Budidaya Ikan Discus untuk Pemula, Begini Cara Menjodohkan hingga Bertelur

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 18:51 WIB
Budidaya ikan discus untuk pemula dimulai dari penjodohan, breeding, perawatan telur hingga penyapihan anakan. (Pinterest)
Budidaya ikan discus untuk pemula dimulai dari penjodohan, breeding, perawatan telur hingga penyapihan anakan. (Pinterest)

KEDIRI - Budidaya ikan discus untuk pemula dapat dimulai dari proses menjodohkan ikan hingga memindahkan pasangan ke tank breeding. Eko Santoso FR Diskus di Desa Ngayang, Kecamatan Ngurah, Kabupaten Kediri, membagikan pengalamannya dalam merawat hingga membiakkan ikan discus.

Pengalaman Eko bermula ketika mendapatkan ikan discus dari seorang teman. Awalnya ia mengira hanya akan menerima satu pasang, tetapi ternyata ikan yang datang berjumlah 14 ekor.

Dari situ, Eko mulai belajar menjodohkan ikan secara mandiri. Menurut pengalamannya, ikan discus yang sudah berusia sekitar satu tahun mulai bisa dijodohkan.

Baca Juga: Cara Merawat Ikan Channa agar Sehat, Perhatikan 7 Hal Ini

Cara Menjodohkan Ikan Discus

Untuk proses penjodohan, ikan discus dapat ditempatkan dalam tank berukuran sekitar 1 x 50 x 50 sentimeter. Penghobi kemudian dapat mengamati gerak-gerik ikan.

Pasangan yang mulai berjodoh biasanya terlihat sering bergerak berdua. Jika sudah terlihat pasangan yang cocok, ikan tersebut dapat dipindahkan ke tank breeding.

Di farm miliknya, Eko menggunakan tank breeding dengan ukuran sekitar 45 sentimeter persegi. Tank tersebut kemudian diberi media berupa cone atau paralon sebagai tempat ikan menempelkan telur.

Tanda ikan discus akan bertelur dapat dilihat dari perilakunya. Ikan disebut mulai bergetar dan sering mematuk cone atau paralon yang telah disediakan.

Jika sudah bertelur, telur biasanya menetas dalam waktu sekitar tiga hari. Setelah menetas, indukan tetap menjaga telur dan anakan. Eko menyarankan agar indukan tidak langsung dipisahkan.

Perawatan bersama induk dilakukan hingga sekitar tujuh hari setelah telur menetas. Pada fase tersebut, anakan mulai memasuki tahap berenang bebas atau free swim.

Anakan Discus Mengonsumsi Lendir Indukan

Setelah mulai berenang bebas, anakan discus akan mengikuti induknya. Pada tahap ini dikenal istilah "nyusu", yakni anakan memakan lendir yang terdapat pada tubuh induknya.

Lendir dari indukan tersebut menjadi sumber makanan bagi anakan pada fase awal kehidupannya.

Jika jumlah anakan cukup banyak, pembudidaya dapat menambahkan artemia sebagai pakan tambahan. Eko menyebut artemia dapat mulai diberikan ketika anakan berusia sekitar tiga sampai empat hari.

Artemia dapat diperoleh dari toko ikan maupun secara daring dalam bentuk telur yang kemudian ditetaskan.

Seiring pertumbuhan, anakan mulai diarahkan untuk makan secara mandiri. Ketika sudah mampu makan tanpa bergantung pada lendir induknya, proses penyapihan dapat dilakukan.

Setelah siap sapih, anakan dapat diberikan cacing sutra sebagai pakan hingga tumbuh lebih besar dan mencapai ukuran yang dianggap siap dijual.

Selama indukan masih menggendong atau merawat anakan, kondisi tank perlu dijaga tetap tenang. Eko menyarankan agar tank ditempatkan jauh dari gangguan, termasuk anak-anak yang mungkin mengetuk kaca akuarium.

Gangguan tersebut dapat membuat indukan terkejut atau stres. Kondisi itu disebut dapat mengganggu anakan yang sedang dirawat dan bahkan berisiko menyebabkan kematian anakan.

Baca Juga: Promo Kacer Pasar Pramuka Rp210 Ribu, Bonus Burung Pilihan hingga Jenggot Mini

Empat Pasangan Indukan di Farm

Eko menyebut saat ini terdapat empat pair atau pasangan indukan di farm miliknya. Pasangan tersebut terdiri dari snow dengan turquis, snow dengan pigeon, turquis blue dengan blue diamond, serta diamond dengan turkus.

Ia juga menjelaskan ciri yang biasa digunakan untuk membedakan ikan discus jantan dan betina.

Pada jantan, sirip bagian atas dan bawah disebut cenderung lebih lancip. Bagian "dasi" juga terlihat lebih mekar. Sementara pada betina, sirip atas dan bawah cenderung membulat dan bagian tersebut disebut tidak terlalu mekar.

Untuk kebutuhan air, Eko menggunakan metode sederhana. Air sumur ditampung terlebih dahulu di tandon. Setelah diendapkan, air tersebut digunakan untuk kebutuhan breeding, penggantian air, maupun penyiponan tank.

Ia tidak menggunakan air PDAM maupun sistem penyaringan air khusus seperti yang biasa digunakan sebagian penghobi.

Setelah proses sapih, metode perawatan air tetap dilakukan dengan cara yang sama. Tank disifon setiap hari, sementara filter spons dibersihkan sekitar dua atau tiga hari sekali.

Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore. Namun, Eko menyebut frekuensi pemberian pakan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kesibukan pembudidaya.

Dari 14 ekor discus yang pertama kali diterimanya, Eko berhasil mendapatkan tiga pasangan yang berjodoh. Pengalaman tersebut kemudian menjadi awal perkembangan budidayanya.

Menurut Eko, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa budidaya ikan discus dapat dimulai dari langkah kecil. Konsistensi dalam belajar dan merawat ikan menjadi bagian penting dalam proses yang dijalaninya.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Dunia Hobi
budidaya ikan discus ikan discus pemula cara ternak discus breeding ikan discus ikan hias Kediri