JAKARTA - Kolektor diecast Agus Wijanto membuka rumahnya yang dipenuhi ratusan koleksi diecast dari berbagai merek, mulai Kyosho, Mini GT hingga Tomica Limited Vintage. Bukan sekadar memajang mobil mini, Agus juga aktif mengembangkan komunitas, mendukung kreativitas anak muda, serta mengoleksi sejumlah diecast langka yang memiliki nilai sejarah bagi dirinya.
Rumah Agus menjadi tempat berkumpul para pencinta diecast sekaligus ruang untuk menyimpan koleksi pribadinya. Bahkan, salah satu lantai rumah digunakan untuk memajang berbagai model diecast dan diorama.
Dalam video tersebut, Agus dikenal sebagai salah satu sosok senior dalam komunitas diecast. Ia juga menjadi pendiri IMM64 atau Indonesia Mini Scale Model 64, komunitas yang disebut berdiri sejak 2018.
Baca Juga: Honda Jazz GE8 2014 Bekas Harganya Tak Turun, Ternyata Ini yang Bikin Diburu Kolektor
Koleksi Kyosho Jadi Salah Satu yang Paling Bersejarah
Salah satu merek yang memiliki tempat khusus bagi Agus adalah Kyosho. Ia pertama kali menemukan merek tersebut pada akhir 2007 setelah sebelumnya mulai mengoleksi Hot Wheels.
Agus kemudian semakin serius menekuni dunia miniatur skala 1:64 hingga akhirnya terjun lebih jauh pada 2011. Perjalanan panjang tersebut membuat sejumlah koleksi Kyosho yang dimilikinya mempunyai nilai sejarah tersendiri.
Beberapa koleksi bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperoleh. Salah satunya adalah Kyosho F1 McLaren yang disebut sangat langka dan didapatkan pada 2022 dari kolektor lain.
Bagi Agus, koleksi tersebut memiliki nilai emosional sehingga tidak sekadar dilihat dari harga pasar. Ia bahkan menyebut ada satu koleksi yang tidak ingin dijual.
Selain Kyosho, rumah tersebut juga menyimpan diecast dari Mini GT, Inno, Motorhelix, LCD, Sparky, Tarmac Works, CM Model dan sejumlah merek lainnya.
Diecast Bukan Sekadar Investasi
Di tengah tren diecast yang kerap dianggap sebagai barang investasi, Agus memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, seseorang sebaiknya membeli diecast karena memang memiliki hobi dan ketertarikan terhadap barang tersebut.
Kenaikan harga, menurut dia, sebaiknya dianggap sebagai bonus. Ia tidak ingin kolektor pemula membeli diecast hanya karena mengejar keuntungan.
Perawatan juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan kondisi koleksi. Agus memperlihatkan bagaimana diecast dan akrilik dibersihkan menggunakan peralatan yang lembut agar tidak menimbulkan goresan.
Ia juga banyak mengoleksi diecast yang sudah dimodifikasi, terutama pada bagian pelek. Aktivitas tersebut sekaligus menjadi ruang kreativitas bagi anak muda.
Salah satu yang diperkenalkan adalah Zukuri Project, yang membuat pelek melalui proses 3D printing. Pelek tersebut dirancang agar dapat dipasang pada model tertentu tanpa harus merusak bodi diecast.
Agus mengatakan dirinya senang memberikan ruang bagi anak muda yang memiliki kreativitas di bidang tersebut. Semangat itu semakin berkembang ketika pandemi membuat banyak aktivitas dan usaha mengalami keterbatasan.
Mini GT Jadi Pilihan Utama
Dari berbagai merek yang dimilikinya, Agus menyebut tiga brand favorit. Tomica Limited berada di posisi ketiga, Kyosho di posisi kedua, sedangkan Mini GT menjadi pilihan pertama.
Baca Juga: Koleksi Bonsai Kimeng Raksasa Milik Kolektor Gianyar Jadi Sorotan, Karakter Tuanya Bikin Terpukau
Khusus Mini GT, Agus memiliki kebanggaan tersendiri karena terdapat model yang membawa logo komunitasnya. Ia menilai komunitas dan kolektor dapat berkembang melalui kerja sama serta aktivitas bersama.
Salah satu koleksi menarik lainnya adalah Mini GT Blackroom yang dimiliki anggota timnya. Diecast tersebut diperoleh sebagai director gift setelah penerimanya dinilai memberikan kontribusi terhadap brand Mini GT.
Bagi Agus, perjalanan mengoleksi diecast pada akhirnya bukan hanya tentang memiliki barang langka. Ada komunitas, kreativitas, persahabatan, dan sejarah yang ikut melekat di dalamnya.
Baca Juga: 20 Jenis Keladi Hias Cantik yang Lagi Diburu Kolektor, Ada Snow White, Pink Love hingga Mirzani
Pesan yang disampaikan Agus kepada kolektor muda pun sederhana: menjalani hobi dengan hati dan terus berkarya selama memberikan dampak positif.
Editor : 'Isyna Mufida Ma Radhita