JAKARTA - Bonsai Santigi dapat dibentuk dengan konsep di atas batu atau on the rock melalui pengaturan batang, akar, dan media secara bertahap. Dalam proses yang ditampilkan, batu terlebih dahulu dipilih dan disiapkan agar dapat menjadi tumpuan tanaman sebelum Santigi ditempatkan di atasnya.
Pemilihan batu menjadi tahap awal dalam pembentukan karya tersebut. Batu yang dianggap sesuai kemudian dicoba dalam beberapa posisi untuk menentukan konsep yang paling cocok. Bentuk dan keseimbangan batu diperhatikan agar nantinya tidak mudah jatuh atau berguling ketika diletakkan di dalam pot.
Jika batu akan dibuat berdiri, bagian bawahnya perlu dibuat rata. Proses meratakan dilakukan menggunakan gerinda. Bagian yang tidak diperlukan tidak harus dipipihkan seluruhnya. Yang terpenting, bagian tumpuan cukup rata sehingga batu dapat berdiri dengan aman.
Dalam pengerjaan menggunakan gerinda, pembuat bonsai juga menyebut pentingnya menggunakan perlengkapan keselamatan, terutama kacamata. Setelah bagian bawah batu diratakan, batu kembali dicoba untuk memastikan posisinya dapat berdiri dengan baik.
Baca Juga: Tujuh Anggota DPRD Kota Blitar Dilaporkan Terkait Aksi KONI, Ini Duduk Perkaranya
Batang dan Akar Mulai Disiapkan
Setelah batu siap, tanaman kemudian disiapkan untuk mengikuti konsep yang telah ditentukan. Dalam video, rencana pembentukan diarahkan agar tanaman memiliki gaya yang mengarah ke bawah pada batu.
Bahan tanaman yang berasal dari proses cangkok dipersiapkan sebelum ditempatkan. Tanaman tersebut perlu memiliki akar yang cukup banyak sebelum dipotong dari bagian induknya. Setelah akar dinilai sudah memenuhi kebutuhan, bahan dapat dipisahkan dan dipersiapkan untuk proses berikutnya.
Sebelum dipasang pada batu, tanaman dipotong dan kemudian dikawat. Pemotongan dilakukan agar proses pemasangan kawat menjadi lebih mudah sekaligus membantu mengurangi beban tanaman setelah dipisahkan dari induknya.
Setelah dipotong, tanaman tidak lagi mendapatkan asupan dari induknya sehingga harus mengandalkan akar sendiri. Karena itu, proses penanganan dilakukan dengan memperhatikan kondisi tanaman.
Kawat kemudian dipasang mengikuti konsep yang diinginkan. Untuk gaya yang mengarah ke bawah, batang dilengkungkan sebelum akhirnya dibentuk sesuai selera. Kawat dibuat rapat agar ikatan lebih kuat ketika batang mulai diarahkan.
Moss Dipakai untuk Mengatur Akar
Setelah batang dikawat, bagian akar mulai dipersiapkan untuk ditempatkan pada batu. Akar yang sudah tersedia diarahkan agar nantinya dapat tumbuh memanjang ke bawah.
Untuk membantu mengatur pertumbuhan akar, digunakan moss atau serabut kelapa yang telah disuwir menjadi bagian-bagian kecil. Bahan tersebut dibasahi sebelum digunakan.
Moss ditempatkan pada bagian yang menjadi jalur pertumbuhan akar. Dalam video dijelaskan, bahan tersebut digunakan untuk menjaga kelembapan sekaligus membantu merangsang akar agar tumbuh ke arah bawah.
Semakin banyak moss yang digunakan, bagian tersebut dapat menahan kelembapan lebih lama. Lubang-lubang pada area tertentu juga diberi moss agar akar memiliki jalur untuk masuk dan berkembang.
Setelah moss terpasang, bahan tersebut ditahan menggunakan tali rafia. Pengikatan diperlukan agar moss tidak jatuh saat tanaman nantinya dibungkus menggunakan plastik.
Plastik kemudian digunakan untuk membungkus bagian akar dari atas ke bawah. Cara tersebut dipilih agar air yang masuk dapat mengalir ke bawah dan tidak mudah keluar melalui sambungan plastik. Setelah dibungkus, bagian tersebut kembali diikat agar tidak mudah terlepas akibat panas, hujan, atau air.
Tanaman Dipasang pada Batu
Bagian bawah plastik tetap diberi lubang. Lubang tersebut dibuat agar ketika media diberikan, akar memiliki ruang untuk keluar dan melanjutkan pertumbuhan.
Tanaman kemudian ditempatkan pada batu sesuai konsep yang telah dibuat. Untuk penanaman, digunakan pot atau wadah yang dapat menopang batu dan tanaman.
Baca Juga: Tujuh Anggota DPRD Kota Blitar Dilaporkan Terkait Aksi KONI, Ini Duduk Perkaranya
Bagian bawah diberi kawat nyamuk atau sarangan sebagai penahan media agar tidak langsung jatuh. Pengaman juga dipasang untuk mengurangi risiko batu bergeser akibat guncangan atau terkena benturan.
Media tanam yang digunakan berupa pasir Malang dan kotoran kambing. Media tersebut ditempatkan pada ruang yang telah disiapkan di sekitar batu.
Keseimbangan atau balance juga diperhatikan saat batu dimasukkan ke dalam pot. Posisi berat batu perlu diatur agar susunan tidak mudah berubah. Setelah posisinya sesuai, batu kembali dikawat sebagai pengaman tambahan.
Pengamanan tersebut bersifat sementara. Ketika akar sudah berkembang dan memenuhi bagian yang diperlukan, kawat dapat dilepas.
Proses pembentukan Bonsai Santigi ini masih membutuhkan perawatan dan perkembangan akar. Konsep on the rock tidak hanya mengandalkan bentuk batang, tetapi juga pengaturan akar agar mengikuti batu dan tumbuh menuju bagian bawah. Dengan tahapan tersebut, bahan tanaman diarahkan menjadi karya bonsai sesuai konsep yang telah ditentukan.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Dzat Insan Bonsai