PEJENG - Rumah Haruku menjadi wujud perpaduan antara akar budaya, arsitektur tradisional Indonesia, dan kehidupan yang dekat dengan alam. Rumah milik Raisa dan Tijn tersebut berada di Pejeng, Bali, dan dirancang agar menyatu dengan lingkungan sekitarnya tanpa tampil mencolok.
Raisa merupakan desainer yang bekerja di bidang seni dan desain tekstil. Ia bersama Tijn berasal dari Belanda dan telah tinggal di Bali selama lebih dari empat tahun. Bagi Raisa, Rumah Haruku bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap akar keluarganya di Maluku.
Nama Haruku diambil dari Pulau Haruku, Maluku, tempat leluhur Raisa berasal. Ia mengatakan memiliki ikatan yang kuat dengan cara hidup leluhurnya yang selaras dengan sumber daya alam di pulau tersebut.
Ketika pertama kali datang ke Indonesia dan mengunjungi keluarganya di Maluku, Raisa merasakan pengalaman emosional yang sulit dijelaskan. Tinggal di Indonesia kemudian menjadi perjalanan untuk lebih dekat dengan akar keluarganya sekaligus menemukan ketenangan.
Rumah tersebut juga menjadi penghormatan kepada kakek dan nenek Raisa yang disebut telah melalui banyak hal demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
Ditemukan Saat Jalan-jalan dengan Anjing
Ide memiliki rumah di kawasan tersebut bermula sekitar tiga tahun sebelumnya. Saat masih tinggal di rumah sewaan di sekitar lokasi, Raisa dan Tijn berjalan-jalan bersama anjing mereka.
Baca Juga: 5 Hotel Unik di Indonesia untuk Pengalaman Menginap yang Tak Biasa
Dalam perjalanan itu, keduanya menemukan pemandangan persawahan dan hutan yang menurut mereka luar biasa. Raisa kemudian mengungkapkan keinginannya untuk tinggal di tempat tersebut selamanya.
Tidak lama kemudian, seorang petani lokal lewat dan bertanya apakah mereka sedang mencari lahan. Ia kemudian menunjukkan sebidang tanah di sebelah lahannya.
Lokasi tersebut akhirnya dipilih sebagai tempat membangun rumah. Hubungan mereka dengan petani itu pun berkembang menjadi hubungan tetangga sekaligus persahabatan dekat.
Sejak awal, pasangan ini tidak ingin membangun rumah berbentuk blok beton. Mereka ingin mempertahankan karakter arsitektur Indonesia sekaligus menghormati lingkungan alami di sekitarnya.
Mereka juga memperhatikan jenis lahan yang digunakan. Tanah yang dipilih bukan bagian dari sawah aktif sehingga pembangunan rumah tidak mengambil lahan yang masih digunakan pemiliknya untuk menanam makanan atau mencari penghasilan.
Rumah Panjang Bertemu Gaya Jepang dan Bali
Konsep Rumah Haruku terinspirasi dari rumah panjang atau rumah panjang tradisional Borneo. Bentuk tersebut kemudian dipadukan dengan referensi material dan elemen arsitektur tradisional Indonesia, sumber daya lokal, serta atap limasan yang terinspirasi dari Bali.
Baca Juga: 5 Hotel untuk Keluarga di Malang dengan Pilihan Fasilitas Beragam
Pasangan ini juga memiliki ketertarikan terhadap desain dan arsitektur Jepang. Prinsip ruang yang dapat beradaptasi dengan aktivitas penghuninya menjadi salah satu inspirasi utama.
Hasilnya terlihat pada ruang komunal yang dapat berubah sesuai waktu. Ruang keluarga memiliki area duduk yang dibuat lebih rendah dengan meja kopi besar. Namun, pintu-pintu di sekelilingnya dapat dibuka sehingga ruang tersebut langsung terhubung dengan dek yang mengelilingi rumah.
Pada siang hari, pintu dibuka untuk menghadirkan hubungan lebih kuat dengan alam. Sementara pada malam hari, pintu ditutup sehingga suasana menjadi lebih kecil dan nyaman.
Dek juga menjadi salah satu area yang sering digunakan. Perbedaan level dan pagar pembatas secara alami menciptakan sejumlah tempat duduk yang nyaman untuk bersantai maupun berkumpul.
Area makan menjadi ruang pertama yang ditemui ketika memasuki rumah. Interiornya dibuat sederhana dengan meja hitam berukuran besar dan berbagai kursi kayu yang dikumpulkan pasangan tersebut.
Lampu berbahan serat pisang buatan perajin Jepang yang tinggal di Bali menjadi salah satu elemen penting di ruang makan.
Bagi Raisa, dapur merupakan jantung Rumah Haruku. Aktivitas memasak menjadi bagian dari keseharian sekaligus momen berkumpul bersama keluarga dan teman.
Dapur dibuat luas dan menyatu dengan ruang utama. Saat memasak, percakapan dapat berlangsung dengan orang yang duduk di meja maupun mereka yang berada di dek.
Sementara itu, kamar tamu dihiasi kain ikat tradisional. Raisa menyebut kain tersebut sebagai salah satu karya seni favoritnya di rumah. Kain ikat dibuat secara manual oleh komunitas perempuan dan proses pembuatannya dapat berlangsung hingga satu tahun atau lebih. Pewarnaannya juga menggunakan tanaman dan akar alami dari kawasan setempat.
Rumah Haruku pada akhirnya menjadi gambaran tentang kehidupan yang lebih pelan dan dekat dengan alam. Bagi Tijn, berpindah dari kehidupan kota Amsterdam yang serba cepat menuju kehidupan yang lebih tenang di Pejeng menjadi keputusan terbaik.
Setiap pagi, cahaya yang menembus kabut hutan menjadi pengingat bagi pasangan tersebut tentang alasan mereka memilih tinggal di rumah yang dirancang untuk menyatu dengan lingkungan.
Editor : M. Helmi Nurhisam