JAKARTA - Makanan Indonesia kembali menjadi bagian dari perjalanan kuliner Luna dan Marina, dua mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Vancouver, Kanada. Saat berada di Jakarta, keduanya menikmati beragam hidangan, mulai dari dim sum, nasi cumi, nasi Tegal, nasi pedas Bali, hingga jajanan kaki lima seperti cilok dan tahu gejrot.
Perjalanan kuliner tersebut berlangsung di kawasan Blok M dan sekitarnya. Tidak sekadar berburu makanan, momen itu juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali cita rasa Indonesia yang menurut Luna masih belum banyak dikenal di luar negeri.
Dari Dim Sum hingga Masakan Rumahan
Perjalanan diawali dengan mendatangi restoran dim sum. Kondisi restoran yang ramai membuat mereka harus menunggu cukup lama. Nomor antrean bahkan sudah berada cukup jauh dari nomor yang sedang dipanggil.
Baca Juga: 10 Makanan Khas Indonesia yang Mendunia, dari Rendang hingga Pempek
Daripada menunggu, mereka akhirnya memilih membawa pulang beberapa menu. Salah satunya dim sum udang dengan ukuran yang cukup besar. Mereka juga mencoba ceker ayam, makanan yang bagi salah satu dari mereka masih tergolong pengalaman baru.
Perjalanan kemudian berlanjut ke tempat makan dengan konsep yang lebih dekat dengan suasana rumah. Di sana tersedia berbagai menu khas Indonesia. Mereka memesan nasi cumi, nasi Tegal, dan nasi pedas Bali.
Porsi makanan yang disajikan disebut cukup besar. Cumi menjadi salah satu menu yang mendapat perhatian karena teksturnya renyah dan tidak terlalu berminyak. Sambal juga menjadi bagian penting dalam pengalaman makan tersebut.
Bagi mereka yang tinggal di luar negeri, makanan seperti ini menjadi salah satu cara untuk kembali merasakan suasana Indonesia.
Jajanan Kaki Lima Jadi Bagian dari Pengalaman
Setelah makanan berat, perjalanan berlanjut dengan mencicipi sejumlah jajanan yang mudah ditemui di Indonesia. Cilok, tahu gejrot, telur gulung, hingga onde-onde dengan isian telur asin masuk dalam daftar makanan yang dicoba.
Cilok sekaligus menjadi bahan pembahasan mengenai berbagai makanan berbahan aci. Mereka menjelaskan istilah seperti cilok yang berasal dari aci dicolok, sementara cireng merupakan aci yang digoreng.
Tahu gejrot juga mendapat perhatian karena perpaduan tahu, bawang, bumbu, dan rasa asam dari kuahnya. Sementara telur gulung memberikan pengalaman berbeda karena dibuat dari telur yang digoreng hingga membentuk gulungan.
Ada pula onde-onde dengan isian telur asin yang disebut memiliki tekstur bagian luar tetap renyah meski sudah dibawa beberapa waktu.
Makanan Indonesia Dinilai Masih Kurang Dikenal
Luna bercerita bahwa selama tinggal di Vancouver, makanan Thailand, Vietnam, dan India relatif lebih mudah ditemukan dibandingkan makanan Indonesia. Kondisi tersebut membuatnya tertarik mengenalkan kuliner Nusantara melalui konten yang dibuatnya.
Ia mulai membuat konten kuliner dan memasak sekitar 2022. Salah satu tujuannya adalah menunjukkan kepada lebih banyak orang bahwa makanan Indonesia memiliki ragam rasa dan jenis yang tidak kalah dengan kuliner negara lain.
Luna juga pernah mengajak teman dari Jepang untuk mencoba makanan Indonesia. Beberapa makanan seperti nasi Padang, lele goreng, dan gado-gado mendapat respons positif.
Menurutnya, keberhasilan mengenalkan kuliner Indonesia tidak harus selalu diukur dari jumlah orang yang langsung tertarik. Ketika satu orang asing kemudian ingin mencoba makanan Indonesia setelah melihat kontennya, hal itu sudah menjadi pengalaman yang berarti.
Dari perjalanan kuliner di Blok M, makanan Indonesia akhirnya tidak hanya menjadi hidangan untuk disantap. Bagi Luna dan Marina, makanan juga menjadi cara sederhana untuk membawa cerita tentang Indonesia kepada lingkungan pergaulan mereka di luar negeri.
Editor : Maylanni Diana Fitri