JAKARTA - Ayam Woku Chef Juna memperlihatkan bagaimana hidangan khas Sulawesi Utara dapat dibuat dengan bumbu yang kaya rempah namun tetap praktis saat sudah dipersiapkan. Dalam sebuah kitchen takeover, Chef Juna menunjukkan pembuatan woku paste hingga proses memasak ayam menggunakan bumbu tersebut. Hasilnya adalah ayam dengan rasa pedas, aroma rempah kuat, serta kuah bumbu yang tidak terlalu banyak.
Masakan woku memiliki karakter yang cukup khas. Warna kuning berasal dari penggunaan kunyit, sementara cabai memberikan rasa pedas sekaligus memperkuat warna hidangan. Bumbu tersebut kemudian dipadukan dengan daun jeruk, daun kunyit, pandan dan kemangi untuk menghasilkan aroma yang lebih kompleks.
Bumbu Woku Didominasi Bawang Merah dan Cabai
Chef Juna memulai proses dengan menyiapkan bahan untuk membuat woku paste. Bawang merah menjadi salah satu bahan yang dominan. Bawang putih juga digunakan, meski menurutnya terdapat versi woku yang tidak memakai bahan tersebut.
Baca Juga: 38 Provinsi Indonesia Punya Kuliner Khas, dari Aceh hingga Papua
Cabai merah besar dan cabai rawit merah menjadi komponen penting berikutnya. Chef Juna secara khusus menyebut cabai rawit hijau sebaiknya tidak digunakan jika ingin mempertahankan warna khas woku.
Selain cabai, terdapat kemiri, jahe dan kunyit. Kemiri yang dipakai sudah disangrai, sedangkan kunyit dibuat sedikit lebih banyak dibandingkan jahe. Semua bahan dipotong dalam ukuran lebih kecil sebelum dihaluskan.
Cara tersebut dilakukan agar blender tidak bekerja terlalu berat. Setelah bumbu cukup halus, Chef Juna memberikan garam, merica putih dan sedikit gula. Gula tidak digunakan untuk membuat masakan menjadi manis, melainkan membantu menyeimbangkan rasa.
Bumbu kemudian ditumis dengan minyak. Daun jeruk dan daun kunyit ikut dimasukkan untuk memberikan aroma. Ketika warna bumbu mulai berubah dan aromanya semakin kuat, woku paste dinilai sudah siap digunakan.
Teknik Memasak Ayam Jadi Bagian Penting
Untuk membuat Ayam Woku, Chef Juna menggunakan dua bagian ayam, yakni dada dan paha fillet. Kombinasi tersebut dipilih karena masing-masing memiliki karakter berbeda.
Dada ayam memiliki lebih banyak daging, sedangkan paha dinilai lebih flavorful. Keduanya kemudian dibumbui dengan garam dan merica sebelum dimasak.
Ayam dimasukkan ke dalam minyak panas dan dimasak hingga bagian permukaannya mulai berubah warna. Setelah itu, air ditambahkan sedikit demi sedikit.
Penambahan air menjadi salah satu teknik yang dijelaskan Chef Juna. Menurutnya, air membantu proses pemasakan sehingga panas dapat menyebar lebih merata. Bumbu juga memiliki kesempatan untuk meresap ke dalam ayam.
Daun pandan kemudian ditambahkan karena menjadi salah satu karakter dalam masakan woku. Ketika masakan mendekati matang, daun bawang dan tomat dimasukkan. Setelah api dimatikan, daun kemangi menjadi bahan terakhir yang dicampurkan.
Woku Tidak Harus Menjadi Kuah Pekat
Chef Juna menjelaskan bahwa woku sebenarnya memiliki cairan, tetapi bukan berarti berupa kuah dalam jumlah banyak. Saat disajikan di restoran Manado, bumbu, minyak dan cairannya bahkan bisa terlihat sedikit terpisah.
Kondisi tersebut justru menjadi salah satu karakter hidangan. Bumbu yang kaya rempah kemudian bisa bercampur dengan nasi putih ketika disantap.
Selain ayam, woku juga dapat digunakan untuk berbagai bahan makanan lain. Chef Juna menyebut udang, cumi, kepiting dan ikan sebagai beberapa pilihan protein yang dapat dimasak menggunakan bumbu tersebut.
Namun, jenis ikan perlu diperhatikan. Ikan dengan daging lebih padat cenderung lebih mudah diolah, sementara ikan berdaging lembut membutuhkan penanganan lebih hati-hati agar tidak mudah hancur.
Pada akhir proses, Ayam Woku yang dibuat Chef Juna dicicipi bersama. Rasa pedasnya disebut mulai terasa setelah beberapa saat, sementara bumbunya memberikan sensasi kompleks.
Chef Juna juga memperkenalkan woku paste yang dapat digunakan untuk mempersingkat proses memasak. Dengan bumbu yang telah disiapkan, hidangan woku dapat dibuat menggunakan berbagai pilihan protein sesuai kebutuhan.
Editor : Maylanni Diana Fitri