BLITAR KAWENTAR - GWK Bali bukan sekadar tempat untuk melihat kemegahan patung Garuda Wisnu Kencana dari luar. Pengunjung ternyata dapat masuk ke bagian dalam patung setinggi 122 meter itu hingga lantai 23, melihat struktur baja dan beton, menyaksikan perjalanan pembangunannya, serta menikmati pemandangan Bali dari ketinggian sekitar 88 meter.
Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana menjadi salah satu ikon wisata Bali. Kompleks ini tidak hanya menghadirkan patung monumental, tetapi juga menyimpan kisah Garuda dan Dewa Wisnu yang diperkenalkan melalui berbagai area dan fasilitas edukasi.
Pengalaman menjelajahi GWK diawali dari Tirta Amerta. Area tersebut menjadi bagian awal cerita Garuda yang mencari Tirta Amerta demi menyelamatkan ibunya. Air mancur di kawasan itu menjadi representasi air atau tirta dalam kisah tersebut.
Menelusuri Plaza Kura-Kura hingga Plaza Garuda
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Plaza Kura-Kura. Di kawasan ini terdapat kolam yang dikaitkan dengan Kurma, salah satu awatara Dewa Wisnu dalam kepercayaan Hindu. Kurma dipercaya menopang Gunung Mandara dalam kisah pencarian Tirta Amerta.
Baca Juga: Selomangleng Kediri Tawarkan Wisata Sejarah dan Alam, Jadi Destinasi Favorit Liburan Keluarga
Di area tersebut juga terdapat patung Dewi Laksmi yang membawa bunga lotus. Pengunjung dapat mengikuti aktivitas melempar koin sambil menyampaikan keinginan.
Dari Plaza Kura-Kura, perjalanan dilanjutkan menuju Plaza Wisnu. Lokasinya berada di kawasan perbukitan sehingga pengunjung dapat menikmati panorama Denpasar, laut, hingga area bandara dari ketinggian.
Selanjutnya, pengunjung menuju Plaza Garuda dan Lotus Pond. Kawasan ini juga kerap digunakan untuk berbagai kegiatan dan acara besar. Dan terlihat ornamen berbentuk telur raksasa yang menjadi bagian dari representasi Garuda.
Melihat Proses Pembangunan GWK
Salah satu bagian menarik berada di dalam patung. Pengunjung diajak melihat sejarah pembangunan GWK melalui berbagai dokumentasi, maket, gambar rancangan, hingga perkembangan teknologi yang digunakan.
Gagasan pembangunan GWK disebut dimulai pada 1989. Seniman Nyoman Nuarta kemudian terlibat dalam perancangan patung tersebut. Prosesnya mengalami berbagai tahapan, termasuk presentasi rancangan kepada Presiden Soeharto pada 1993, penerbitan izin pada 1994, dan peletakan batu pertama pada 1997.
Baca Juga: Taman Brantas Kediri Jadi Destinasi Favorit, Wisata Gratis dengan Pemandangan Sungai yang Menawan
Pembangunan sempat terhenti akibat krisis moneter. Proyek kemudian berlanjut pada 2012 dan dikembangkan kembali hingga akhirnya patung GWK selesai pada 2018.
Di dalam area museum, pengunjung juga dapat melihat perubahan desain patung dari beberapa rancangan awal. Dokumentasi tersebut memperlihatkan bagaimana konsep patung disesuaikan dengan kebutuhan struktur dan proses konstruksi.
Naik hingga Lantai 23
Pengalaman berbeda ditawarkan melalui tur ke bagian dalam patung. Pengunjung terlebih dahulu diarahkan ke lantai 9 untuk melihat tayangan mengenai kisah Garuda Wisnu Kencana dan sejarah pembangunannya.
Tur kemudian dilanjutkan menuju lantai 23 menggunakan lift kaca. Pada ketinggian sekitar 88 meter dari permukaan tanah, pengunjung dapat melihat struktur baja dan beton yang menopang tubuh patung.
Dari bagian tersebut, panorama Bali terlihat semakin luas. Pantai Kuta, Jimbaran, Seminyak, Canggu hingga Bandara I Gusti Ngurah Rai dapat terlihat dari beberapa sisi.
Baca Juga: Destinasi Wisata Gurami Seduri di Wonodadi Blitar Bisa Jadi Jujukan Libur Akhir Tahun
GWK Jadi Pengalaman Wisata yang Berbeda
Patung Garuda Wisnu Kencana memiliki tinggi 122 meter dan tersusun dari ratusan modul yang dirakit di lokasi. Dalam tur, pengunjung juga akan diperlihatkan contoh material kulit patung, proses oksidasi, hingga pengujian struktur terhadap beban angin.
Luasnya kawasan membuat wisatawan perlu menyiapkan kondisi fisik. Perjalanan dari satu titik ke titik lain cukup menguras tenaga sehingga alas kaki nyaman dan waktu yang cukup menjadi hal penting.
GWK Bali menawarkan lebih dari sekadar spot foto. Pengunjung dapat menikmati panorama, memahami filosofi budaya, sekaligus melihat langsung proses teknologi dan konstruksi di balik salah satu landmark terbesar di Pulau Dewata.
Editor : Difa'un NadhirohSumber : Diolah dari berbagai sumber