KEDIRI - Breeding ikan discus bisa dimulai dengan langkah sederhana, terutama dalam proses menjodohkan indukan hingga merawat anakan. Eko Santoso dari FR Diskus, Desa Ngayang, Kecamatan Ngurah, Kabupaten Kediri, membagikan pengalaman breeding ikan discus yang dijalankannya dengan metode sederhana.
Menurut Eko, proses breeding dapat dimulai dari ikan discus yang telah berusia sekitar satu tahun. Ikan kemudian ditempatkan dalam akuarium dan diamati perilakunya untuk melihat kemungkinan terbentuknya pasangan.
“Kalau sudah sekitar satu tahun itu sudah bisa kita jodohkan,” ujar Eko dalam video yang menjadi sumber pembahasan.
Baca Juga: Ternak Ikan Discus dari 14 Ekor, Kini Punya 4 Pair Indukan di Farm
Mengenali Pasangan Ikan Discus
Eko menjelaskan, pasangan discus dapat dikenali dari kebiasaan dua ikan yang bergerak bersama. Ketika sudah terlihat cocok dan sering berdekatan, pasangan tersebut dapat dipindahkan ke akuarium khusus breeding.
Di tempatnya, Eko menggunakan akuarium breeding dengan ukuran yang disebut sekitar 45 cm² dalam penjelasan videonya. Ia juga menyediakan cone atau pipa PVC sebagai media tempat ikan menempelkan telur.
Sebelum bertelur, terdapat beberapa perilaku yang bisa diamati. Ikan discus biasanya terlihat gemetar atau bergetar, kemudian mulai mematuk permukaan cone maupun PVC.
Perilaku tersebut menjadi salah satu tanda bahwa pasangan discus sedang mempersiapkan proses pemijahan.
Setelah telur dikeluarkan, Eko menyebut telur biasanya menetas sekitar tiga hari. Pada tahap ini, indukan tetap dibiarkan bersama telur karena keduanya memiliki peran dalam menjaga dan merawat calon anakan.
Anakan Mulai Mengikuti Indukan
Anakan discus tidak langsung dipisahkan dari induknya setelah menetas. Eko menyarankan membiarkan indukan merawat anakan hingga sekitar tujuh hari setelah telur menetas.
Memasuki sekitar hari ketujuh, anakan mulai bisa berenang bebas dan mengikuti induknya. Pada tahap ini dikenal istilah “nyusu”, yakni anakan mendapatkan makanan dari lendir yang terdapat pada tubuh indukan.
Jika jumlah anakan cukup banyak, Eko juga menggunakan Artemia sebagai tambahan pakan. Artemia dapat diperoleh dalam bentuk telur yang kemudian ditetaskan terlebih dahulu.
Dalam penjelasannya, pemberian Artemia yang sudah menetas dapat dimulai ketika anakan berusia sekitar tiga sampai empat hari.
Perawatan kemudian berlanjut hingga anakan mulai mampu mengonsumsi pakan secara mandiri. Ketika sudah tidak terlalu bergantung pada lendir indukan, proses penyapihan dapat dilakukan.
Setelah melewati tahap tersebut, anakan dapat diberikan pakan seperti cacing sutra hingga ukurannya semakin besar.
Baca Juga: Perawatan Lovebird Harian agar Ngekek Panjang dan Gacor, Ini 7 Tipsnya
Eko juga menekankan pentingnya menjaga kondisi lingkungan selama indukan sedang merawat anak. Akuarium sebaiknya tidak sering diganggu, termasuk dengan mengetuk kaca.
Menurut pengalamannya, gangguan seperti anak-anak yang mengetuk kaca dapat membuat indukan stres dan mengganggu proses pengasuhan anakan.
Dalam perawatan sehari-hari, Eko menggunakan air sumur yang terlebih dahulu ditampung dan diendapkan. Air tersebut kemudian digunakan untuk breeding maupun pergantian air.
Ia juga melakukan penyiphonan secara rutin dan membersihkan sponge filter setiap dua sampai tiga hari. Untuk pemberian pakan, Eko menyebut dirinya memberikan pakan dua kali sehari, yakni pagi dan sore, menyesuaikan aktivitas pekerjaannya.
Pengalaman Eko dalam breeding discus sendiri bermula ketika mendapat pemberian ikan dari seorang teman. Awalnya ia mengira hanya mendapatkan sepasang discus, tetapi ternyata terdapat 14 ekor ikan berukuran sekitar 4–4,5 inci.
Dari ikan tersebut, Eko mencoba menjodohkannya sendiri hingga akhirnya terbentuk beberapa pasangan. Kini, ia memiliki empat pasangan dengan kombinasi snow x turquis, snow x pigeon, turis blue x blue diamond, serta diamond x turkus.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa breeding ikan discus dapat dimulai dari skala kecil. Eko menekankan bahwa keberhasilan tidak selalu harus diawali dengan fasilitas besar, tetapi dapat berkembang melalui tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Dunia Hobi