Cara Breeding Ikan Discus, dari Pilih Pasangan hingga Anakan Mulai Makan

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 19:03 WIB
Cara breeding ikan discus dari penjodohan, pemijahan, perawatan telur, hingga anakan mulai makan mandiri. (Pinterest)
Cara breeding ikan discus dari penjodohan, pemijahan, perawatan telur, hingga anakan mulai makan mandiri. (Pinterest)

KEDIRI - Cara breeding ikan discus dapat dimulai dengan memilih pasangan yang sudah menunjukkan kecocokan. Eko Santoso dari FR Diskus, Desa Ngayang, Kecamatan Ngurah, Kabupaten Kediri, membagikan pengalaman breeding discus mulai dari proses penjodohan, pemijahan, hingga perawatan anakan.

Menurut Eko, ikan discus yang berusia sekitar satu tahun sudah bisa mulai dijodohkan. Ikan dapat ditempatkan dalam akuarium untuk diamati. Pasangan biasanya mulai terlihat ketika dua ekor ikan bergerak bersama dan lebih sering berada dalam satu kelompok.

Jika sudah terlihat cocok, pasangan tersebut kemudian dipindahkan ke akuarium khusus breeding.

Baca Juga: Perawatan Ikan Channa, 7 Hal yang Wajib Diperhatikan Penghobi

Siapkan Media untuk Bertelur

Dalam proses breeding, Eko menyediakan cone atau pipa PVC sebagai tempat ikan menempelkan telur. Ukuran akuarium breeding yang digunakan di tempatnya disebut sekitar 45 cm² dalam penjelasan video.

Tanda ikan akan bertelur juga dapat diamati dari perilakunya. Eko menyebut ikan biasanya terlihat bergetar atau gemetar, kemudian mulai mematuk permukaan cone maupun PVC.

Setelah proses pemijahan berlangsung, telur discus biasanya menetas sekitar tiga hari. Namun, indukan tidak langsung dipisahkan setelah telur menetas.

Indukan justru dibiarkan bersama anakannya untuk menjalankan proses pengasuhan. Menurut pengalaman Eko, anakan sebaiknya tetap bersama induk hingga sekitar tujuh hari setelah menetas.

Pada usia tersebut, anakan mulai berenang bebas dan mengikuti induknya.

Perawatan Anakan Discus

Salah satu tahap penting dalam breeding ikan discus adalah ketika anakan mulai “nyusu”. Istilah tersebut digunakan Eko untuk menggambarkan kondisi ketika anakan mendapatkan makanan dari lendir pada tubuh induknya.

Apabila jumlah anakan cukup banyak, pemberian Artemia juga dapat dilakukan sebagai tambahan pakan. Eko menyebut Artemia dapat diperoleh dalam bentuk telur di toko ikan maupun secara daring, kemudian ditetaskan sebelum diberikan kepada anakan.

Dalam penjelasannya, Artemia yang sudah menetas dapat mulai diberikan ketika anakan berusia sekitar tiga sampai empat hari.

Selanjutnya, pembudidaya perlu memperhatikan kapan anakan mulai mampu makan secara mandiri. Ketika sudah tidak bergantung pada lendir induknya, anakan dapat mulai disapih.

Setelah tahap tersebut, pakan seperti cacing sutra dapat diberikan hingga ukuran ikan bertambah besar.

Selain pakan, kondisi akuarium juga perlu diperhatikan. Eko mengingatkan agar akuarium tidak sering diganggu ketika indukan sedang menggendong atau merawat anakan.

Ia bahkan menyebut anak-anak sebaiknya tidak mengetuk kaca akuarium. Gangguan tersebut dapat membuat indukan terganggu dan berpotensi menyebabkan masalah pada anakan.

Baca Juga: Ternak Ikan Discus dari 14 Ekor, Kini Punya 4 Pair Indukan di Farm

Untuk air, Eko menggunakan air sumur yang ditampung terlebih dahulu. Air tersebut kemudian digunakan untuk kebutuhan breeding dan pergantian air. Ia menyebut tidak menggunakan air hasil penyaringan maupun air PDAM dalam metode yang diterapkannya.

Setelah proses penyapihan, perawatan tetap dilakukan secara rutin. Penyiphonan dilakukan setiap hari, sementara sponge filter dibersihkan sekitar dua sampai tiga hari sekali.

Pengalaman Eko dalam breeding discus bermula dari pemberian seorang teman. Ia awalnya mengira akan menerima satu pasangan, tetapi justru mendapatkan 14 ekor discus berukuran sekitar 4–4,5 inci.

Ikan-ikan tersebut kemudian dipeliharanya dengan fasilitas yang tersedia. Dari proses tersebut, beberapa ikan mulai berpasangan dan dipindahkan ke akuarium breeding.

Saat ini, Eko menyebut memiliki empat pasangan discus, yakni snow x turquis, snow x pigeon, turis blue x blue diamond, serta diamond x turkus.

Pengalaman tersebut menunjukkan proses breeding ikan discus dapat dimulai dari skala kecil. Bagi Eko, proses tersebut membutuhkan ketekunan dan konsistensi dalam mengamati ikan, menjaga lingkungan akuarium, serta merawat anakan sampai mampu makan secara mandiri.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Dunia Hobi
ternak ikan discus ikan discus budidaya ikan hias cara breeding ikan discus anakan discus