SRAGEN - Sambal Belut Sragen menjadi kuliner tradisional yang ramai diburu pencinta makanan di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Berlokasi di Desa Puro, Kecamatan Karang Malang, hidangan ini menawarkan perpaduan belut goreng yang garing dan renyah dengan sambal tomat rasi yang gurih. Uniknya, menu tersebut disajikan menggunakan cobek dari tanah liat.
Popularitas kuliner ini terlihat dari banyaknya pengunjung yang datang silih berganti setiap hari. Pada waktu makan siang, pengunjung bahkan harus bersabar menunggu giliran karena ramainya pembeli yang ingin menikmati olahan belut tersebut.
Tak hanya berasal dari Sragen dan kawasan Solo Raya, penikmat kuliner dari daerah lain juga disebut datang untuk mencicipi menu tradisional ini. Cita rasa belut yang empuk sekaligus renyah menjadi salah satu alasan hidangan tersebut banyak disukai.
Belut Rawa Jadi Pilihan Utama
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pengolahan sambal belut adalah jenis belut yang digunakan. Pengelola menyebut belut lokal, termasuk belut sawah dan belut rawa, menjadi bahan utama dalam menu tersebut.
Baca Juga: Turnamen Tenis WWS Arena Diikuti 200 Peserta, Jadi Ajang Tambah Jam Terbang
Belut rawa dipilih karena memiliki ukuran yang relatif besar. Selain itu, dagingnya dinilai mempunyai rasa gurih sehingga cocok diolah dengan cara digoreng sebelum dipadukan dengan sambal.
Pengunjung yang mencicipinya menggambarkan tekstur daging belut terasa empuk dan gurih. Setelah digoreng, bagian luarnya menjadi garing serta renyah, sementara daging di dalamnya tetap terasa lembut.
Karakter tersebut kemudian dipadukan dengan sambal tomat rasi. Bumbu sambalnya disebut tidak memiliki rasa pedas yang berlebihan. Rasa gurih dan sedikit manis membuat sambal tetap bisa dinikmati oleh pengunjung yang tidak terlalu menyukai makanan pedas.
Disajikan dengan Cobek Tanah Liat
Bukan hanya bahan dan bumbu yang menjadi pembeda. Sambal belut tersebut juga disajikan menggunakan cobek berbahan tanah liat.
Baca Juga: 10 Tempat Wisata Indonesia yang Mendunia, dari Wakatobi hingga Bali
Penyajian dengan peralatan tradisional itu memberikan kesan khas pada hidangan. Belut goreng yang renyah, sambal tomat rasi, serta cobek tanah liat menjadi kombinasi yang memperkuat nuansa makanan tradisional.
Bagi sebagian pengunjung, cita rasa menjadi pertimbangan utama. Namun, cara penyajian juga menjadi bagian dari pengalaman ketika menikmati kuliner tersebut.
Sambal belut sendiri menjadi menu yang paling banyak diminati dibandingkan beberapa hidangan lainnya yang tersedia. Pengelola juga menawarkan garang asem belut serta iwak kali goreng.
Ada Iwak Kali hingga Garang Asem Belut
Selain sambal belut, garang asem belut disebut termasuk menu yang cukup ramai dipesan. Ada pula iwak kali goreng yang menggunakan ikan yang didatangkan dari Sukoharjo.
Variasi menu tersebut membuat pengunjung memiliki pilihan selain olahan belut dengan sambal. Meski demikian, sambal belut tetap menjadi hidangan yang paling identik dengan tempat makan tersebut.
Untuk menikmati sambal belut lengkap dengan nasi hangat dan minuman teh, pengunjung perlu menyiapkan uang sekitar Rp25 ribu berdasarkan informasi dalam tayangan.
Harga tersebut membuat kuliner tradisional ini dapat menjadi salah satu pilihan bagi pencinta makanan yang ingin mencoba olahan belut di Sragen. Terlebih, cita rasa gurih, tekstur renyah, sambal yang tidak terlalu pedas, serta penyajian menggunakan cobek tanah liat menjadi daya tarik tersendiri.
Di tengah beragam kuliner modern, sambal belut tetap menunjukkan bahwa makanan tradisional dengan bahan lokal masih mampu menarik perhatian penikmat kuliner dari berbagai daerah.
Editor : Maylanni Diana Fitri