JAKARTA - Festival bonsai Ruby cabang Pamekasan 2022 menjadi ajang berkumpulnya para penghobi dan seniman bonsai dari berbagai daerah. Digelar pada 1-8 Oktober, festival bonsai tersebut diikuti sekitar 500 peserta dan mempertandingkan sejumlah kategori, mulai konsep, silver, gold hingga panjang. Salah satu yang mencuri perhatian adalah bonsai beringin kimeng yang disebut pernah menjadi juara di Surabaya dan mendapat tawaran hingga Rp1 miliar.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya karya yang memenuhi arena pameran. Berbagai jenis tanaman ditampilkan dengan bentuk dan karakter berbeda, sekaligus memperlihatkan proses panjang para seniman dalam membentuk bonsai.
Tidak hanya mengandalkan usia tanaman, penilaian juga memperhatikan sejumlah aspek seperti gerak dasar, kematangan, keseimbangan, serta kualitas keseluruhan karya.
Empat Kategori Ramaikan Festival
Festival bonsai Ruby Pamekasan membagi peserta ke dalam beberapa kategori. Dalam video tersebut disebutkan ada kelas konsep, silver, gold, dan panjang.
Baca Juga: Samsung Galaxy A07s Muncul, Harga Rp2 Jutaan Bawa Android 16
Seluruh kelas yang disiapkan disebut telah terpenuhi oleh peserta. Jumlah peserta yang mencapai sekitar 500 orang membuat arena festival dipenuhi berbagai karya bonsai dengan karakter masing-masing.
Salah satu karya yang mendapat perhatian adalah bonsai beringin kimeng milik Prof Zudan dari Bekasi. Bonsai tersebut disebut pernah meraih juara dalam sebuah festival di Surabaya.
Nilai yang melekat pada tanaman tersebut juga cukup tinggi. Dalam penjelasan video, tawaran untuk bonsai beringin kimeng itu disebut sudah mencapai Rp1 miliar.
Penilaian Tak Sekadar Melihat Ukuran
Dalam kompetisi bonsai, ukuran bukan satu-satunya aspek yang menjadi perhatian. Kematangan dan keseimbangan tanaman turut menjadi pertimbangan.
Baca Juga: Samsung Galaxy A07s Bawa Android 16 dan Update 6 Tahun, Harga Rp2 Jutaan
Salah satu karya yang dibahas disebut berhasil melewati sejumlah tahapan penilaian hingga masuk sembilan besar. Dari kelompok tersebut, karya itu kemudian menjadi best in class.
Konsep penghargaan juga dapat dibedakan berdasarkan ukuran maupun jenis tanaman. Untuk jenis tertentu yang jumlahnya banyak, misalnya keluarga beringin, secara konsep dapat diberikan penghargaan berdasarkan spesies.
Hal itu menunjukkan bahwa keragaman bonsai membuat sistem penilaian harus mempertimbangkan karakter masing-masing tanaman.
Kelas Silver Pamerkan Beragam Bonsai
Kelas silver menjadi salah satu bagian yang turut diperlihatkan dalam festival. Deretan bonsai di kelas tersebut menampilkan berbagai jenis tanaman dengan tingkat kematangan yang berbeda.
Salah satu karya yang disorot adalah beringin dolar kimeng milik Haji Sidik. Selain itu, terdapat pula bonsai asam jawa dan ulmus.
Dalam pengamatan terhadap salah satu karya, gerak dasar, kematangan, dan keseimbangan disebut sudah terlihat. Namun, tanaman tersebut masih membutuhkan waktu agar percabangannya menjadi lebih rapat.
Proses tersebut menjadi gambaran bahwa bonsai membutuhkan kesabaran. Bentuk yang sudah baik belum tentu langsung dianggap selesai karena perkembangan cabang dan tingkat kematangan tanaman terus menjadi bagian dari proses pembentukan.
Ajang Unjuk Karya Seniman Bonsai
Festival di Pamekasan tersebut tidak sekadar menjadi kompetisi, tetapi juga ruang untuk melihat perkembangan seni bonsai di Indonesia. Ratusan peserta membawa karya dengan karakter berbeda untuk diperlihatkan kepada pengunjung dan dinilai dalam kelas masing-masing.
Keberadaan kategori yang beragam juga memberikan ruang bagi tanaman dengan ukuran, jenis, dan tingkat kematangan berbeda untuk tampil.
Bonsai beringin kimeng dengan nilai tawaran hingga Rp1 miliar menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah tanaman dapat memiliki nilai tinggi ketika mempunyai kualitas bentuk, rekam prestasi, dan tingkat kematangan yang dianggap istimewa.
Melalui festival bonsai tersebut, pengunjung dapat melihat bahwa membentuk bonsai bukan pekerjaan singkat. Setiap lekukan batang, percabangan, keseimbangan, dan kematangan membutuhkan proses panjang sebelum menghasilkan karya yang siap berkompetisi.
Editor : Maylanni Diana Fitri