JOMBANG - Bonsai serut purba milik Pak Rifai di Tambak Beras, Jombang, menjadi salah satu koleksi yang mencuri perhatian karena usianya disebut mencapai ratusan tahun. Salah satunya diperkirakan berumur sekitar 700 tahun berdasarkan data Perhutani yang disebut dalam video. Meski telah mendapat lebih dari enam tawaran, bonsai serut tersebut tetap dipertahankan dan tidak dijual.
Bonsai Serut Tak Bisa Dibentuk Sembarangan
Bagi Pak Rifai, daya tarik utama bonsai serut bukan sekadar ukuran batang atau usia tanaman. Karakter serut justru terletak pada bentuk alaminya yang terbentuk selama puluhan hingga ratusan tahun.
Baca Juga: iQOO 16 Bawa Baterai 8.400 mAh dan Layar 165 Hz, Harga Rp16 Jutaan
Menurut penjelasan dalam video, serut memiliki karakter berbeda dibanding sejumlah jenis bonsai lain. Tanaman ini tidak mudah diperbaiki melalui teknik penyambungan atau “sulaman” untuk menutup bagian kosong pada batang dan cabang.
Karena itu, bentuk yang dimiliki serut harus benar-benar diperoleh dari proses pertumbuhan alami. Bagian batang yang berlubang, lekukan ekstrem, hingga percabangan yang tidak beraturan justru menjadi karakter yang membuat tanaman tersebut memiliki nilai estetika.
Kondisi itu pula yang membuat bonsai serut purba membutuhkan kesabaran panjang. Tanaman yang sudah berusia ratusan tahun tidak bisa sekadar dibentuk ulang agar mengikuti keinginan pemilik.
Ada Serut Berusia 500 hingga 700 Tahun
Koleksi Pak Rifai tidak hanya memiliki satu tanaman berusia ekstrem. Dalam video disebut terdapat serut lain yang usianya hampir mencapai 500 tahun.
Baca Juga: Samsung Galaxy A07s Bawa Android 16 dan Update 6 Tahun, Harga Rp2 Jutaan
Salah satu serut berukuran besar yang berada di depan rumahnya memiliki lingkar batang sekitar 3,65 meter. Pohon tersebut sebelumnya berada di kawasan hutan dan proses pemindahannya membutuhkan persiapan panjang.
Usia tanaman disebut berdasarkan data Perhutani yang menjadi acuan dalam cerita tersebut. Klaim mengenai usia ratusan tahun ini menjadi salah satu alasan koleksi serut Pak Rifai begitu menarik perhatian penghobi bonsai.
Dalam video, koleksi tersebut juga disebut berkaitan dengan rekor MURI. Namun, kategori dan detail rekor yang dimaksud tidak dijelaskan secara lengkap dalam transkrip.
Bentuk Alami Jadi Nilai Utama
Pak Rifai diketahui lebih banyak mengoleksi serut, meski terdapat pula beberapa bonsai asem jawa. Ia menunjukkan sejumlah serut dengan karakter batang yang berbeda-beda, termasuk tanaman yang memiliki bagian batang berlubang tetapi masih hidup.
Ada pula serut dengan bentuk yang disebut menyerupai naga. Tanaman tersebut berasal dari kawasan Pelandaan, Jombang, dan ditemukan di area hutan sebelum akhirnya menjadi bagian dari koleksi.
Menurut cerita dalam video, proses mendapatkan tanaman-tanaman tersebut tidak selalu mudah. Beberapa serut membutuhkan usaha besar ketika dipindahkan dari habitat asalnya. Bahkan, ada tanaman berukuran besar yang akhirnya mati meski proses evakuasinya telah dilakukan dengan susah payah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa mengoleksi bonsai serut berkarakter ekstrem bukan sekadar persoalan membeli tanaman. Ada proses panjang, risiko, serta perawatan yang harus dilalui sebelum sebuah pohon bisa menjadi bagian dari koleksi.
Tak Semua Bonsai Harus Cepat Jadi
Koleksi Pak Rifai juga memperlihatkan bahwa bonsai berusia belasan tahun belum tentu langsung memiliki bentuk sempurna. Beberapa serut yang telah berusia sekitar 10 hingga 15 tahun masih membutuhkan pengembangan pada bagian cabang dan pengisian ruang kosong.
Bagi penghobi bonsai, proses tersebut merupakan bagian dari perjalanan tanaman. Bentuk akhir tidak selalu bisa ditentukan dalam waktu singkat.
Itulah yang membuat bonsai serut purba memiliki daya tarik tersendiri. Usia panjang, karakter alami, dan kisah di balik proses mendapatkannya membuat setiap pohon memiliki cerita berbeda. Bagi Pak Rifai, nilai tersebut tampaknya jauh lebih penting daripada sekadar harga jual.
Editor : Maylanni Diana Fitri