BLITAR KAWENTAR - GWK Bali atau Garuda Wisnu Kencana memiliki perjalanan panjang sebelum menjadi salah satu ikon wisata dan kebudayaan Indonesia. Pembangunannya sempat terhenti selama 21 tahun akibat krisis moneter. Kini, kawasan tersebut berdiri sebagai taman wisata luas dengan patung monumental yang menjadi daya tarik utama di Bali Selatan.
Sejarah pembangunan GWK bermula dari gagasan seniman Bali, Nyoman Nuarta. Menurut Ketut Sudarma, pemandu wisata, pembangunan patung tersebut didorong keinginan menghadirkan ikon Indonesia yang dapat dikenal dunia.
GWK berada di kawasan Bukit Ungasan, salah satu titik tinggi di Bali Selatan. Lokasi tersebut dipilih untuk mendukung kemegahan patung yang dirancang dalam skala besar.
Berawal dari Gagasan Nyoman Nuarta
Ketut menjelaskan, GWK pada dasarnya merupakan objek wisata berbentuk taman dan bukan tempat suci umat Hindu. Meski menggunakan nama Wisnu, kawasan tersebut tetap dikembangkan sebagai destinasi wisata yang memperkenalkan seni dan budaya Bali.
Patung Garuda Wisnu Kencana menggambarkan Dewa Wisnu yang mengendarai Garuda. Sosok tersebut menjadi bagian dari kisah dan simbol yang melekat dalam kebudayaan Hindu.
Baca Juga: Taman Brantas Kediri Jadi Destinasi Wisata Gratis, Nikmati Panorama Sungai dan Jembatan Bersejarah
Pembangunan GWK kemudian dimulai dengan peletakan batu pertama. Namun, proyek besar tersebut menghadapi kendala ketika Indonesia mengalami krisis moneter.
Kenaikan nilai dolar dan mahalnya bahan baku membuat pembangunan mengalami hambatan serius. Proyek tersebut akhirnya berhenti dalam waktu yang sangat panjang.
Sempat Terhenti Selama 21 Tahun
Menurut Ketut, pembangunan GWK sempat tidak bergerak selama sekitar 21 tahun. Kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor yang membuat proyek monumental itu sulit dilanjutkan.
Setelah kondisi perekonomian kembali membaik, pembangunan kemudian diteruskan. Proses penyelesaian dilakukan dalam kurun waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan masa proyek terhenti.
Hasilnya dapat dilihat hingga sekarang. Patung Garuda Wisnu Kencana berdiri menjulang di kawasan perbukitan Bali Selatan dan menjadi salah satu landmark yang mudah dikenali.
Baca Juga: Pantai Tanjung Aan Jadi Destinasi Favorit di Lombok, Dekat Sirkuit Mandalika
Perjalanan panjang tersebut sekaligus menjadi bagian penting dari cerita GWK. Pengunjung tidak hanya melihat patung berukuran besar, tetapi juga dapat mengetahui bahwa pembangunannya melewati proses dan tantangan selama puluhan tahun.
Memiliki Struktur hingga 30 Lantai
Kemegahan GWK tidak hanya terlihat dari luar. Struktur monumen tersebut memiliki bangunan yang membentang hingga sekitar 30 lantai.
Meski demikian, menurut penjelasan Ketut, lantai yang digunakan untuk aktivitas pengunjung saat ini hanya beberapa bagian. Di antaranya terdapat lantai bawah, lantai 9, serta lantai 21.
Sementara itu, struktur bangunan secara keseluruhan telah mencapai lantai tertinggi. Skala tersebut menunjukkan besarnya rancangan konstruksi yang digunakan untuk menopang patung Garuda Wisnu Kencana.
Ketinggian dan lokasinya di atas perbukitan juga membuat keberadaan GWK semakin menonjol ketika dilihat dari kawasan sekitarnya.
GWK Jadi Ikon Wisata Bali
Selain patung utama, kawasan GWK memiliki taman wisata yang luas. Pengunjung dapat menikmati area terbuka sekaligus mengenal berbagai unsur seni dan budaya Bali.
Bagi wisatawan, keberadaan GWK menjadi salah satu pengalaman untuk melihat landmark yang lahir dari gagasan seniman Indonesia. Perjalanan pembangunannya yang panjang juga menjadi bagian dari daya tarik destinasi tersebut.
Kini, setelah melewati masa pembangunan yang penuh tantangan, GWK Bali menjadi salah satu tujuan wisata yang dikenal luas. Patung Garuda Wisnu Kencana tidak hanya menjadi bangunan monumental, tetapi juga merepresentasikan perjalanan panjang sebuah gagasan untuk menghadirkan ikon Indonesia di mata dunia.
Editor : Difa'un NadhirohSumber : Diolah dari berbagai sumber