Dari Banyuwangi ke Jakarta, Begini Cerita Saya di Balik Sego Tempong Vicky Nitinegoro

Valentyo Samuel Putra Widodo • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 13:50 WIB
Vicky Nitinegoro dan Mas Abdi mengembangkan sego tempong khas Banyuwangi. Ini cerita di balik kolaborasi, sambal tempong, sambal batuk, dan ayam lengket.
Vicky Nitinegoro dan Mas Abdi mengembangkan sego tempong khas Banyuwangi. Ini cerita di balik kolaborasi, sambal tempong, sambal batuk, dan ayam lengket.

 JAKARTA – Saya tidak menyangka obrolan soal makanan dengan Vicky Nitinegoro dan Mas Abdi akhirnya membawa kami pada satu hidangan khas Jawa Timur, sego tempong. Makanan asal Banyuwangi ini kemudian menjadi salah satu menu yang kami kembangkan dengan tetap mempertahankan karakter sambal tempong yang saya kenal.

Bagi saya, makanan bukan sekadar soal rasa. Proses menemukan orang yang tepat untuk diajak bekerja sama juga menjadi bagian penting. Apalagi sebelum memutuskan membuat produk bersama, saya ingin memastikan chemistry dan selera kami memang cocok.

Cerita ini bermula dari pertemanan yang awalnya tidak direncanakan.

Saya Bertemu Mas Abdi dari Media Sosial

Sebelum membuat sego tempong, saya sudah lebih dulu mengenal konten Mas Abdi. Saya tertarik karena cara dia membuat konten makanan cukup berbeda dan mampu membuat orang ikut tertarik melihat makanan yang disajikan.

Baca Juga: Tahu Takwa Kediri, Kuliner Legendaris yang Dibawa Pedagang Tiongkok Sejak Abad 9

Saya kemudian menghubunginya melalui media sosial. Awalnya hanya sekadar menyapa dan memuji kontennya. Dari komunikasi sederhana itu, kami akhirnya bertemu ketika Mas Abdi sedang berada di Surabaya.

Pertemuan tersebut berkembang menjadi pertemanan. Kami kemudian sering bertukar rekomendasi makanan ketika sedang berada di kota yang berbeda.

Kalau saya sedang keluar kota untuk pekerjaan, saya biasanya mencari makanan yang menarik untuk dicoba. Begitu juga dengan Mas Abdi. Dari kebiasaan saling merekomendasikan makanan itulah kami semakin mengetahui selera masing-masing.

Baca Juga: Nasi Pecel Timbangan di Madiun Viral, Porsi Komplet Cuma Rp37 Ribu

Ide Sego Tempong Muncul dari Selera yang Cocok

Sebenarnya, saya cukup selektif ketika memilih partner untuk bekerja sama. Saya tidak ingin sekadar membuat kolaborasi karena sedang ramai atau viral.

Bagi saya, chemistry harus terbentuk lebih dulu. Semakin sering ngobrol, saya merasa selera kami semakin cocok. Dari situlah muncul ide untuk membuat makanan bersama.

Saya juga punya pengalaman dengan makanan Jawa karena sejak dulu ibu saya cukup sering memasak berbagai menu Indonesia. Dari situ saya semakin tertarik dengan makanan yang punya karakter kuat dan cerita di baliknya.

Ketika melihat sego tempong, saya merasa makanan ini punya potensi untuk diperkenalkan lebih luas.

Baca Juga: Depot Nasi Pecel 99 Madiun Ramai Didatangi Pejabat dan Artis, Sekali Makan Rp48 Ribu

Saya Ingin Mempertahankan Karakter Sego Tempong Banyuwangi

Salah satu hal yang saya perhatikan adalah karakter sambalnya.

Menurut saya, sego tempong yang saya pelajari dari Banyuwangi memiliki sambal berwarna merah dengan cabai, terasi, dan tomat. Salah satu bahan yang menurut saya memberikan karakter berbeda adalah tomat ranti.

Rasanya lebih kuat dan memiliki tingkat keasaman yang khas. Karena itu, saya tidak ingin menghilangkan karakter tersebut ketika membuat sego tempong.

Baca Juga: Pecel Madiun di Bojonegoro Ini Bikin Antrean Mengular, Seporsi Cuma Rp8 Ribu!

Bagi saya, sego tempong bukan sekadar nasi dengan sambal. Nama "tempong" sendiri berkaitan dengan cara sambalnya ditempatkan atau diteplokkan di atas makanan. Sensasi pedas dari sambalnya menjadi salah satu karakter utama hidangan ini.

Sambal Batuk Jadi Inovasi yang Kami Buat

Selain sambal tempong, kami juga membuat inovasi sendiri berupa sambal batuk.

Namanya bukan tanpa alasan. Saat proses pembuatannya dilakukan, cabai yang bertemu minyak dan wajan yang sangat panas menghasilkan uap yang membuat orang di sekitar bisa batuk.

Karena itu, kami bahkan harus memberi peringatan sebelum proses pembuatan sambal dimulai. Pedasnya memang menjadi bagian dari karakter sambal tersebut.

Namun, sambal batuk tidak dibuat untuk menggantikan sambal tempong. Keduanya memiliki karakter berbeda dan bisa dipilih sesuai selera.

Baca Juga: Cara Membentuk Bonsai agar Lebih Terarah, Mulai dari Pemangkasan hingga Wiring

Ada Ayam Lengket yang Juga Kami Kembangkan

Selain sambal batuk, kami juga menghadirkan ayam lengket. Cara memasaknya berbeda dari ayam goreng biasa.

Ayam mentah dimasukkan bersama rempah-rempah ke dalam minyak yang masih dingin, kemudian dimasak menggunakan api kecil secara perlahan. Metode tersebut membuat proses memasaknya berlangsung lebih lama sehingga bumbu dapat meresap tanpa membuat ayam menjadi terlalu kering.

Bagi saya, menu seperti ini menarik karena bukan hanya soal hasil akhirnya, tetapi juga teknik memasaknya.

Saya Tidak Bisa Sembarangan Menentukan Rasa

Dalam proses pengembangan makanan ini, ada satu orang yang menurut saya cukup penting, yaitu ibu saya.

Baca Juga: Perawatan Bonsai agar Tetap Sehat dan Subur, Ini Tahapan yang Perlu Dilakukan

Kalau soal makanan, ibu saya sangat detail. Ketika mencicipi sesuatu, dia tidak hanya mengatakan enak atau tidak enak. Kalau ada bagian yang menurutnya masih perlu diperbaiki, dia akan langsung menyebutkan bagian mana yang harus direvisi.

Karena itu, saya justru merasa tertantang ketika makanan yang kami buat harus dicicipi ibu. Saya ingin rasanya benar-benar bisa diterima sebelum dibawa ke pasar.

Pada akhirnya, bagi saya membuat sego tempong bukan hanya tentang menjual makanan. Ada proses pertemanan, pertukaran pengalaman kuliner, riset rasa, hingga usaha mempertahankan karakter makanan Banyuwangi.

Saya berharap sego tempong yang kami hadirkan tetap membawa rasa khasnya, tetapi juga bisa diterima oleh lebih banyak orang di luar Banyuwangi.

Source Raditya Dika YouTube

Editor : Valentyo Samuel Putra Widodo
nasi goreng tempong nasi tempong Banyuwangi kuliner Banyuwangi