KEDIRI - Cara merawat aglonema tidak hanya bergantung pada pemberian pupuk. Media tanam, teknik penyiraman, sirkulasi udara, penyemprotan, hingga peremajaan bonggol menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan agar tanaman tetap sehat dan tumbuh subur.
Petani Sederhana Aglonema membagikan sejumlah tips perawatan berdasarkan pengalaman yang selama ini diterapkannya. Menurutnya, kesalahan dalam perawatan dapat membuat pertumbuhan aglonema terganggu, termasuk daun menguning dan akar mengalami masalah.
Baca Juga: Stok Burung Kuda Terbang di Pasar Pramuka, Pleci Melimpah hingga Cucak Ijo Rp6,5 Juta
Media Tanam Jadi Dasar Perawatan
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah media tanam. Media tanam disebut menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan aglonema. Media yang digunakan sebaiknya memiliki porositas baik, telah difermentasi, dan tidak menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Dalam campuran media tanam, ia menggunakan sekam mentah yang telah difermentasi, cocopeat, sekam bakar, serta kohe kambing. Cocopeat digunakan untuk membantu menjaga kelembapan, sedangkan sekam bakar disebut berfungsi membantu menstabilkan kondisi asam pada media tanam.
Ia juga mengingatkan agar tidak terburu-buru memikirkan pupuk sebelum memastikan media tanam dalam kondisi baik.
Saat menanam, media perlu dibuat cukup padat agar dapat mengikat akar. Namun, pemadatan sebaiknya dilakukan di bagian pinggir pot. Menekan bagian tengah pot terlalu kuat berisiko membuat akar aglonema patah.
Setelah penanaman selesai, penyiraman dilakukan dengan air dalam jumlah banyak hingga keluar melalui bagian bawah pot. Cara tersebut menurutnya sekaligus membantu membilas media tanam.
Perhatikan Air, Penyemprotan, dan Lokasi
Penyiraman rutin juga menjadi bagian penting dalam cara merawat aglonema. Ia menyarankan penyiraman dilakukan hingga air keluar dari lubang bawah pot, bukan sekadar membasahi permukaan media.
Menurutnya, air yang keluar dari bawah pot dapat membawa zat asam dari media tanam sehingga kondisinya tetap lebih stabil. Kondisi akar yang aktif kemudian berpengaruh terhadap pertumbuhan daun dan tunas.
Selain penyiraman, penyemprotan insektisida dan pemberian vitamin juga dilakukan secara rutin. Frekuensinya disesuaikan dengan kondisi lokasi tanaman. Untuk aglonema yang berada di tempat terlindung dari hujan, penyemprotan disebut dapat dilakukan satu hingga dua minggu sekali.
Sementara ketika musim hujan, penyemprotan dapat dilakukan lebih sering, terutama pada tanaman yang terkena air hujan.
Lokasi penempatan juga tidak kalah penting. Aglonema sebaiknya ditempatkan di area dengan sirkulasi udara yang baik dan mendapatkan cahaya matahari yang cukup. Namun, tanaman tidak dianjurkan terkena sinar matahari langsung sehingga dapat menggunakan paranet sebagai pelindung.
Sirkulasi udara yang baik disebut dapat membuat tangkai dan daun tumbuh lebih tegak serta kokoh.
Baca Juga: Harga Pleci Monti 4 Agustus 2026, Grosir Rp40 Ribu dan Bustomi Mulai Rp35 Ribu
Bonggol Perlu Diremajakan
Untuk aglonema dewasa, peremajaan bonggol juga perlu diperhatikan. Bonggol yang sudah tua disebut lebih rentan mengalami masalah dan dapat menjadi tempat masuknya bakteri yang menyebabkan spot merah.
Peremajaan dilakukan dengan memotong bagian bawah bonggol dan memeriksa kondisinya. Jika ditemukan bintik cokelat, bagian tersebut dapat diiris hingga bagian yang dianggap bersih sebelum tanaman ditanam kembali.
Penggantian media tanam juga disarankan dilakukan paling lambat enam bulan. Alasannya, kondisi media dapat berubah seiring waktu dan zat asam di dalamnya semakin tinggi.
Jika belum sempat mengganti media, kapur dolomit disebut dapat digunakan sebagai langkah sementara. Namun, penggantian media tanam tetap perlu dilakukan ketika sudah memiliki waktu.
Dengan memperhatikan media tanam, penyiraman, lokasi, penyemprotan, serta kondisi bonggol, perawatan aglonema diharapkan dapat mendukung pertumbuhan tanaman agar tetap sehat, subur, berdaun lebar, dan menghasilkan tunas baru.
Tips tersebut merupakan pengalaman yang dibagikan Petani Sederhana Aglonema. Ia juga menekankan bahwa terdapat berbagai metode perawatan lain sehingga setiap penghobi dapat menyesuaikannya dengan kondisi tanaman masing-masing.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : PETANI SEDERHANA AGLONEMA