JAKARTA - Bisnis ikan cupang ternyata tidak hanya mengandalkan kemampuan breeding untuk bisa bertahan dalam jangka panjang. Dalam video kunjungan ke sebuah farm dan seller ikan cupang, terungkap bagaimana pengelola mengembangkan usaha dengan jumlah ikan mencapai sekitar 200.000 ekor. Strateginya mencakup pencatatan stok, membaca tren permintaan, memilih indukan, mengembangkan strain baru, hingga mengatur jumlah produksi agar harga ikan tetap terjaga.
Baca Juga: Ikan Cupang High End Ini Bisa Tembus Rp3 Juta, Ternyata Ini Rahasianya
Ribuan Botol untuk Pembesaran Cupang
Skala usaha yang ditampilkan dalam video tersebut cukup besar. Salah satu area pembesaran memiliki kapasitas lebih dari 16.000 botol. Dari jumlah tersebut, sekitar 14.000 botol disebut telah terisi ikan.
Botol-botol tersebut digunakan untuk proses pembesaran sebelum ikan masuk ke tahap penyortiran berikutnya. Ikan yang masih kecil terlebih dahulu melewati beberapa fase pertumbuhan.
Pada minggu-minggu awal, ikan ditempatkan secara berkelompok. Ketika memasuki usia tertentu, ikan mulai diseleksi berdasarkan jenis kelamin, ukuran, bentuk, warna, dan kualitas fisiknya.
Dalam satu bak, jumlah ikan bisa mencapai sekitar 200 hingga 400 ekor. Setelah sekitar dua bulan, sebagian ikan mulai dipindahkan ke tahap berikutnya.
Ikan dengan kualitas yang dianggap lebih baik kemudian masuk ke wadah individual. Sementara sisanya dapat dijual secara partai kepada toko atau digunakan sebagai pakan ikan predator.
Penyortiran dilakukan secara rutin. Pengelola juga menggunakan sistem stock opname untuk memantau jumlah ikan. Hal tersebut menjadi penting karena jumlah ikan yang dikelola mencapai ratusan ribu ekor dari beberapa lokasi.
Pink hingga Veltel Jadi Andalan
Salah satu tren yang sedang berkembang dalam penjualan adalah ikan cupang dengan warna pink. Jenis seperti Half Moon Pink, Pink Sakura, Pink Armagedon, dan Pink Aurora disebut memiliki peminat tersendiri.
Pink Aurora menjadi salah satu contoh ikan dengan nilai jual tinggi. Dalam video tersebut, pengelola menyebut ikan betina Pink Aurora pernah dibuka dengan harga sekitar Rp5 juta dan kemudian terjual sekitar Rp3 juta per ekor.
Untuk ikan jantannya, harga disebut mulai turun ketika jumlah stok semakin banyak. Pada saat kunjungan, harganya diperkirakan berada di kisaran Rp500 ribuan.
Selain warna pink, Veltel juga disebut menjadi salah satu jenis yang banyak diminati. Veltel memiliki karakter ekor yang berubah seiring pertumbuhan. Saat masih kecil, ekornya terlihat seperti kuncup. Ketika semakin besar, bentuknya dapat berkembang menyerupai selendang.
Ada pula Veltel Inuyasa yang disebut pernah terjual sekitar Rp3 juta untuk kualitas tertentu. Jenis lain yang diperlihatkan antara lain Black Samurai, Multicolor, Blue Rim, Crowntail, dan berbagai hasil persilangan.
Baca Juga: Sertifikat Tanah Hilang Akan Diganti, Tapi Ada Masa 30 Hari untuk Keberatan
Produksi Mengikuti Permintaan Pasar
Menurut pengelola, mempertahankan bisnis ikan cupang tidak cukup hanya dengan menghasilkan ikan sebanyak-banyaknya. Permintaan pasar menjadi salah satu dasar dalam menentukan jenis yang akan dikembangkan.
Setiap penjualan dicatat sehingga pengelola dapat melihat jenis dan warna yang sedang banyak dicari. Ketika permintaan terhadap ikan pink meningkat, produksi dan breeding untuk karakter tersebut dapat ditambah.
Sebaliknya, mereka tidak langsung melakukan produksi secara massal terhadap jenis yang baru dikembangkan. Cara tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan sekaligus nilai jual ikan.
Pengelola juga terus mencari jenis baru untuk memenuhi permintaan penghobi. Bahkan, target koleksi yang dikembangkan mencapai sekitar 200 jenis ikan cupang.
Pemilihan indukan turut menjadi bagian penting. Salah satu kriteria yang diperhatikan adalah bentuk atau form tubuh dan sirip. Karakter sirip dorsal yang menjulang ke depan, misalnya, disebut sebagai “mohak” dan menjadi salah satu bentuk yang dicari.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa perdagangan ikan cupang dalam skala besar membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengawinkan ikan. Pengelolaan stok, pembacaan tren, pemilihan indukan, serta pengembangan karakter baru menjadi bagian dari cara mempertahankan usaha di tengah perubahan selera penghobi.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : AUDREY A