JAKARTA - Steam Deck LCD masih menjadi pilihan menarik bagi sebagian pengguna handheld PC gaming meski usianya sudah beberapa tahun. Dalam ulasan Teknobes, perangkat keluaran awal Valve tersebut dipilih bukan karena menjadi handheld dengan performa paling tinggi, melainkan karena harga bekas yang lebih terjangkau, kenyamanan penggunaan, serta kemampuannya menjalankan banyak game PC.
Teknobes memutuskan membeli Steam Deck LCD pada akhir 2025 setelah mempertimbangkan kebutuhan bermain yang terbatas. Setelah digunakan lebih dari satu bulan, perangkat tersebut dinilai masih mampu menjalankan berbagai game, termasuk sejumlah game AAA.
Harga Bekas Jadi Pertimbangan Utama
Steam Deck LCD pertama kali dirilis pada 2022 dalam pilihan penyimpanan 64 GB, 256 GB, dan 512 GB. Dalam transkrip, produksi varian 64 GB dan 512 GB disebut telah dihentikan sejak 2023, sementara produksi varian LCD 256 GB juga disebut akan dihentikan pada akhir 2025.
Baca Juga: Kolam Labuh Tambakrejo Dangkal, Pemkab Blitar Koordinasi dengan Pemprov
Kondisi tersebut membuat pasar Steam Deck LCD bekas menjadi salah satu pilihan bagi pengguna yang ingin mendapatkan handheld PC dengan harga lebih rendah.
Teknobes sendiri mendapatkan Steam Deck LCD bekas dengan penyimpanan 1 TB yang merupakan hasil upgrade, bukan kapasitas bawaan pabrik. Setelah melalui proses negosiasi, perangkat tersebut diperoleh dengan harga Rp5,25 juta.
Varian 64 GB bekas juga disebut dapat menjadi opsi bagi pengguna dengan anggaran terbatas. Penyimpanan internal kemudian dapat ditingkatkan menggunakan SSD berkapasitas lebih besar.
Baca Juga: Aditya Yoga Widiansyah, Kreator Muda Blitar yang Mengangkat Cerita dari Balik Kamera
Baterai dan Desain Masih Mendukung Gaming Santai
Steam Deck LCD bukan perangkat yang dikenal memiliki daya tahan baterai paling panjang. Namun, dalam pemakaian Teknobes, baterainya masih mampu bertahan sekitar 3-4 jam untuk game ringan, sedangkan game AAA berada di kisaran 1-2 jam.
Durasi tersebut dinilai cukup untuk pengguna yang memang hanya memiliki waktu bermain sekitar satu hingga dua jam sehari.
Selain baterai, desain Steam Deck juga menjadi salah satu pertimbangan. Bodinya memang relatif besar, tetapi grip yang tebal, trigger yang empuk, dan touchpad membuat perangkat dianggap nyaman digunakan dalam waktu lama.
Keunggulan tersebut terasa terutama bagi pengguna yang ingin bermain secara fleksibel, baik sambil duduk maupun bersantai tanpa harus berada di depan PC atau televisi.
Steam Deck LCD Tidak Mengejar FPS Tinggi
Dari sisi performa, Steam Deck LCD bukan perangkat yang dirancang untuk mengejar frame rate tertinggi. Dalam penggunaan yang dibahas Teknobes, target sekitar 30 fps dianggap sudah mencukupi untuk sebagian besar game yang dimainkan.
Baca Juga: Al Kiswah Syariah Guest House, Penginapan Nyaman dengan Tarif Mulai Rp165 Ribu
Game indie seperti Little Nightmares 3 disebut dapat berjalan stabil di sekitar 30 fps. Sementara itu, Ghost of Tsushima dengan pengaturan medium juga disebut mampu mempertahankan sekitar 30 fps selama dimainkan lebih dari dua jam.
Namun, tidak semua game AAA dapat memberikan pengalaman serupa. Beberapa judul disebut hanya mampu berjalan sekitar 25 fps meski pengaturan grafis sudah diturunkan sehingga dapat muncul stuttering.
Steam Deck juga memiliki sistem klasifikasi kompatibilitas game berupa Verified, Playable, Unsupported, dan Unknown. Label tersebut membantu pengguna mengetahui apakah sebuah game membutuhkan penyesuaian tertentu atau belum diuji kompatibilitasnya.
Baca Juga: Kecelakaan Simpang Empat JLS Tambakrejo Terjadi Dua Kali Sepekan, Pengendara Motor Luka Berat
Steam Deck OLED Bukan Pengganti Total Versi LCD
Salah satu pertimbangan sebelum membeli Steam Deck LCD adalah versi OLED. Dalam ulasan tersebut, Steam Deck OLED disebut memang membawa sejumlah peningkatan, tetapi bukan perubahan total pada performa.
Keduanya masih menggunakan CPU AMD Zen 2 dan GPU RDNA 2 serta RAM 16 GB LPDDR5. Perbedaan yang paling terlihat berada pada layar.
Steam Deck OLED memiliki layar yang sedikit lebih besar dengan panel OLED, tingkat kecerahan dan kontras yang lebih tinggi, serta refresh rate 90 Hz. Sementara Steam Deck LCD menggunakan layar 60 Hz. Resolusi maksimal keduanya tetap 1280 x 800 piksel.
Karena performa hardware utama tidak berubah secara drastis, perbedaan pengalaman antara LCD dan OLED lebih terasa pada kualitas layar dibandingkan kemampuan menjalankan game.
Library Game Tetap Sama
Steam Deck LCD dan OLED sama-sama menggunakan SteamOS berbasis Linux. Dalam ulasan tersebut, Teknobes menegaskan bahwa jumlah library game bukan pembeda utama antara keduanya.
Baca Juga: Bursa Ketua KONI Kota Blitar Memanas, Wawali Elim Tyu Samba dan Inspektur Daerah Ratih Dewi Indarti
Game yang kompatibel dengan Steam Deck OLED pada dasarnya juga dapat dimainkan pada Steam Deck LCD, selama perangkat memenuhi persyaratan kompatibilitasnya.
Bagi pengguna yang tidak mengejar grafis maksimal atau FPS tinggi, Steam Deck LCD masih dapat menjadi perangkat untuk memainkan koleksi game Steam secara lebih fleksibel.
Pada akhirnya, pilihan Steam Deck LCD dalam ulasan tersebut lebih didasarkan pada harga dan kebutuhan penggunaan. Dengan perangkat bekas yang diperoleh sekitar Rp5,25 juta setelah upgrade penyimpanan menjadi 1 TB, Teknobes menilai perangkat tersebut sudah memenuhi kebutuhan gaming dengan waktu bermain yang terbatas.
Steam Deck LCD memang bukan handheld PC dengan performa tertinggi. Namun, bagi pengguna yang lebih mempertimbangkan harga, kenyamanan, portabilitas, dan kemampuan memainkan game yang sudah dimiliki, perangkat tersebut masih memiliki alasan untuk dipertimbangkan pada 2026.
Source YouTube TecnologyZ
Editor : Valentyo Samuel Putra Widodo