BLITAR KAWENTAR - Literasi digital menjadi kemampuan penting di tengah derasnya arus informasi yang semakin mudah diakses masyarakat.
Banyaknya informasi di media sosial membuat masyarakat, khususnya Gen Z dan Gen Alpha, perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Direktur Revolutionary Law Firm Mohammad Trijanto menilai perkembangan teknologi harus diimbangi dengan penguatan literasi.
Baca Juga: 22 Swalayan Berjejaring di Kota Blitar Sudah Penuhi Batas Maksimal
Menurutnya, budaya ikut-ikutan atau fear of missing out (FOMO) dapat membuat sebagian anak muda mengikuti tren tanpa memahami informasi secara utuh.
Trijanto menyoroti kebiasaan sebagian generasi muda yang hanya membaca informasi secara singkat ketika menggunakan media sosial. Kondisi tersebut dinilai membuat informasi yang diterima menjadi parsial. Karena itu, kemampuan membedakan fakta dan data menjadi hal yang penting.
Saat ini masyarakat semakin banyak menggunakan Google maupun kecerdasan buatan atau AI untuk mencari informasi.
Baca Juga: Warga Blitar Ramai-ramai Mutakhirkan DTSEN, 298 Pengajuan PIP Sudah Disubmit
Teknologi tersebut memang dapat membantu menemukan berbagai informasi dengan cepat. Namun, hasil pencarian tidak otomatis dapat dianggap sebagai fakta yang telah terverifikasi.
Trijanto mengatakan penggunaan Google maupun AI tetap diperbolehkan selama masyarakat melakukan konfirmasi terhadap informasi yang diperoleh.
Data maupun fakta perlu diperiksa kembali sebelum digunakan sebagai dasar untuk mengambil kesimpulan.
Ia memberikan gambaran melalui penggunaan Google Maps. Ketika seseorang mencari alamat tertentu melalui layanan tersebut, hasil pencarian belum tentu langsung mengantarkan kepada orang yang dimaksud. Karena itu, informasi tetap perlu dikonfirmasi dengan data dan fakta.
Prinsip tersebut juga berlaku ketika masyarakat mendapatkan informasi melalui media sosial. Kecepatan informasi tidak selalu sama dengan tingkat kebenarannya.
Informasi yang muncul berulang kali atau menjadi pembicaraan banyak orang tetap perlu diperiksa sebelum dipercaya.
Baca Juga: Cara Cek Saldo JHT di JMO, Ini Tahapan yang Perlu Dilakukan Peserta
Penguatan literasi digital tidak hanya menjadi tanggung jawab anak muda. Trijanto mendorong orang tua maupun masyarakat yang memiliki kemampuan literasi lebih baik untuk ikut memberikan pemahaman kepada Gen Z dan Gen Alpha.
Kebiasaan membaca, mencari informasi, kemudian melakukan verifikasi perlu ditanamkan sejak dini. Anak perlu memahami bahwa opini yang beredar di media sosial tidak otomatis merupakan kebenaran.
Menurut Trijanto, masyarakat juga tidak seharusnya hanya berpegang pada opini yang dibungkus dengan narasi sepihak.
Baca Juga: Cara Cek Tagihan Listrik Bulanan Lewat HP, Begini Langkah Menggunakan Aplikasi
Algoritma media sosial dapat menentukan informasi yang lebih sering muncul di layar pengguna berdasarkan aktivitas mereka.
Karena itu, kemampuan untuk melakukan verifikasi menjadi semakin penting. Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat berisiko menerima informasi berdasarkan apa yang terus muncul di linimasa.
Trijanto mengingatkan agar kebenaran tidak sampai ditentukan oleh algoritma. Masyarakat tetap perlu kembali kepada fakta dan data ketika menerima suatu informasi.
Baca Juga: Profil Amanda Rigby, Aktris hingga Pengusaha yang Punya Perjalanan Karier Panjang
Selain kemampuan memilah informasi, penggunaan gawai juga membutuhkan pendampingan orang tua.
Pengawasan tersebut diperlukan agar penggunaan perangkat digital tetap berjalan secara bijak.
Ia juga menekankan perlunya pembatasan penggunaan gawai. Pendampingan dan pengaturan waktu penggunaan perangkat dapat menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.
Baca Juga: Andre Taulany Resmi Menikahi Amanda Rigby, Ucap Syukur dan Minta Ruang untuk Menikah
Pada akhirnya, literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat atau mengakses internet.
Kemampuan membaca informasi secara utuh, memeriksa sumber, membedakan fakta dan opini, serta melakukan konfirmasi menjadi bagian penting agar masyarakat tidak mudah terseret arus informasi.
Di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan AI yang semakin luas, kemampuan berpikir kritis tetap diperlukan.
Baca Juga: Gen Z Dominasi Demografi Kabupaten Blitar, Jumlah Penduduk Tembus 1,27 Juta Jiwa
Teknologi dapat membantu mencari informasi, tetapi proses memastikan kebenaran tetap membutuhkan sikap kritis dari penggunanya. (bud/c1/sub)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari