Museum Nasional Indonesia Kembali Dibuka, 2 Arca Candi Singosari Pulang dari Belanda

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 16:06 WIB
Museum Nasional Indonesia kembali dibuka dengan koleksi bersejarah, termasuk dua arca Candi Singosari dari Belanda. (PINTEREST)
Museum Nasional Indonesia kembali dibuka dengan koleksi bersejarah, termasuk dua arca Candi Singosari dari Belanda. (PINTEREST)

JAKARTA - Museum Nasional Indonesia kembali menjadi tujuan wisata sejarah setelah menjalani penutupan dan perbaikan pascakebakaran. Selain menghadirkan ruang pamer yang lebih modern dan interaktif, museum ini juga menampilkan kembali koleksi bersejarah, termasuk dua arca Candi Singosari yang telah kembali dari Belanda.

Kembalinya dua arca tersebut menjadi salah satu daya tarik dalam kunjungan ke Museum Nasional Indonesia. Koleksi itu kini dapat dilihat bersama sejumlah arca Candi Singosari lainnya yang telah lebih dulu berada di museum.

Museum Nasional bukan sekadar tempat menyimpan benda kuno. Institusi ini memiliki peran dalam merawat, mengamankan, serta memperkenalkan berbagai peninggalan budaya kepada masyarakat.

Baca Juga: Museum Nasional Indonesia Dibuka Kembali, Ada Koleksi Bersejarah yang Kembali dari Belanda

Berawal dari Lembaga Penelitian

Sejarah Museum Nasional Indonesia bermula dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang berdiri pada 1778. Lembaga tersebut dibentuk untuk mengembangkan penelitian di berbagai bidang, seperti seni, ilmu pengetahuan, arkeologi, sastra, etnologi dan sejarah.

JCM Radermacher menjadi salah satu tokoh pendirinya. Ia menyumbangkan rumah di kawasan Jalan Kali Besar sekaligus sejumlah benda budaya dan buku. Koleksi tersebut kemudian berkembang menjadi cikal bakal museum dan perpustakaan.

Pemerintah Belanda selanjutnya membangun gedung baru di lokasi yang kini berada di Jalan Medan Merdeka Barat Nomor 12, Jakarta. Gedung tersebut kemudian dibuka untuk umum.

Di kalangan masyarakat, Museum Nasional memiliki beberapa sebutan. Salah satunya Gedung Gajah atau Museum Gajah. Nama tersebut merujuk pada patung gajah perunggu yang berdiri di bagian depan museum.

Patung gajah itu merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn dari Thailand. Museum ini juga dikenal dengan sebutan Gedung Arca karena menyimpan banyak arca dari berbagai periode.

Koleksi Mencapai Sekitar 190 Ribu Benda

Kompleks Museum Nasional berdiri di atas lahan sekitar 26.500 meter persegi. Kawasan tersebut memiliki dua gedung yang dilengkapi fasilitas penyimpanan untuk berbagai benda budaya.

Gedung A difungsikan sebagai ruang pamer dan area imersif. Sementara itu, Gedung B yang dikenal sebagai Gedung Arca digunakan untuk kegiatan pameran sekaligus sejumlah fasilitas pendukung.

Museum Nasional menyimpan sekitar 190.000 benda bernilai sejarah. Koleksinya terbagi dalam sejumlah kelompok, mulai dari prasejarah, arkeologi, masa klasik Hindu-Buddha, numismatik dan heraldik, keramik, etnografi, geografi hingga sejarah.

Jumlah koleksi tersebut menggambarkan luasnya perjalanan kebudayaan Indonesia yang tersimpan dalam satu kompleks museum.

Pascakebakaran Hadir dengan Wajah Baru

Kebakaran yang terjadi di Museum Nasional menyebabkan kerusakan pada bagian gedung serta sejumlah koleksi. Museum kemudian ditutup untuk umum agar proses rekonstruksi, perbaikan infrastruktur, serta penyelamatan benda bersejarah dapat dilakukan.

Masa penutupan sekaligus menjadi momentum untuk melakukan pembenahan dari sisi fasilitas dan pengelolaan koleksi. Setelah kembali dibuka, pengunjung disambut ruang pamer yang lebih interaktif dan modern.

Baca Juga: Museum Nasional Indonesia Dibuka Kembali, Ada Koleksi Bersejarah yang Kembali dari Belanda

Salah satu koleksi yang menjadi perhatian adalah dua arca Candi Singosari yang kembali dari Belanda. Kedua arca tersebut adalah Arca Birawa dan Nandi.

Keduanya kini dapat berkumpul dengan empat arca Singosari lainnya, yakni Ganesha, Mahakala, Durga Mahisasuramardini dan Nandiswara. Kehadiran kembali dua arca tersebut menjadi bagian dari proses repatriasi benda bersejarah.

Museum juga menghadirkan ruang pameran repatriasi yang menyajikan benda-benda peninggalan sejarah. Namun, pengunjung perlu mengikuti ketentuan yang berlaku. Di ruang tersebut, kamera tidak diperbolehkan digunakan untuk mengambil foto maupun video.

Aturan tersebut diterapkan sebagai bagian dari upaya menjaga dan merawat warisan sejarah yang dipamerkan.

Dengan berbagai pembaruan tersebut, Museum Nasional Indonesia menawarkan pengalaman berbeda bagi masyarakat yang ingin mengenal sejarah dan budaya. Koleksi yang tersimpan di dalamnya menjadi pengingat bahwa peninggalan masa lalu tidak hanya untuk disimpan, tetapi juga dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Power Generasi
Museum Nasional Indonesia Museum Gajah Candi Singosari Repatriasi Koleksi jakarta