Bonsai Serut Purba 700 Tahun di Jombang, Kisah Evakuasinya Bikin Geleng Kepala

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 22:15 WIB
Bonsai serut berusia 700 tahun disebut berada di Jombang. Proses evakuasinya dari hutan membutuhkan 12 orang selama enam hari.(pinterest)
Bonsai serut berusia 700 tahun disebut berada di Jombang. Proses evakuasinya dari hutan membutuhkan 12 orang selama enam hari.(pinterest)

JOMBANG - Bonsai serut milik kolektor Pak Rifai di Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, menyimpan cerita panjang yang tidak biasa. Salah satu bonsai serut disebut berusia sekitar 700 tahun berdasarkan data Perhutani, sementara koleksi lainnya diperkirakan berumur hampir 500 tahun. Ukurannya yang besar, bentuk alami yang ekstrem, serta proses pemindahan dari kawasan hutan membuat koleksi tersebut disebut sebagai bonsai serut purba yang istimewa.

Koleksi itu bukan hasil pembentukan dalam waktu singkat. Sebagian pohon berasal dari kawasan hutan di Bojonegoro dan sejumlah wilayah lain di sekitar Jombang, Lamongan, Blora hingga Cepu. Proses pengambilan hingga pemindahan ke rumah kolektor membutuhkan tenaga, waktu dan biaya besar.

Bonsai Serut Berusia Ratusan Tahun

Salah satu serut yang menjadi perhatian memiliki lingkar batang sekitar 3,65 meter. Pohon tersebut berasal dari kawasan hutan di perbatasan Bojonegoro dan kemudian dipindahkan ke Jombang.

Baca Juga: iQOO 16 Resmi Meluncur, Flagship Baru Ini Bawa Baterai 8.400 mAh

Prosesnya tidak sederhana. Lokasi pohon berada sekitar delapan kilometer dari jalan yang bisa dilalui kendaraan. Medannya disebut naik turun dan curam sehingga akses transportasi harus dipersiapkan terlebih dahulu.

Pak Rifai bahkan menyebut pembuatan akses jalan menjadi bagian dari proses evakuasi. Sebanyak 12 orang terlibat dalam pengambilan pohon selama sekitar enam hari. Tim tersebut menggunakan berbagai peralatan dan kendaraan karena kendaraan besar tidak mampu menjangkau medan.

Dalam prosesnya, beberapa kendaraan mengalami kendala. Truk harus diganti dan perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan lain. Kondisi cuaca juga menjadi tantangan karena pohon disebut roboh ketika terjadi hujan disertai angin.

Tak Semua Orang Berani Mengambil Serut

Menurut Pak Rifai, karakter serut membuat tanaman tersebut berbeda dengan sejumlah jenis bonsai lainnya. Jika bentuk tanaman lain kurang sesuai, masih memungkinkan dilakukan penyambungan atau penambahan bagian tertentu untuk memperbaiki struktur.

Baca Juga: iQOO 16 Bawa Baterai 8.400 mAh dan Layar 165 Hz, Harga Rp16 Jutaan

Namun, hal itu disebut tidak dapat dilakukan pada serut dengan cara yang sama. Karakter alaminya justru menjadi bagian penting dari nilai pohon.

Karena itu, pengambilan serut dari alam membutuhkan keberanian sekaligus kemampuan teknis. Risiko perjalanan menuju lokasi dan proses evakuasi menjadi pertimbangan besar.

Salah satu pohon bahkan disebut pernah menjadi incaran pencurian. Menurut cerita dalam video, pohon tersebut beberapa kali hendak diambil orang tetapi tidak berhasil dibawa keluar dari lokasi.

Setiap Pohon Punya Kisah Sendiri

Koleksi Pak Rifai tidak hanya berasal dari satu kawasan. Ada serut dari Bojonegoro, perbatasan Lamongan-Jombang, Pelandaan, Kabuh dan sejumlah wilayah lain.

Salah satu koleksi disebut memiliki bentuk menyerupai naga. Ada pula pohon yang setelah 10 tahun proses pembentukan masih belum selesai. Untuk mendapatkan struktur yang diinginkan, pemilik masih harus menunggu dan mengembangkan bagian-bagian yang kosong.

Bahkan bonsai yang sudah berproses 15 tahun sejak pendongkelan juga disebut belum sepenuhnya selesai. Beberapa bagian masih perlu dikembangkan agar komposisinya semakin lengkap.

Selain serut, terdapat pula asem jawa. Salah satu asem disebut berusia lebih dari 30 tahun dan berasal dari biji. Proses panjang tersebut menunjukkan bahwa membentuk bonsai berukuran besar tidak bisa dilakukan secara instan.

Tidak Semua Pohon Berakhir Sempurna

Besarnya usaha yang dikeluarkan untuk mendapatkan bonsai berkarakter ekstrem tidak selalu menjamin keberhasilan. Dalam video juga ditampilkan serut berukuran sangat besar yang akhirnya mati.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa bonsai tetap merupakan tanaman hidup. Perawatan, adaptasi setelah dipindahkan dan proses pembentukan sangat menentukan keberlanjutan pohon.

Pak Rifai disebut tidak menjual koleksi bonsai serut purbanya meski telah mendapatkan sejumlah tawaran. Baginya, setiap pohon memiliki cerita dan perjuangan masing-masing.

Koleksi tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi tanaman hias. Bonsai serut di rumah Pak Rifai menjadi gambaran panjang tentang proses mengambil, merawat dan membentuk tanaman dari alam hingga menjadi karya bernilai seni.

Editor : Maylanni Diana Fitri
bonsai serut Pak Rifai bonsai purba jombang perhutani