Ternak Ikan Discus dari 14 Ekor, Kini Punya 4 Pair Indukan di Farm

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 18:40 WIB
Ternak ikan discus Eko bermula dari 14 ekor hingga berkembang menjadi 4 pair indukan di farm Kediri. (Pinterest)
Ternak ikan discus Eko bermula dari 14 ekor hingga berkembang menjadi 4 pair indukan di farm Kediri. (Pinterest)

KEDIRI - Ternak ikan discus yang dijalankan Eko Santoso FR Diskus di Desa Ngayang, Kecamatan Ngurah, Kabupaten Kediri, bermula dari 14 ekor ikan pemberian seorang teman. Dari jumlah tersebut, Eko mulai belajar melakukan penjodohan hingga berhasil mengembangkan pasangan indukan sendiri.

Awalnya, Eko mendapat informasi bahwa dirinya akan diberi satu pasang ikan discus. Namun, ketika ikan datang, jumlahnya ternyata mencapai 14 ekor dengan ukuran sekitar 4–4,5 inci.

Kondisi tersebut membuat Eko harus mencari tempat untuk memeliharanya. Setelah sempat mencoba beberapa tempat, ia kemudian membeli akuarium berukuran sekitar 1 meter untuk menampung ikan sekaligus mengamati perkembangannya.

Dari sinilah proses belajar ternak ikan discus mulai dilakukan secara mandiri.

Baca Juga: Cara Memelihara Ikan Channa untuk Pemula, Jangan Abaikan 7 Hal Ini

Menjodohkan Discus dari Perilaku Ikan

Menurut pengalaman Eko, ikan discus yang telah berusia sekitar satu tahun mulai dapat dijodohkan. Ikan ditempatkan dalam tank berukuran sekitar 1 x 50 x 50 sentimeter.

Proses penjodohan dilakukan dengan mengamati perilaku ikan. Jika terdapat dua ekor yang sering bergerak bersama ke sana kemari, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa keduanya mulai berjodoh.

Pasangan yang sudah terlihat cocok kemudian dipindahkan ke tank breeding.

Di farm miliknya, Eko menggunakan tank breeding dengan ukuran sekitar 45 sentimeter persegi. Di dalamnya disediakan cone atau paralon sebagai media untuk menempelkan telur.

Menjelang bertelur, terdapat perubahan perilaku yang bisa diamati. Ikan discus disebut mulai bergetar dan sering mematuk cone atau paralon yang telah disediakan.

Setelah telur dikeluarkan, indukan tetap menjaga telur tersebut. Telur biasanya disebut menetas sekitar tiga hari setelah dikeluarkan.

Eko menyarankan agar indukan tidak langsung dipisahkan setelah telur menetas. Indukan tetap dibiarkan bersama anakannya hingga sekitar tujuh hari setelah menetas.

Anakan Mengikuti Indukan Setelah Menetas

Sekitar tujuh hari setelah menetas, anakan discus mulai memasuki fase berenang bebas atau free swim. Pada tahap ini, anakan akan mulai mengikuti induknya.

Dalam pemeliharaan discus terdapat istilah "nyusu". Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan perilaku anakan yang memakan lendir dari tubuh induknya.

Lendir tersebut menjadi bagian dari sumber makanan anakan pada fase awal kehidupannya.

Ketika jumlah anakan cukup banyak, pembudidaya dapat menambahkan artemia sebagai pakan. Eko menyebut artemia mulai dapat diperkenalkan saat anakan berusia sekitar tiga sampai empat hari.

Baca Juga: Cara Memelihara Ikan Channa untuk Pemula, Jangan Abaikan 7 Hal Ini

Telur artemia dapat diperoleh dari toko ikan maupun secara online untuk kemudian ditetaskan sebelum diberikan kepada anakan.

Seiring pertumbuhan, anakan mulai diarahkan agar dapat makan secara mandiri. Ketika sudah tidak bergantung pada lendir indukan, proses penyapihan dapat dilakukan.

Anakan yang sudah siap sapih kemudian dapat diberikan cacing sutra hingga tumbuh lebih besar dan mencapai ukuran yang siap dijual.

Selama indukan masih menggendong atau merawat anakan, kondisi lingkungan tank juga perlu dijaga. Eko menyarankan agar akuarium ditempatkan di lokasi yang tenang.

Gangguan seperti mengetuk kaca akuarium dapat membuat indukan terkejut atau stres. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu anakan yang sedang dirawat dan bahkan dapat menyebabkan kematian pada anak ikan.

Air Sumur Digunakan untuk Perawatan

Pengelolaan air di farm Eko dilakukan dengan metode sederhana. Air sumur terlebih dahulu ditampung dalam tandon dan diendapkan sebelum digunakan untuk breeding, penggantian air, maupun penyiponan.

Eko menyebut dirinya tidak menggunakan air PDAM atau sistem penyaringan khusus untuk sumber air tersebut.

Setelah proses sapih, metode pengelolaan air tetap dilakukan. Penyiponan dilakukan setiap hari, sementara spons filter dibersihkan sekitar dua atau tiga hari sekali.

Pemberian pakan untuk ikan dewasa dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore. Frekuensinya dapat disesuaikan dengan kondisi dan aktivitas pembudidaya.

Di farm tersebut terdapat empat pair atau pasangan indukan. Pasangan yang disebut Eko terdiri dari snow dengan turquis, snow dengan pigeon, turquis blue dengan blue diamond, serta diamond dengan turkus.

Eko juga menjelaskan ciri yang biasa digunakan untuk membedakan discus jantan dan betina. Jantan disebut memiliki sirip atas dan bawah yang lebih lancip serta bagian "dasi" yang lebih mekar. Sementara betina memiliki sirip yang cenderung membulat dan bagian tersebut tidak terlalu mekar.

Dari 14 ekor ikan yang menjadi awal perjalanannya, tiga pasangan akhirnya berjodoh. Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik awal Eko mengembangkan ternak ikan discus.

Menurut Eko, perjalanan tersebut menjadi bukti dari pengalamannya bahwa proses pengembangan budidaya dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Dunia Hobi
budidaya ikan discus breeding ikan discus ikan discus Kediri ternak ikan discus indukan discus