JOMBANG - Bonsai serut berusia sekitar 700 tahun menjadi salah satu koleksi ekstrem milik Pak Rifai di Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Berdasarkan data Perhutani yang disebut dalam video, pohon tersebut diperkirakan berumur sekitar 700 tahun, sedangkan koleksi serut lainnya mencapai hampir 500 tahun. Untuk memindahkan salah satu pohon dari kawasan hutan di Bojonegoro, dibutuhkan 12 orang selama enam hari dengan medan yang sulit dan akses sekitar delapan kilometer dari jalan yang dapat dilalui kendaraan.
Koleksi tersebut memperlihatkan bagaimana bonsai serut memiliki karakter berbeda dibandingkan tanaman yang sengaja dibentuk sejak awal. Sebagian besar pohon yang berada di rumah Pak Rifai merupakan hasil pengambilan dari alam dengan bentuk batang dan bonggol yang sudah terbentuk secara alami.
Perjalanan Panjang dari Tengah Hutan
Salah satu serut berukuran sangat besar diketahui berasal dari kawasan hutan di perbatasan Bojonegoro. Pohon tersebut memiliki lingkar batang sekitar 3,65 meter.
Baca Juga: iPhone 16e Kembali Diburu, Harga Turun di Bawah Rp10 Juta Jadi Alasan
Namun, memindahkannya ke rumah bukan perkara mudah. Lokasi pohon berada jauh dari jalan yang bisa dilalui truk. Jarak dari akses kendaraan menuju titik pohon disebut mencapai sekitar delapan kilometer dengan kondisi medan naik turun dan curam.
Pak Rifai bahkan harus mempersiapkan akses jalan terlebih dahulu agar proses evakuasi dapat dilakukan. Jalan yang dibuat tersebut kemudian tetap dimanfaatkan masyarakat sekitar.
Proses pengambilan melibatkan 12 orang dan berlangsung selama enam hari. Tim yang digunakan bukan sembarang tenaga karena kondisi medan dan ukuran pohon membutuhkan pengalaman serta peralatan yang memadai.
Tim dari Jombang disebut tidak banyak yang berani melakukan proses tersebut. Karena itu, Pak Rifai mendatangkan tim dari Lamongan yang dianggap memiliki pengalaman dalam proses pengambilan pohon dari alam.
Kendaraan Berkali-kali Mengalami Kendala
Tantangan tidak berhenti di lokasi pohon. Kendaraan yang digunakan untuk mengangkut bonsai juga mengalami berbagai kendala.
Baca Juga: Harga iPad A16 Naik, Versi Bekas Kini Jadi Pilihan Lebih Terjangkau
Truk disebut tidak mampu melintasi medan sehingga harus dilakukan pergantian kendaraan. Bahkan, kendaraan harus diganti beberapa kali sebelum pohon bisa dibawa menuju lokasi yang lebih mudah diakses.
Cuaca turut memperberat proses tersebut. Dalam cerita yang disampaikan, pohon roboh ketika terjadi hujan dan angin. Kondisi di lapangan membuat proses evakuasi semakin berisiko.
Bukan hanya tenaga dan biaya yang menjadi taruhan. Proses tersebut juga disebut memiliki risiko keselamatan bagi orang-orang yang terlibat.
Serut Tidak Mudah Dibentuk Ulang
Menurut Pak Rifai, salah satu alasan dirinya begitu menyukai serut adalah karakter alaminya. Serut yang berasal dari alam memiliki bentuk yang tidak mudah direkayasa dengan cara seperti pada jenis bonsai lain.
Jika tanaman lain memiliki bentuk kurang ideal, masih dimungkinkan dilakukan penyambungan atau penambahan bagian tertentu. Namun, menurut penjelasan dalam video, hal tersebut tidak mudah diterapkan pada serut.
Karena itu, bentuk alami menjadi bagian penting dari daya tarik bonsai serut. Bonggol, batang, lubang alami dan gerakan pohon justru menjadi karakter yang dipertahankan.
Beberapa koleksi bahkan memiliki lubang pada batang tetapi tetap hidup. Ada pula serut dengan bentuk menyerupai naga yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun.
Belasan Tahun Belum Tentu Selesai
Koleksi di rumah Pak Rifai juga menunjukkan bahwa membentuk bonsai membutuhkan waktu sangat panjang. Salah satu pohon yang sudah melalui proses sekitar 15 tahun sejak pendongkelan masih belum dianggap selesai.
Ada bagian yang masih harus dikembangkan untuk mengisi ruang kosong dan memperkuat komposisi pohon. Koleksi lain yang telah menjalani proses sekitar 10 tahun pun masih membutuhkan waktu untuk mencapai bentuk yang diinginkan.
Selain serut, terdapat asem jawa berusia lebih dari 30 tahun yang berasal dari biji. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa bonsai berukuran besar dan berkarakter tidak bisa diperoleh secara instan.
Bagi Pak Rifai, setiap pohon memiliki kisah tersendiri. Bahkan sejumlah koleksinya disebut tidak dijual meski sudah ada beberapa pihak yang memberikan penawaran. Nilai sebuah bonsai serut bukan hanya terletak pada bentuk akhirnya, tetapi juga pada sejarah, usia dan perjuangan panjang di baliknya.
Editor : Maylanni Diana Fitri