JAKARTA - Rumah di Jakarta Timur ini dirancang bukan sekadar sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang untuk memadukan seni, koleksi benda antik, tradisi keluarga, dan kehidupan yang dekat dengan alam. Dibangun pada 2019 dan selesai pada 2021, hunian tersebut memiliki luas bangunan sekitar 500 meter persegi di atas lahan sekitar 300 meter persegi.
Rumah itu dirancang oleh principal architect StudioRK, Kusneri Prasetiani dan Ramadhona. Menurut keduanya, pemilik rumah merupakan keluarga muda dengan dua anak yang memiliki ketertarikan terhadap membaca, karya seni, serta barang-barang antik.
Seiring proses perancangan, arsitek melihat kebutuhan pemilik tidak sebatas menyediakan tempat untuk koleksi. Mereka juga ingin membawa tradisi dan warisan keluarga ke dalam hunian dengan sentuhan modern.
“Architecture should be treated like an artwork, like a sculpture,” demikian gagasan yang disampaikan dalam video. Konsep tersebut kemudian diterapkan melalui bentuk bangunan, material, taman, hingga penataan ruang.
Lahan rumah berbentuk segitiga dengan satu sudut yang cukup tajam. Bangunan dibuat sejauh mungkin dari rumah tetangga. Langkah tersebut tidak hanya berkaitan dengan privasi, tetapi juga untuk menciptakan ruang bagi masuknya cahaya matahari dan sirkulasi udara alami.
Atap dan garasi didesain ulang agar memiliki tema yang seragam. Beberapa celah juga dibuat untuk membantu aliran udara masuk ke dalam rumah.
Foyer Jadi Galeri Pemilik
Area masuk rumah dirancang untuk membawa nuansa luar ke bagian dalam. Lantai batu dari pintu masuk dibuat memanjang ke dalam rumah, sementara tanaman hijau ditempatkan di sepanjang dua dinding tinggi.
Baca Juga: 5 Hotel Bintang Lima di Indonesia dengan Fasilitas Mewah yang Bikin Betah
Sejumlah sudut di area pintu masuk dibuat membulat agar tampilan bangunan terasa lebih menyerupai sebuah pahatan. Kanopi yang semula menggunakan kaca juga diubah selama proses desain untuk memperkuat karakter tersebut.
Pintu menggunakan kayu mindi dengan tekstur yang dibuat tidak terlalu sempurna sehingga selaras dengan karakter lantai batu.
Setelah melewati pintu masuk, terdapat foyer yang dibuat lebih tenang dan intim. Area ini sekaligus menjadi semacam galeri bagi koleksi seni milik pemilik rumah.
Di ujung foyer terdapat patung Ganesha yang disebut sebagai simbol dewa pengetahuan. Sebuah kamar tamu juga ditempatkan tersembunyi di balik struktur melengkung. Ukurannya tidak besar, tetapi telah dilengkapi kamar mandi.
Dari foyer, ruang yang semula terasa lebih tertutup kemudian perlahan terbuka menuju courtyard garden. Area tersebut terhubung dengan skylight hingga taman di bagian rooftop.
Courtyard menjadi pemisah antara area komunal di lantai dasar dan ruang privat di lantai atas. Keterbukaan ruang memungkinkan udara bergerak melintasi empat lantai rumah. Cahaya matahari juga dapat masuk pada siang hari.
Beberapa pohon sengaja ditanam agar dapat tumbuh menuju bagian atas rumah. Bahkan tersedia bukaan yang bisa dibuka ketika pohon-pohon tersebut telah tumbuh besar. Konsep itu dibuat untuk mewujudkan keinginan pemilik agar suatu hari dapat tinggal di bawah pepohonan.
Taman Tropis Gantikan Kolam Renang
Ruang makan menjadi salah satu pusat aktivitas keluarga dan teman. Posisinya berada di antara taman, ruang keluarga, dan pantry sehingga memberikan kesan lebih dekat dengan ruang luar.
Baca Juga: 7 Hotel Mewah di Jakarta yang Tawarkan Pengalaman Menginap Berkelas
Jendela bay ditambahkan sebagai area duduk tambahan. Lanskap hijau dengan elemen air juga dibuat di sekitar ruang makan sehingga penghuni dapat menikmati bagian taman dari berbagai posisi.
Menariknya, pemilik awalnya mempertimbangkan kolam renang di rooftop. Namun, pilihan tersebut akhirnya diganti menjadi taman tropis karena pertimbangan terhadap perubahan iklim.
Taman rooftop tersebut dirancang sebagai bagian dari hunian. Selain menjadi tempat berkumpul dan berbincang, taman juga disebut membantu menurunkan suhu rumah serta menyerap karbon dioksida.
Interior rumah menggunakan warna-warna netral agar koleksi karya seni pemilik dapat menjadi elemen visual utama. Barang-barang antik sebagian berasal dari keluarga dan pasar barang bekas, kemudian dipadukan dengan benda modern yang dikumpulkan secara lokal.
Salah satu furnitur bahkan memiliki cerita unik. Sebuah bangku dibeli dari warung makanan tradisional lokal setelah menarik perhatian pemilik ketika sedang berjalan di jalanan. Kini, bangku tersebut ditempatkan sebagai tempat duduk tamu di bawah karya seniman lokal.
Di lantai atas terdapat ruang keluarga privat sebagai area transisi menuju kamar tidur. Kamar utama ditempatkan di sisi timur rumah agar pemilik bisa mendapatkan sinar matahari pagi. Pepohonan ditambahkan untuk menyaring cahaya sekaligus menjaga privasi.
Kamar mandi utama juga dibuat terbuka dengan bathtub yang ditempatkan di depan jendela besar. Jendela tersebut dapat dibuka untuk memasukkan cahaya dan udara segar.
Bagi StudioRK, rumah ini menunjukkan bagaimana arsitektur dapat menjadi wadah bagi budaya keluarga sekaligus kebutuhan kehidupan modern. Tradisi, karya seni, tanaman, cahaya, dan udara alami dipadukan agar hunian dapat terus berkembang bersama penghuninya.
Editor : M. Helmi Nurhisam