Fenomena Cancel Culture di Era Digital, Gen Z Bisa Kehilangan Kepercayaan Diri karena Dikucilkan

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi fenomena cancel culture di kalangan remaja yang dapat berdampak pada kepercayaan diri.
Ilustrasi fenomena cancel culture di kalangan remaja yang dapat berdampak pada kepercayaan diri.

 

BLITAR KAWENTAR - Fenomena cancel culture di era digital tidak hanya berlangsung di media sosial. Perilaku mengucilkan, menjauhkan seseorang dari kelompok pertemanan, hingga tidak menerima anggota tertentu juga bisa terjadi di lingkungan remaja.

 Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan sosial, terutama ketika persoalan pertemanan kemudian meluas ke ruang digital.

Kehidupan sosial anak muda saat ini berlangsung di dua ruang sekaligus, yakni lingkungan secara langsung dan media sosial.

Baca Juga: Sidak Joko Pangon, Komisi III DPRD Kota Blitar Soroti Material hingga Progres Proyek

Bahkan, komunikasi melalui group chat membuat persoalan yang awalnya terjadi di antara beberapa orang dapat diketahui oleh anggota kelompok yang lebih luas.

 Karena itu, fenomena cancel culture perlu mendapat perhatian dari lingkungan sekolah maupun keluarga.

Guru BK SMAN 1 Blitar Rini Ratnaningsih mengatakan, pihaknya sejauh ini belum menemukan kasus cancel culture atau pengucilan antarteman yang tergolong serius di sekolah.

Baca Juga: Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan di JMO, Cukup Lewat HP

Meski demikian, konflik pertemanan dan kelompok yang tidak menerima salah satu anggota tetap menjadi dinamika yang mungkin terjadi pada usia remaja.

Menurut Rini, penerimaan dari teman sebaya memiliki arti penting bagi anak-anak seusia SMA.

Ketika seorang siswa merasa ditolak, dipermalukan, atau dikucilkan, kondisi tersebut dapat membuat mereka merasa malu dan tidak nyaman.

Situasi tersebut bahkan dapat berpengaruh terhadap kepercayaan diri siswa. Anak yang merasa tidak diterima dalam lingkungan pertemanannya bisa menunjukkan perubahan sikap.

 Terlebih jika persoalan tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi ikut terbawa ke media sosial atau group chat.

Ruang sosial yang semakin luas membuat persoalan pribadi seorang siswa berpotensi diketahui lebih banyak orang.

Baca Juga: Cara Cek KTP Online Lewat Aplikasi IKD, Ini Syarat dan Tahapan Aktivasi

Hal ini dapat membuat tekanan yang dirasakan menjadi semakin berat karena masalah tidak hanya terjadi dalam interaksi tatap muka.

Rini menjelaskan, salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah perubahan perilaku siswa. Anak dapat menjadi lebih pendiam, menarik diri, enggan masuk sekolah, atau terlihat tidak nyaman ketika berada di lingkungan pertemanan.

Karena itu, deteksi dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah persoalan berkembang. Guru, orang tua, dan teman sebaya memiliki peran untuk memperhatikan perubahan perilaku yang muncul pada siswa.

Baca Juga: Profil Amanda Rigby, Perjalanan Karier dari Bintang Iklan hingga Aktris

Ketika terdapat perubahan sikap, siswa perlu diberikan ruang untuk bercerita. Pendekatan tersebut dapat membantu sekolah memahami persoalan yang sedang dihadapi siswa sekaligus menentukan langkah pendampingan yang diperlukan.

Di lingkungan sekolah, Rini mengatakan pendekatan preventif dilakukan melalui layanan Bimbingan dan Konseling atau BK.

 Siswa diberikan pemahaman mengenai pertemanan yang sehat, komunikasi, empati, serta penghargaan terhadap perbedaan.

Baca Juga: Andre Taulani Nikahi Amanda Rigby, Erin Wartia Kembali Disorot Usai Perceraian

Pemahaman tersebut penting karena dinamika kelompok merupakan bagian dari kehidupan remaja.

Perbedaan karakter, pendapat, maupun pilihan pertemanan dapat memunculkan konflik. Namun, konflik tersebut perlu dikelola agar tidak berkembang menjadi tindakan pengucilan.

Fenomena cancel culture di kalangan anak muda juga menunjukkan bahwa batas antara kehidupan sosial dan ruang digital semakin tipis.

Baca Juga: Tablet di Bawah 5 Juta 2026, Ini Rekomendasi Terbaiknya

 Perselisihan yang terjadi secara langsung dapat berlanjut melalui percakapan digital, sementara persoalan di media sosial dapat kembali memengaruhi hubungan pertemanan di sekolah.

Karena itu, komunikasi yang sehat dan kemampuan memahami perasaan orang lain menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pertemanan.

 Sekolah dan keluarga juga perlu memastikan anak memiliki tempat yang aman untuk menyampaikan persoalan sebelum tekanan sosial berkembang lebih jauh. (sub/c1)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
fenomena cancel culture pertemanan remaja BK sekolah media sosial Gen Z