JAKARTA - Bonsai beringin menjadi koleksi utama Thaib Irawan yang telah dirawat selama puluhan tahun. Koleksinya tidak hanya beringin lokal, tetapi juga berbagai jenis seperti beringin Korea, kimeng atau beringin Taiwan, beringin Arjuna, dolar, bunut merah, bunut putih, hingga beringin jenggot. Selain memiliki karakter daun dan batang berbeda, masing-masing tanaman membutuhkan perawatan dan teknik pembentukan yang disesuaikan dengan usianya.
Bagi Thaib, ketertarikan terhadap bonsai berawal dari kegemaran merawat tanaman. Beringin dapat diperbanyak melalui beberapa cara, mulai dari biji, stek, hingga cangkok. Sementara untuk mendapatkan akar yang tampil menonjol seperti pada sejumlah koleksinya, proses pembentukan dilakukan sejak tanaman masih muda.
Akar Bonsai Beringin Dibentuk Bertahap
Salah satu teknik yang digunakan adalah melakukan pergantian pot secara berkala. Tanaman yang masih muda dipindahkan ke pot berikutnya setelah tumbuh, kemudian akar secara bertahap dapat dinaikkan agar menghasilkan tampilan yang lebih kuat.
Baca Juga: SMAX 160 Disebut Bisa Geser NMAX, Mesin Lebih Besar Jadi Sorotan
Proses tersebut membutuhkan waktu dan tidak bisa dilakukan secara instan. Beberapa koleksi Thaib bahkan telah berusia hingga belasan tahun. Salah satunya beringin jenggot yang disebut telah berumur sekitar 15 tahun dan memiliki akar gantung yang menjadi karakter utama tanaman.
Beringin jenggot memang dikenal memiliki banyak akar gantung. Akar tersebut kemudian dapat dirawat dan dibesarkan sehingga membentuk kesan kokoh pada batang dan pangkal pohon.
Pengawatan untuk Membentuk Karakter Pohon
Selain akar, pengawatan menjadi bagian penting dalam pembentukan bonsai beringin. Kawat digunakan untuk mengarahkan pertumbuhan cabang sesuai bentuk yang diinginkan.
Baca Juga: Nokia Lumia Max 2026 Rumor: AMOLED 120 Hz hingga Snapdragon 870, Harga Rp3 Jutaan
Thaib menjelaskan, kawat perlu diperhatikan agar tidak sampai membekas pada batang atau cabang. Pada koleksinya, pergantian kawat dilakukan sekitar tiga bulan sekali.
Teknik tersebut membuat pembentukan dapat mengikuti desain yang sudah ditentukan sejak awal. Cabang tidak dibiarkan tumbuh tanpa arah karena bentuk akhir bonsai membutuhkan proses pengaturan secara bertahap.
Media Tanam dan Penyiraman Tak Boleh Diabaikan
Perawatan bonsai beringin juga berkaitan erat dengan kondisi media tanam. Media yang digunakan antara lain tanah, pasir, dan humus. Pergantian media dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan usia tanaman dan kondisi tanah.
Untuk tanaman yang masih muda, media disebut dapat diganti sekitar setahun sekali. Sementara tanaman yang lebih lama dapat membutuhkan pergantian media sekitar dua tahun sekali.
Penyiraman dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore. Pemberian nutrisi juga disesuaikan dengan kondisi media. Jika media masih baik, pemberian nutrisi dapat dilakukan sekitar sebulan sekali. Namun, ketika kandungan nutrisinya mulai berkurang, frekuensinya dapat ditingkatkan menjadi sekitar dua minggu sekali.
Gulma di sekitar tanaman juga perlu dibersihkan. Rumput liar dapat mengambil nutrisi yang seharusnya dimanfaatkan oleh tanaman sehingga penyiangan menjadi bagian dari perawatan rutin.
Ada Kimeng hingga Bunut Merah
Koleksi Thaib menunjukkan beragam karakter beringin. Beringin Korea yang dimilikinya disebut masih berusia sekitar lima tahun. Sementara beringin kimeng atau beringin Taiwan memiliki daun kecil dengan ujung lancip dan telah dirawat hampir 10 tahun.
Ada pula beringin Arjuna yang berusia sekitar tujuh tahun. Tanaman ini memiliki karakter daun yang berbeda dengan beringin beringin lainnya dan dapat diperbanyak melalui stek maupun cangkok.
Koleksi lainnya adalah bunut merah dari Bangkok yang disebut telah berusia lebih dari 10 tahun. Pucuk merah menjadi salah satu cirinya. Thaib juga memiliki bunut putih dengan karakter batang dan daun yang berbeda.
Harga koleksi tersebut bervariasi. Beberapa bonsai disebut dapat mencapai jutaan rupiah, tergantung jenis, usia, bentuk, serta tingkat pembentukannya.
Koleksi tersebut menunjukkan bahwa merawat bonsai beringin bukan sekadar menjaga tanaman tetap hidup. Prosesnya membutuhkan ketelatenan sejak pembibitan, pembentukan akar, pengawatan, penggantian media, hingga perawatan harian agar karakter pohon berkembang sesuai bentuk yang diinginkan.
Editor : Maylanni Diana Fitri