JAKARTA - Menentukan hari baik membangun rumah dalam tradisi Jawa tidak hanya melihat kalender atau memilih tanggal tertentu. Ada perhitungan yang menggabungkan neptu suami, neptu istri, dan neptu hari yang dipilih untuk memulai pembangunan atau renovasi rumah.
Dalam penjelasan pada video tersebut, perhitungan ini dikenal sebagai pitung atau cara memilih waktu yang dianggap paling baik menurut kebudayaan Jawa. Tujuannya untuk menentukan hari yang dipercaya dapat membawa kebaikan bagi penghuni rumah.
Selain hari, bulan juga menjadi bagian yang diperhatikan. Dalam kalender Jawa terdapat sejumlah bulan yang memiliki penilaian berbeda untuk kegiatan membangun rumah, membuat pondasi, maupun melakukan renovasi.
Tiga Bulan yang Disebut Baik
Dari sejumlah bulan dalam kalender Jawa, ada tiga bulan yang disebut baik untuk membangun atau merenovasi rumah. Ketiganya adalah Bakda Mulud, Ruwah, dan Besar.
Baca Juga: Feng Shui Rumah Dimulai dari Tanah, Kenali Bentuk Kavling yang Perlu Diperhatikan
Bakda Mulud disebut sebagai salah satu bulan yang baik untuk membangun rumah karena dipercaya dapat membawa rezeki. Bulan berikutnya adalah Ruwah, yang juga disebut baik untuk memulai pembangunan, termasuk membuat pondasi maupun melakukan renovasi.
Sementara itu, bulan Besar dianggap baik untuk berbagai keperluan. Dalam tradisi yang dijelaskan, bulan tersebut juga dikaitkan dengan kegiatan penting lainnya seperti pernikahan.
Sebaliknya, ada bulan yang disebut kurang baik hingga sangat tidak baik. Syawal menjadi salah satu bulan yang paling dihindari untuk membangun rumah. Jumadil Akhir dan Rajab disebut masih dapat digunakan, tetapi kurang baik.
Karena itu, orang yang mengikuti perhitungan tersebut biasanya terlebih dahulu memilih salah satu dari tiga bulan yang dianggap baik sebelum menentukan tanggal pembangunannya.
Neptu Suami dan Istri Ikut Dihitung
Setelah menentukan bulan, langkah berikutnya adalah menghitung neptu. Perhitungan dilakukan dengan menggabungkan neptu weton suami dan istri, kemudian ditambah neptu hari yang dipilih untuk memulai pembangunan.
Baca Juga: 10 Hotel Murah di Surabaya dengan Lokasi Strategis dan Fasilitas Lengkap
Hasil penjumlahan tersebut kemudian dibagi lima. Angka lima digunakan karena dalam konsep Jawa terdapat lima pola atau siklus yang berkaitan dengan konsep sedulur papat limo pancer.
Sisa hasil pembagian menjadi penentu dalam hitungan tersebut. Masing-masing sisa memiliki makna berbeda.
Jika hasilnya menyisakan empat, hari tersebut disebut kurang baik karena dipercaya dapat membuat penghuni rumah mengalami masalah kesehatan.
Sisa tiga justru dianggap membawa rezeki yang berlimpah. Sementara sisa dua dikaitkan dengan karier, derajat, dan pangkat yang baik.
Adapun sisa satu disebut memiliki makna kekayaan yang melimpah. Dalam penjelasan tersebut, hasil ini juga dikaitkan dengan kekayaan berupa emas dan perak.
Hasil Lima atau Habis Dibagi Perlu Dihindari
Selain empat kemungkinan tersebut, ada kondisi ketika hasil perhitungan habis dibagi lima atau tidak menyisakan angka. Kondisi ini disebut sebagai hasil yang perlu dihindari.
Dalam istilah yang digunakan pada penjelasan tersebut, hasil ini berkaitan dengan konsep pati. Maknanya dianggap kurang baik karena dikaitkan dengan kematian atau terhambatnya rezeki.
Sebagai contoh, diberikan simulasi perhitungan pasangan yang memiliki neptu masing-masing 12 dan 18. Jika keduanya ingin membangun rumah pada Minggu Legi dengan neptu 10, total perhitungannya menjadi 40.
Angka tersebut kemudian dibagi lima dan menghasilkan pembagian tanpa sisa. Berdasarkan hitungan yang dijelaskan, kondisi tersebut membuat Minggu Legi dianggap tidak baik untuk digunakan sebagai hari memulai pembangunan.
Karena itu, masyarakat yang mengikuti tradisi ini dapat mencari tanggal lain yang menghasilkan sisa satu, dua, atau tiga. Sementara sisa empat dan hasil habis dibagi lima disebut sebaiknya dihindari.
Perhitungan tersebut berlaku untuk berbagai kegiatan yang berkaitan dengan rumah, mulai dari membangun rumah, membuat pondasi, hingga melakukan renovasi.
Meski demikian, seluruh hitungan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan kebudayaan Jawa. Makna mengenai rezeki, kesehatan, karier, maupun keberuntungan merupakan keyakinan dalam tradisi tersebut, bukan kepastian ilmiah.
Editor : M. Helmi Nurhisam