Sate Ayam Ponorogo Legendaris, Punya Potongan Unik dan Jadi Langganan Para Presiden

Rangga Rizki Saputra • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 12:00 WIB
Sate Ayam Ponorogo punya potongan unik, bumbu khas, dan sejarah panjang hingga menjadi langganan para presiden.
Sate Ayam Ponorogo punya potongan unik, bumbu khas, dan sejarah panjang hingga menjadi langganan para presiden.

 

PONOROGO - Sate Ayam Ponorogo menjadi salah satu kuliner khas Jawa Timur yang memiliki cara pengolahan berbeda dibandingkan sate ayam pada umumnya. Potongan daging yang pipih dan memanjang, proses baceman menggunakan gula kelapa, hingga teknik pembakaran dengan bara menjadi ciri khas kuliner yang telah bertahan selama puluhan tahun tersebut. Salah satu warung legendaris yang dikenal sebagai pelopor sate ayam Ponorogo adalah Warung Haji Tukri Sobikun di kawasan Jalan Lawu, Ponorogo.

Kuliner ini bahkan memiliki sejarah panjang hingga disebut sebagai langganan sejumlah presiden Indonesia. Dalam video tersebut disebutkan, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah datang beberapa kali, sementara Presiden Joko Widodo juga disebut pernah menikmati sate di kawasan tersebut.

Potongan Daging Jadi Ciri Khas

Berbeda dari sate ayam yang umumnya menggunakan potongan daging berbentuk dadu, Sate Ayam Ponorogo memiliki potongan daging lebih pipih dan memanjang.

Baca Juga: Resep Sate Kambing Empuk Ala Happy Nomnom, Rahasianya Ada di Nanas

Pada bagian dada ayam, daging dipotong tipis memanjang sehingga satu tusuk dapat berisi potongan daging berukuran cukup besar. Teknik tersebut dilakukan agar daging terbebas dari lemak dan dapat matang secara merata ketika dibakar.

Sementara itu, bagian paha, kulit, dan jeroan tetap dipotong dalam ukuran lebih kecil. Perbedaan bentuk potongan tersebut menjadi salah satu karakter yang mudah dikenali dari sate ayam khas Ponorogo.

Suroto, generasi ketiga penerus Warung Haji Tukri Sobikun, menjelaskan bahwa pengolahan daging juga memiliki tahapan khusus. Daging terlebih dahulu melalui proses baceman menggunakan racikan tertentu.

Proses tersebut dilakukan dengan merebus daging menggunakan air dan gula kelapa. Teknik ini membuat bumbu lebih meresap sekaligus membantu menghasilkan tekstur daging yang empuk dan aroma rempah yang kuat.

Baca Juga: Resep Sate Kambing Empuk Ala Happy Nomnom, Rahasianya Ada di Nanas

Dibakar dengan Bara Selama Puluhan Menit

Proses pembakaran juga tidak dilakukan sembarangan. Sate harus dibakar menggunakan bara yang sempurna tanpa kobaran api langsung.

Jika api muncul saat proses pembakaran, bagian sate perlu disiram agar bara kembali stabil. Penggunaan api secara langsung dinilai dapat membuat bagian luar sate cepat gosong, sementara bagian dalam belum matang sempurna.

Untuk daging dada, proses pembakaran dilakukan dua kali dengan total durasi sekitar 15 menit. Sementara bagian paha, kulit, dan jeroan membutuhkan waktu lebih lama, sekitar 20 menit.

Baca Juga: Stok Burung Kios JKJ Pramuka, Kacer hingga Kenari Dibanderol Promo

Selain daging, bumbu kacang menjadi bagian penting dari sajian tersebut. Bumbu kacang Sate Ayam Ponorogo disebut memiliki tekstur lebih kasar, kental, serta terasa kuat dengan perpaduan rempah.

Langganan SBY dan Jokowi

Popularitas Warung Haji Tukri Sobikun tidak hanya datang dari masyarakat lokal. Tempat tersebut juga disebut pernah menjadi tujuan sejumlah presiden.

SBY disebut memiliki kesukaan terhadap sate kulit. Penyajiannya juga memiliki permintaan tersendiri, yakni sate, lontong, dan sambal disajikan secara terpisah.

Sementara itu, Joko Widodo disebut menyukai potongan daging sate berukuran besar. Tekstur daging yang tebal dan empuk menjadi salah satu hal yang membuat sajian tersebut disukai.

Baca Juga: Kuliner Sate Taichan Tertahan Nafsu Produksi Sepasang Sahabat asal Blitar Buat Ketagihan

Kehadiran pelanggan dari luar daerah juga membuat sate khas Ponorogo kerap dijadikan buah tangan. Meski dalam satu kawasan terdapat puluhan pedagang sate dengan menu yang relatif serupa, para pedagang justru disebut saling mendukung.

Berawal dari Jualan Keliling

Keberadaan Kampung Sate Ponorogo memiliki sejarah yang panjang. Dalam video tersebut disebutkan, kawasan ini mulai berkembang sejak sekitar 1955.

Almarhum Sobikun disebut sebagai salah satu orang yang mengawali usaha sate ayam Ponorogo dengan berjualan secara keliling menggunakan pikulan. Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh anaknya, Haji Tukri.

Kerabat dan saudara ikut mengikuti jejak berjualan sate. Sejumlah mantan karyawan juga kemudian membuka usaha sendiri hingga kawasan Jalan Lawu dipenuhi warung sate.

Dari perjalanan tersebut, kawasan ini kemudian dikenal masyarakat sebagai Gang Sate atau Kampung Sate Ponorogo. Tradisi kuliner yang bertahan lintas generasi itu membuat Sate Ayam Ponorogo bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas kuliner Kota Reog.

Editor : Rangga Rizki Saputra
Sumber : @TRANS7Official
sate ayam ponorogo sate taichan sate