KEDIRI - Cara ternak ikan discus dapat dimulai dari proses penjodohan indukan hingga merawat anakan setelah menetas. Eko Santoso FR Diskus di Desa Ngayang, Kecamatan Ngurah, Kabupaten Kediri, membagikan pengalaman membiakkan discus yang awalnya dimulai dari 14 ekor ikan pemberian seorang teman.
Eko awalnya mengira hanya akan mendapatkan satu pasang ikan discus. Namun, ikan yang datang ternyata berjumlah 14 ekor dengan ukuran sekitar 4–4,5 inci.
Kondisi tersebut membuat Eko harus mencari cara untuk memeliharanya. Setelah mencoba beberapa tempat, ia akhirnya menggunakan akuarium berukuran sekitar 1 meter dan mulai mengamati ikan untuk menemukan pasangan yang berjodoh.
Dari 14 ekor tersebut, beberapa ikan kemudian mulai berjodoh. Eko mengambil pasangan yang sudah cocok dan memindahkannya ke akuarium breeding.
Baca Juga: Cara Merawat Ikan Channa agar Sehat, Perhatikan 7 Hal Ini
Mulai dari Proses Penjodohan
Menurut pengalaman Eko, ikan discus yang berusia sekitar satu tahun sudah mulai bisa dijodohkan. Ikan dapat ditempatkan dalam tank berukuran sekitar 1 x 50 x 50 sentimeter untuk diamati perilakunya.
Pasangan yang mulai berjodoh biasanya terlihat sering bergerak bersama. Ketika sudah menemukan pasangan, dua ekor tersebut dapat dipindahkan ke tank breeding.
Untuk tank breeding, ukuran dapat disesuaikan. Di farm miliknya, Eko menggunakan tank berukuran sekitar 45 sentimeter persegi.
Di dalam tank tersebut disediakan cone atau paralon sebagai tempat ikan menempelkan telur.
Tanda ikan discus akan bertelur dapat dilihat dari perilakunya. Ikan yang akan bertelur disebut mulai bergetar dan sering mematuk cone atau paralon yang telah disediakan.
Setelah bertelur, telur biasanya menetas dalam waktu sekitar tiga hari. Pada tahap ini, indukan tetap menjaga telur dan anakan.
Eko menyarankan agar indukan tidak langsung dipisahkan setelah telur menetas. Indukan dibiarkan merawat anakan hingga sekitar tujuh hari setelah menetas.
Anakan Mulai Berenang dan Mengikuti Induk
Setelah sekitar tujuh hari, anakan discus mulai memasuki fase berenang bebas atau free swim. Pada tahap tersebut, anakan akan mulai mengikuti induknya.
Ada istilah "nyusu" dalam pemeliharaan anakan discus. Istilah tersebut merujuk pada perilaku anakan yang memakan lendir dari tubuh induknya sebagai bagian dari sumber makanan pada fase awal.
Jika jumlah anakan cukup banyak, pembudidaya dapat memberikan tambahan pakan berupa artemia. Eko menyebut artemia mulai dapat diperkenalkan ketika anakan berusia sekitar tiga sampai empat hari.
Telur artemia dapat dibeli di toko ikan maupun secara online untuk kemudian ditetaskan sebelum diberikan kepada anakan.
Seiring pertumbuhan, anakan mulai dilatih untuk makan secara mandiri. Ketika sudah tidak bergantung pada lendir indukan, ikan dapat mulai disapih.
Setelah memasuki tahap sapih, anakan dapat diberikan cacing sutra sebagai pakan hingga tumbuh lebih besar dan mencapai ukuran yang siap dijual.
Kondisi tank juga perlu diperhatikan selama indukan masih merawat anakan. Eko menyarankan agar lingkungan sekitar akuarium dibuat tenang.
Tank sebaiknya dijauhkan dari gangguan, termasuk aktivitas anak-anak yang mengetuk kaca. Gangguan tersebut dapat membuat indukan terkejut atau stres dan berpotensi mengganggu anakan yang sedang dirawat.
Baca Juga: Promo Kacer Pasar Pramuka Rp210 Ribu, Bonus Burung Pilihan hingga Jenggot Mini
Air Sumur Jadi Pilihan untuk Breeding
Dalam budidayanya, Eko menggunakan air sumur yang terlebih dahulu ditampung di tandon. Air tersebut kemudian diendapkan sebelum digunakan untuk breeding, penggantian air, maupun penyiponan.
Ia menyebut tidak menggunakan air PDAM ataupun sistem filter khusus untuk sumber air yang digunakan.
Setelah anakan disapih, metode pengelolaan air tetap dilakukan. Penyiponan dilakukan setiap hari, sedangkan spons filter dibersihkan sekitar dua atau tiga hari sekali.
Pemberian pakan untuk ikan dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore. Namun, Eko menyebut frekuensi pemberian pakan dapat disesuaikan dengan kondisi dan aktivitas pembudidaya.
Saat ini, Eko menyebut memiliki empat pair atau pasangan discus di farm. Pasangan tersebut terdiri dari snow dengan turquis, snow dengan pigeon, turquis blue dengan blue diamond, serta diamond dengan turkus.
Untuk membedakan jenis kelamin, Eko menggunakan beberapa ciri fisik. Discus jantan disebut memiliki sirip atas dan bawah yang lebih lancip serta bagian "dasi" yang lebih mekar. Sementara betina memiliki sirip yang cenderung membulat dan bagian tersebut tidak terlalu mekar.
Pengalaman Eko bermula dari 14 ekor discus yang diberikan seorang teman. Dari jumlah tersebut, tiga pasangan akhirnya berjodoh, sementara ikan lainnya tidak bertahan hidup.
Perjalanan tersebut kemudian menjadi awal Eko mengembangkan budidaya discus. Ia menyampaikan bahwa kesuksesan dapat dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Dunia Hobi