YOGYAKARTA - Kuliner legendaris Yogyakarta, Kudus, dan Solo menjadi bagian dari kekayaan budaya Jawa yang masih bertahan hingga kini. Gudeg, gatot, tiwul, nasi pindang, soto kerbau, tengkleng, hingga sate buntel bukan sekadar hidangan, tetapi juga menyimpan cerita tentang tradisi dan kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi.
Yogyakarta dikenal sebagai kota wisata dengan kekayaan budaya sekaligus kuliner yang beragam. Salah satu makanan yang paling identik dengan kota ini adalah gudeg. Hidangan berbahan nangka muda tersebut mudah ditemukan, mulai dari rumah makan tradisional hingga pedagang kaki lima.
Gudeg hingga Gatot dan Tiwul di Yogyakarta
Gudeg memiliki beragam variasi. Selain menggunakan nangka muda, ada pula gudeg Manggar yang dibuat dari bunga muda pohon kelapa.
Baca Juga: Wisata Semarang, 10 Destinasi Hits untuk Liburan dan Berburu Foto
Kuliner tradisional Yogyakarta tidak berhenti pada gudeg. Gatot dan tiwul juga menjadi bagian dari jajanan klasik yang masih dipertahankan.
Tiwul dibuat dari tepung gaplek. Proses pembuatannya dilakukan dengan mengolah tepung hingga lembut, kemudian dicampur kelapa parut. Rasanya dapat disesuaikan, termasuk menggunakan gula pasir atau varian rasa buah.
Sementara itu, pembuatan gatot membutuhkan proses perendaman yang disebut berlangsung selama tiga hari. Keberadaan gatot dan tiwul menunjukkan bagaimana bahan pangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat diolah menjadi kudapan sekaligus oleh-oleh.
Kudus Punya Nasi Pindang hingga Soto Kerbau
Perjalanan kuliner berlanjut ke Kudus yang dikenal memiliki banyak makanan khas. Jenang, jangklong, garang asem, sogo jangkrik, dan obor Sunggingan disebut sebagai beberapa penganan yang diburu.
Salah satu kuliner yang menarik perhatian adalah mentok. Hidangan tersebut memiliki potongan dan isian yang tidak terlalu padat serta disajikan bersama kuah hangat.
Selain mentok, Kudus juga memiliki nasi pindang dan soto kerbau. Keduanya menggunakan daging kerbau sebagai bagian dari karakter kuliner daerah tersebut.
Pembuatan nasi pindang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan soto karena menggunakan santan. Santan yang digunakan dibagi menjadi santan encer dan santan kental.
Sementara itu, bumbu soto digoreng terlebih dahulu sebelum dihaluskan. Bumbu tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kaldu. Setelah matang, kuah disaring agar ampas bumbu tidak ikut tersaji.
Tengkleng dan Sate Buntel Jadi Ikon Kuliner Solo
Solo atau Surakarta juga memiliki kekayaan kuliner yang kuat. Kota yang dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa tersebut memiliki sejumlah makanan berbahan daging kambing, termasuk tengkleng dan sate buntel.
Tengkleng disebut memiliki sejarah dari masa ketika masyarakat mengalami keterbatasan bahan makanan. Berbagai bagian kambing kemudian diolah menjadi hidangan yang dapat mengenyangkan.
Sementara itu, sate buntel pada awalnya dibuat dari bagian daging kambing yang dianggap lebih keras. Daging tersebut dicincang, kemudian diberi bumbu dan diolah agar lebih empuk.
Adonan daging selanjutnya dibungkus dengan lemak kambing yang tipis sebelum dibakar. Cara tersebut membuat sate buntel memiliki karakter tersendiri.
Beragam makanan tersebut memperlihatkan bahwa kuliner tradisional tidak hanya berbicara soal rasa. Di balik sepiring gudeg, tiwul, nasi pindang, tengkleng, atau sate buntel terdapat pengetahuan, kebiasaan, dan cerita masyarakat yang terus diwariskan.
Editor : Maylanni Diana Fitri