JAKARTA - Hari baik membangun rumah menurut Jawa tidak hanya dihitung berdasarkan hari dan pasaran. Dalam tradisi yang dijelaskan oleh seorang narasumber dalam sebuah video, pemilihan waktu pembangunan juga dapat mempertimbangkan bulan, neptu, wuku hingga jam saat peletakan batu pertama.
Hitungan tersebut merupakan bagian dari budaya dan kepercayaan Jawa yang diwariskan dari para leluhur. Salah satu perhitungan yang disebut umum digunakan adalah mencari hari dengan jumlah neptu 13 dan hasil hitungan yang masuk kategori Candi.
Namun, terdapat satu kombinasi yang disebut lebih istimewa dibandingkan hari lainnya, yakni Selasa Legi. Hari tersebut dikatakan memiliki pertemuan hitungan tertentu yang dianggap sangat baik untuk memulai pembangunan rumah.
Selasa Legi Disebut Sangat Istimewa
Dalam penjelasan tersebut, perhitungan hari membangun rumah memiliki dua pasangan hitungan. Salah satunya menggunakan Kertayasa, Candi, Raga dan Sempoyong. Sementara pasangan lainnya disebut Ringkel, Dedel, Nabi dan Sleman.
Baca Juga: Hotel Unik di Jogja dengan Konsep Greenhouse, Ada Kolam Renang di Tengah Area Hijau
Hari yang dianggap istimewa adalah ketika hitungan Kertayasa jatuh pada Candi dan hitungan pasangannya jatuh pada Nabi atau Sleman.
Kombinasi tersebut disebut terjadi pada Selasa Legi. Neptu Selasa Legi dalam penjelasan itu berjumlah delapan. Hitungan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam rangkaian Kertayasa, Candi, Raga, Sempoyong hingga mendapatkan kategori Candi.
Menurut narasumber, Selasa Legi menjadi istimewa karena kedua rangkaian hitungan tersebut bertemu pada kategori yang dianggap baik.
Bahkan, dalam satu tahun disebut hanya ada satu hari yang memenuhi kombinasi tersebut. Karena itu, masyarakat yang mengikuti hitungan Jawa tidak selalu harus menunggu hari yang dianggap paling istimewa. Hari dengan kategori Candi juga disebut sudah termasuk baik.
Bulan Besar hingga Peletakan Batu Pertama
Selain hari, bulan juga menjadi bagian dari perhitungan. Beberapa bulan yang disebut baik antara lain Syawal, Bakda Mulud dan Rejeb. Sementara Mulud dan Ruwah disebut sebagai bulan yang lebih jarang digunakan untuk memulai pembangunan rumah.
Baca Juga: Feng Shui Rumah Bisa Bawa Rezeki? Ini yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Beli Properti
Dari sejumlah pilihan tersebut, bulan Besar disebut sebagai salah satu waktu yang paling baik. Dalam kepercayaan yang dijelaskan, kata “Besar” dikaitkan dengan harapan terhadap kemuliaan, keberuntungan dan rezeki yang lebih besar.
Setelah menentukan bulan dan hari, waktu pelaksanaan juga diperhitungkan. Jam yang dipilih dapat dicari menggunakan hitungan Urip, Lara dan Pati.
Narasumber menjelaskan bahwa jam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan hari yang telah dipilih. Tujuannya agar waktu pelaksanaan berada pada hitungan yang dianggap Urip.
Namun, perhitungan jam tidak selalu berarti seluruh pekerjaan pembangunan harus dilakukan pada waktu tersebut. Yang menjadi perhatian utama adalah proses awal atau peletakan batu pertama.
Dalam tradisi yang dijelaskan, peletakan batu pertama menjadi bagian penting karena dianggap sebagai awal berdirinya rumah. Orang yang memiliki hajat atau pemilik rumah juga disebut harus terlibat dalam proses tersebut.
Artinya, pemilik rumah tidak sekadar menyerahkan pekerjaan kepada tukang. Peletakan batu pertama dilakukan oleh orang yang memiliki hajat membangun rumah sebagai bagian dari tradisi.
Renovasi dan Pindah Rumah Juga Diperhitungkan
Hitungan tersebut tidak hanya berlaku untuk membangun rumah baru. Renovasi rumah juga dapat menggunakan pertimbangan serupa apabila pekerjaan yang dilakukan cukup besar.
Jika renovasi hanya menyentuh bagian kecil seperti mengganti beberapa genteng atau usuk, perhitungan hari disebut tidak selalu diperlukan. Namun, jika pekerjaan sudah menyangkut bagian utama bangunan atau struktur, hari pelaksanaan dapat kembali diperhitungkan.
Tradisi serupa juga disebut berlaku bagi seseorang yang membeli rumah dan hendak menempatinya. Hari baik dapat dicari untuk proses boyongan atau pindah rumah.
Pada akhirnya, narasumber menegaskan bahwa pembahasan tersebut merupakan bagian dari budaya Jawa. Tidak ada ajakan maupun kewajiban untuk mengikuti hitungan tersebut.
Bagi masyarakat yang masih memegang tradisi leluhur, perhitungan hari, bulan dan waktu dapat menjadi bagian dari persiapan membangun rumah. Harapannya adalah rumah yang ditempati membawa keselamatan, kesehatan, ketenteraman dan rezeki bagi penghuninya.
Editor : M. Helmi Nurhisam