Paylater Bikin Belanja Makin Mudah, Tapi Ada Risiko Perilaku Konsumtif yang Mengintai Generasi Muda

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 13:00 WIB
DAFFA AYU MARLITA : Seorang kreator konten, menilai paylater sebenarnya dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara bijak.
DAFFA AYU MARLITA : Seorang kreator konten, menilai paylater sebenarnya dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara bijak.

 

BLITAR KAWENTAR - Paylater semakin banyak menawarkan kemudahan bagi generasi muda dalam bertransaksi.

 Dengan fasilitas pembayaran yang memungkinkan pengguna membeli barang tanpa membayar penuh di awal, kebutuhan maupun keinginan dapat dipenuhi melalui sistem cicilan.

Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat risiko perilaku konsumtif yang perlu diperhatikan.

Baca Juga: September 2026, Polres Blitar Kota Ungkap 5 Kasus Narkoba dan Amankan Lima Tersangka

Paylater menjadi salah satu fasilitas pembayaran yang menarik karena proses penggunaannya relatif cepat. Pengguna juga dapat melakukan pembayaran secara cicilan.

Selain itu, berbagai diskon dan potongan harga yang ditawarkan turut menjadi daya tarik tersendiri. Kondisi tersebut membuat paylater terlihat praktis bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Meski menawarkan kemudahan, penggunaan paylater juga dapat mendorong perilaku konsumtif apabila tidak disertai pengendalian diri.

Baca Juga: Ramalan Taurus Oktober 2026: Mantan Disebut Masih Rindu dan Ingin Kembali

 Daffa Ayu Marlita, seorang kreator konten, menilai paylater sebenarnya dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara bijak. Sebaliknya, penggunaan secara berlebihan berpotensi menimbulkan sejumlah risiko bagi pengguna.

Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah tagihan yang semakin menumpuk. Cicilan yang terlihat kecil ketika dilakukan satu kali bisa menjadi beban pembayaran apabila transaksi dilakukan berulang kali.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama ketika seseorang menggunakan paylater untuk membeli berbagai barang hanya karena tersedia pilihan pembayaran secara cicilan.

 Kemudahan membayar secara bertahap dapat membuat pengguna kurang mempertimbangkan jumlah kewajiban yang harus dibayarkan pada kemudian hari.

Daffa menyarankan agar pengguna tidak mudah tergoda membeli barang hanya karena dapat dicicil. Sebelum melakukan transaksi, pengguna perlu mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau sekadar diinginkan.

Perilaku konsumtif dapat muncul ketika seseorang membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan mengikuti tren atau gaya sosial.

Baca Juga: Cara Mengetahui Kata Sandi WiFi di HP Oppo yang Sudah Terhubung, Ternyata Mudah

Dalam kondisi tersebut, paylater dapat membuat proses pembelian terasa lebih mudah karena pengguna tidak harus mengeluarkan seluruh uang sekaligus.

Padahal, setiap transaksi tetap menghasilkan kewajiban pembayaran. Karena itu, kemudahan dalam bertransaksi perlu diimbangi dengan tanggung jawab dalam mengatur pengeluaran.

Fenomena paylater menunjukkan bahwa kemudahan transaksi tidak dapat dilepaskan dari kemampuan pengguna dalam mengendalikan keuangan.

Baca Juga: Verrell Bramasta Menikah dengan Siapa? Ini Sosok yang Dikaitkan, Faktanya Bikin Penasaran

 Fasilitas tersebut perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing agar tidak menimbulkan beban pembayaran di kemudian hari.

Daffa menilai paylater dapat menjadi solusi ketika digunakan sesuai kemampuan. Namun, fasilitas tersebut juga dapat berubah menjadi jebakan konsumtif apabila digunakan untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan sehari-hari secara berlebihan.

Karena itu, pengguna perlu mempertimbangkan kembali setiap transaksi sebelum memilih pembayaran menggunakan paylater.

Baca Juga: Suzuki S-Presso 2026 Diprediksi Makin Modern, Harga Mulai Rp190 Jutaan

 Pertanyaan sederhana seperti apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya diinginkan dapat membantu mengendalikan keputusan belanja. (mg3/c1/sub)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
generasi muda Perilaku Konsumtif paylater cicilan keuangan