TANGERANG - Rumah 2 lantai dengan budget Rp400 jutaan bisa menjadi hunian idaman meski dibangun tanpa bantuan arsitek dan kontraktor. Hal itu terlihat dari rumah milik Eka dan Virsa yang berdiri di atas tanah seluas 90 meter persegi di Kabupaten Tangerang.
Rumah tersebut memiliki luas tanah 6 x 15 meter dengan luas bangunan sekitar 80 meter persegi. Proses pembangunannya dilakukan secara bertahap dan menggunakan jasa tukang tanpa melibatkan arsitek maupun kontraktor.
Eka bersama suaminya merancang sendiri konsep hingga tata ruang rumah. Keduanya juga mencari material secara mandiri untuk menyesuaikan dengan budget yang tersedia.
Dari sisi eksterior, rumah ini mengusung konsep Scandinavian yang dipadukan dengan nuansa tropis. Ciri Scandinavian terlihat dari bentuk atap segitiga, sedangkan unsur tropis hadir melalui penggunaan aksen kayu.
Eka memilih warna eksterior yang cenderung kalem dan netral. Menurutnya, warna tersebut dipilih agar tidak terlalu mencolok. Aksen kayu kemudian digunakan supaya tampilan rumah tidak monoton.
Baca Juga: Migran Care : Pengawasan Lemah Pekerja Migran Kabupaten Blitar, Rentan Terjebak Informasi Palsu
Dibangun Bertahap dengan Budget Terbatas
Salah satu hal yang cukup diperhatikan dalam pembangunan rumah ini adalah posisi bangunan yang dibuat lebih tinggi dari jalan. Eka sengaja menaikkan posisi rumah karena memperkirakan jalan di depan rumah dapat semakin tinggi dan ingin mengantisipasi masalah air.
Bagian carport juga dibuat dengan tingkat kemiringan yang telah disesuaikan agar tetap aman untuk kendaraan. Untuk menghemat biaya, pagar menggunakan lisplang yang dibuat menyerupai tekstur kayu.
Area teras dan carport menggunakan kombinasi atap solar flat. Material tersebut membuat area tertentu tetap terang sekaligus membantu menjaga area carport tetap teduh.
Di bagian teras terdapat area duduk yang dilengkapi roster untuk membantu sirkulasi udara. Area tersebut juga digunakan sebagai tempat khusus bagi ayah Eka yang ingin merokok sehingga aktivitas tersebut tidak dilakukan di dalam rumah.
Masuk ke dalam, rumah memiliki konsep open space. Area living room, ruang makan, hingga taman di bagian belakang dibuat saling terhubung secara visual.
Rumah ini juga memiliki plafon yang mengikuti bentuk atap dengan ketinggian sekitar 7 meter. Untuk interior, Eka memilih gaya Japandi dengan warna-warna netral dan furniture yang compact.
Sofa di ruang keluarga bahkan dapat difungsikan sebagai sofa bed. Kabinet TV juga dibuat menggantung agar tidak terlalu banyak memakan ruang.
Taman menjadi salah satu bagian yang cukup menonjol. Eka memang menginginkan adanya taman di dalam rumah sekaligus sirkulasi udara yang baik. Area tersebut dilengkapi tanaman, bench, rumput sintetis, serta akuarium milik sang suami.
Baca Juga: Antisipasi Keracunan Usai Santap MBG, Wali Kota beserta jajaran aparat sidak ke SPPG di Kota Blitar
Di sisi belakang terdapat area servis dengan dua keran. Salah satunya digunakan untuk mesin cuci, sedangkan lainnya untuk area wudu. Area ini dibuat terbuka agar udara dapat mengalir dengan baik.
Tak Ingin Mengambil KPR
Keputusan membangun rumah secara mandiri juga berkaitan dengan pilihan Eka dan suaminya untuk tidak menggunakan KPR. Setelah menikah, keduanya memilih tinggal di kontrakan tiga petak sembari mengumpulkan dana untuk membangun rumah.
Tanah untuk rumah tersebut sudah tersedia. Karena itu, mereka memilih menunggu hingga budget pembangunan terkumpul sebelum memulai proses pembangunan dari nol.
"Jadi kita pilih untuk kontrak dulu, terus kita kumpulin budgetnya," kata Eka dalam video tersebut.
Rumah itu dibangun pada 2024 dan membutuhkan waktu sekitar lima bulan hingga selesai dan mereka bisa pindah. Meski tanpa arsitek dan kontraktor, Eka mengaku sejauh ini puas dengan hasil akhirnya.
Namun, proses pembangunan tetap memiliki kendala. Salah satunya adalah miskomunikasi dengan tukang meski denah dan desain sudah diberikan. Beberapa bagian akhirnya harus dikerjakan ulang karena terjadi perbedaan persepsi.
Menurut Eka, komunikasi dan kontrol menjadi hal penting ketika membangun rumah sendiri. Setiap tahapan pekerjaan perlu diperiksa dan dikomunikasikan kembali kepada tukang, terutama saat memasuki tahap finishing.
"Kalau tips sih dari aku harus komunikasinya itu harus benar-benar sama tukang," ujar Eka.
Ia menilai tahap finishing membutuhkan perhatian lebih karena detail pekerjaan akan langsung terlihat. Pemasangan material seperti granit juga perlu dikontrol agar hasilnya sesuai dengan desain yang telah dibuat.
Meski lantai dua rumah tersebut belum sepenuhnya selesai, berbagai persiapannya sudah dibuat sejak awal. Jalur listrik, pembuangan AC, hingga pipa telah direncanakan agar pembangunan berikutnya tidak perlu membongkar bagian rumah yang sudah selesai.
Dengan konsep yang dirancang sendiri, pembangunan bertahap, serta penyesuaian material, rumah 2 lantai budget Rp400 jutaan ini menjadi contoh bagaimana Eka dan Virsa membangun hunian sesuai kemampuan finansial tanpa menggunakan KPR maupun jasa arsitek dan kontraktor.
Source: Youtube/@WicakMifta
Editor : Arsya Aulia Velinka Putri