studio arsitek Asa Room seluas 10 meter persegi di kampung Bintaro memanfaatkan material bekas, pepohonan, dan ruang multifungsi.(pinterest)

JAKARTA - Studio arsitek tak selalu harus berada di tepi jalan besar atau kawasan perkantoran. Asa Room justru memilih ruang kerja seluas sekitar 10 meter persegi di tengah lingkungan kampung Kampung Utan Pondok Pucung, Bintaro. Studio tersebut dirancang adaptif dengan memanfaatkan material bekas, pepohonan yang sudah ada, serta ruang multifungsi.

Studio itu diperkenalkan dalam kunjungan Rizki Abadi bersama arsitek Tegar. Dari luar, bangunannya terlihat menyatu dengan lingkungan sekitar. Namun, ketika masuk ke dalam, terdapat sejumlah elemen yang menunjukkan bagaimana keterbatasan ruang dan material justru diolah menjadi bagian dari desain.

Lahan keseluruhan studio mencapai sekitar 1.000 meter persegi. Area tersebut memiliki dua pohon durian yang sudah ada sebelumnya. Keberadaan pohon tidak dihilangkan untuk menyesuaikan bangunan. Sebaliknya, bentuk dan batas ruang dibuat mengikuti kondisi alami di lokasi.

Tegar menjelaskan, pendekatan tersebut merupakan bagian dari cara kerja Asa Room. Menurut dia, bangunan seharusnya dapat beradaptasi dengan kondisi yang sudah tersedia.

Salah satu contohnya terlihat dari penggunaan genteng bekas. Material tersebut berasal dari sisa pembongkaran maupun proyek sebelumnya. Genteng yang berbeda bentuk dan warna tetap dimanfaatkan sebagai lantai, dinding, hingga elemen fasad.

Bagi Tegar, material lama bukan sekadar benda bekas. Ia menyebutnya sebagai bagian dari “emotional footprint”, yakni jejak emosional yang melekat pada material karena pernah menjadi bagian dari bangunan lain.

Pendekatan tersebut juga terlihat pada berbagai elemen interior. Studio menggunakan material sederhana yang tersedia, termasuk baki telur sebagai elemen plafon. Material sisa lain diolah menjadi furnitur dan berbagai kebutuhan ruang.

Studio kecil dengan banyak fungsi

Meski luasnya hanya sekitar 10 meter persegi, studio tersebut tetap dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Di dalamnya terdapat area kerja, mezzanine, toilet, pantry mini, tempat penyimpanan, hingga ruang untuk membuat maket.

Baca Juga: 3 Hotel Bintang Lima di Jakarta, Jogja, dan Bali Mana yang Paling Unggul?

Ruang kerja juga dibuat fleksibel. Aktivitas tidak harus berlangsung di dalam bangunan. Area luar dapat digunakan untuk bekerja, berdiskusi, makan bersama, hingga presentasi menggunakan proyektor.

Di area lain terdapat paviliun yang juga bersifat multifungsi. Ruang tersebut dapat digunakan untuk menerima klien, rapat, presentasi, membaca buku, hingga berkegiatan bersama warga sekitar.

Konsep terbuka menjadi bagian penting dari desain. Pepohonan dimanfaatkan sebagai peneduh alami. Sejumlah bukaan dibuat agar udara dapat mengalir dan penghuni tetap memiliki hubungan visual dengan lingkungan kampung.

Salah satu bagian yang paling unik adalah ruang menginap berbentuk sleeping pod. Terdapat 12 unit yang dirancang dari area sisa di sekitar bangunan. Ruang tersebut dapat digunakan untuk beristirahat, terutama ketika tim Asa Room dari luar daerah datang.

Pengalaman menginap juga sengaja dibuat dekat dengan kehidupan kampung. Dari ruang tersebut, penghuni masih dapat mendengar aktivitas warga, suara burung, hingga kegiatan sehari-hari di sekitar lokasi.

Arsitektur yang menyatu dengan warga

Pemilihan lokasi di tengah kampung bukan keputusan tanpa alasan. Tegar mengatakan, gagasan tersebut berawal dari keinginannya agar studio arsitek tidak hanya berada di pusat kota.

Baca Juga: 5 Hotel Murah di Surabaya Mulai Rp70 Ribuan, Cocok untuk Transit dan Liburan

Ia mencontohkan pengalaman sebelumnya ketika bekerja di daerah yang memiliki sedikit arsitek. Kehadiran studio di lingkungan tersebut membuat masyarakat lebih mengenal fungsi arsitek dan membuka peluang kolaborasi dengan warga.

Konsep serupa kemudian diterapkan di Bintaro. Di tengah kawasan yang dikenal dengan perkembangan modernnya, masih terdapat kampung dengan pepohonan, rumah warga, serta aktivitas masyarakat.

Studio itu pun tidak dibuat eksklusif. Area tertentu sengaja dibuka agar dapat menjadi ruang interaksi, diskusi, hingga kegiatan bersama masyarakat.

Bagi Tegar, arsitektur tidak harus selalu tampil steril, baru, dan sempurna. Bangunan dapat berkembang mengikuti waktu, lingkungan, material, serta kebutuhan penggunanya.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi cara Asa Room menguji berbagai kemungkinan desain. Material bekas, ruang kecil, pepohonan, hingga kondisi kampung bukan dianggap sebagai keterbatasan, melainkan bagian dari proses merancang.

Dengan luas studio yang hanya sekitar 10 meter persegi di atas lahan sekitar 1.000 meter persegi, Asa Room menunjukkan bahwa ruang kerja arsitek tidak harus besar untuk menjadi tempat berkarya. Justru keterbatasan ruang dan kondisi lingkungan dimanfaatkan untuk menghasilkan studio yang terbuka, fleksibel, dan dekat dengan kehidupan warga.

Editor : M. Helmi Nurhisam
Studio Arsitek Asa Room Tegar Bintaro Arsitektur Adaptif