BINTARO - Sebuah studio arsitek di kawasan Kampung Utan Pondok Pucung, Bintaro, memiliki konsep yang berbeda dari kantor arsitektur pada umumnya. Bangunan utama untuk bekerja itu hanya memiliki luas sekitar 10 meter persegi, tetapi berdiri di atas lahan sekitar 1.000 meter persegi.
Studio tersebut merupakan bagian dari Asa Room, ruang kerja arsitek yang dirancang Mas Tegar dengan pendekatan adaptif. Alih-alih membangun gedung besar dengan bentuk seragam, berbagai kondisi yang sudah ada di lokasi justru dipertahankan dan dimanfaatkan sebagai bagian dari rancangan.
Dalam kunjungan Rizki Abadi melalui kanal Tetangga Online, Mas Tegar menjelaskan bahwa lokasi studio sengaja dipilih di tengah lingkungan kampung. Ia tidak ingin studio selalu berada di pinggir jalan utama atau kawasan perkantoran.
Gagasan tersebut sudah mulai dipikirkannya sejak sekitar 2015. Sebelumnya, ia juga pernah memiliki studio di Gunung Kidul. Menurut Tegar, keberadaan arsitek tidak seharusnya hanya terkonsentrasi di kota besar.
Ketika datang ke Bintaro pada 2019, ia menemukan kawasan kampung yang masih berada di tengah lingkungan yang telah berkembang. Dari kondisi tersebut, lahirlah gagasan membuat studio yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat bekerja, tetapi juga menyatu dengan lingkungan sekitar.
Salah satu ciri paling menonjol adalah penggunaan material sisa. Genteng beton bekas dimanfaatkan kembali untuk lantai maupun elemen bangunan. Pintu lama juga tidak langsung dibuang, melainkan diolah menjadi bagian dari desain.
Material sederhana lainnya turut digunakan. Terdapat penggunaan baki telur sebagai elemen plafon, besi konstruksi untuk mekanisme tertentu, hingga perlengkapan bekas yang dimanfaatkan untuk kebutuhan pantry dan ruang lainnya.
Dua pohon durian yang sudah berada di lahan juga tetap dipertahankan. Bentuk bangunan kemudian menyesuaikan keberadaan pohon tersebut, bukan sebaliknya. Pepohonan dimanfaatkan sebagai peneduh sehingga bangunan tidak sepenuhnya bergantung pada elemen buatan.
Baca Juga: 7 Hotel Mewah di Jakarta dengan Fasilitas Berkelas untuk Liburan
Konsep serupa terlihat pada batas lahan. Material sisa konstruksi digunakan sebagai pagar atau pembatas alami. Di area tersebut juga terdapat ayam yang membantu mengurai daun-daun yang jatuh hingga menjadi bagian dari proses alami di lingkungan studio.
Meski luas ruang utamanya hanya sekitar 10 meter persegi, kawasan studio dibuat dengan sejumlah ruang yang memiliki fungsi berbeda. Ada area kerja, ruang luar untuk bekerja dan berdiskusi, pavilion untuk pertemuan, perpustakaan material, area presentasi dengan proyektor, hingga ruang makan bersama.
Terdapat pula area pingpong, pantry, toilet, mezzanine dan balkon. Beberapa bagian dibuat fleksibel sehingga dapat berubah sesuai kebutuhan penggunanya.
Studio ini juga memiliki 12 sleeping pods. Ruang tersebut memanfaatkan bagian yang sebelumnya berupa koridor atau area bawah atap. Sleeping pods dapat digunakan oleh tim maupun tamu yang datang.
Pengalaman menginap di lokasi tersebut sengaja dibuat dekat dengan suasana kampung. Penghuninya masih dapat mendengar aktivitas warga, suara burung hingga kegiatan sehari-hari di lingkungan sekitar.
Bagi Tegar, pendekatan tersebut berkaitan dengan gagasan arsitektur adaptif. Bangunan tidak harus selalu terlihat baru, steril dan sempurna. Material lama, perubahan cuaca hingga pertumbuhan lingkungan justru dapat menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangunan.
Ia juga melihat material bekas memiliki nilai emosional karena sebelumnya pernah menjadi bagian dari bangunan lain. Genteng lama, misalnya, dianggap menyimpan jejak penggunaan dan proses pengerjaan dari tempat asalnya.
Selain menjadi studio kerja, Asa Room juga diarahkan sebagai ruang yang terbuka bagi masyarakat. Tempat tersebut dapat digunakan untuk bertemu klien, berkumpul dengan warga, membuat podcast, hingga mendukung kegiatan pemetaan dan pengembangan potensi kampung.
Pendekatan itu menunjukkan bahwa studio arsitek tidak selalu membutuhkan bangunan besar untuk menjadi ruang yang fungsional. Dengan lahan yang ada, material yang tersedia dan kondisi lingkungan sekitar, Mas Tegar mencoba menciptakan ruang yang dapat terus berkembang mengikuti kebutuhan penggunanya.
Editor : M. Helmi Nurhisam