Pick Me Berlebihan Bisa Ganggu Kesehatan Mental, Psikolog Blitar Ungkap Pemicu dan Cara Menyikapinya

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 15:00 WIB
Cika Humaira Psikolog Blita
Cika Humaira Psikolog Blitar

BLITAR KAWENTAR  – Istilah pick me semakin sering digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang yang berusaha mendapatkan perhatian atau pengakuan dari lingkungan. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan, perilaku pick medapat berdampak terhadap kondisi psikologis dan kesehatan mental seseorang.

Dalam perspektif psikologi, pick me dapat merujuk pada perilaku seseorang yang berusaha menonjolkan dirinya dengan membandingkan atau bahkan merendahkan orang lain demi mendapatkan validasi.

Keinginan untuk memperoleh pujian sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, perilaku tersebut menjadi persoalan ketika seseorang merasa harus terlihat lebih unggul agar mendapatkan pengakuan.

Baca Juga: Fenomena Silent Mode Makin Populer di Kalangan Gen Z, Psikolog Ungkap Manfaatnya untuk Kesehatan Mental dan Kurangi Stres Digital

Psikolog asal Blitar, Cika Humaira, menjelaskan bahwa perilaku pick me dapat muncul ketika seseorang membangun citra diri secara berlebihan untuk memperoleh pengakuan dari lingkungan. Salah satu pemicunya adalah rasa insecure atau kurangnya kepercayaan diri.

Insecure Bisa Menjadi Salah Satu Pemicu

Menurut Cika, seseorang yang merasa kurang percaya diri dapat berusaha membangun citra tertentu untuk mendapatkan validasi dari orang-orang di sekitarnya. Salah satunya dengan berusaha menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul dibandingkan orang lain.

Keinginan untuk mendapatkan pujian sendiri bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Setiap orang pada dasarnya membutuhkan apresiasi dan pengakuan. Namun, pola tersebut perlu diperhatikan apabila seseorang terus-menerus merasa harus membandingkan dirinya dengan orang lain agar dianggap memiliki nilai.

Baca Juga: Bikin Merinding! Ternyata Ini Alasan Banyak Mahasiswa Sengaja Aktifkan Mode Senyap HP, Ada Kaitannya dengan Kesehatan Mental dan Tekanan Produktivitas Kampus?

Perilaku seperti itu juga dapat membuat seseorang semakin bergantung pada penilaian lingkungan. Ketika pengakuan yang diharapkan tidak didapatkan, rasa tidak percaya diri dapat semakin kuat.

Cika menyebut perilaku tersebut apabila dilakukan secara berlebihan dapat berdampak terhadap kondisi psikologis. Seseorang bisa semakin merasa tidak memiliki nilai atau value, mengalami rasa insecure, hingga berisiko mengalami gangguan kesehatan mental.

Tak Perlu Menjatuhkan Orang Lain

Karena itu, Cika mengajak anak muda untuk mulai mengenali sekaligus menghargai nilai dirinya sendiri. Rasa berharga tidak harus diperoleh dengan menjatuhkan atau merendahkan orang lain.

Baca Juga: Tangani Krisis Kesehatan Mental Anak, Pemkot Blitar Siap ImplementasikanKebijakan SKB 9 Menteri, Apa itu?

Menurutnya, setiap orang memiliki nilai dan keunikan masing-masing. Seseorang tetap dapat menjadi pribadi yang berharga tanpa harus membuktikan bahwa dirinya lebih baik dibandingkan orang lain.

Pesan tersebut penting terutama ketika seseorang berada di lingkungan yang membuatnya sering melakukan perbandingan. Alih-alih mencari pengakuan dengan menunjukkan keunggulan, seseorang dapat belajar mengenali kemampuan dan nilai dirinya secara lebih sehat.

Cika menegaskan bahwa seseorang perlu mengetahui nilai dirinya sendiri. Menjadi pribadi yang berharga tidak harus diwujudkan dengan merendahkan orang lain. Setiap orang memiliki keunikan masing-masing dan tetap memiliki nilai.

Baca Juga: Fenomena Paylater di Kalangan Gen Z, Dianggap Praktis tetapi Bisa Membuat Belanja Lebih Sulit jaga

Pada akhirnya, rasa percaya diri yang sehat tidak dibangun dari upaya untuk terlihat lebih unggul. Menghargai diri sendiri sekaligus menghormati keunikan orang lain menjadi salah satu cara untuk membangun pandangan diri yang lebih sehat.

Dengan demikian, menjadi diri sendiri tidak harus disertai kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dengan cara membandingkan diri dengan orang lain. Justru, menerima nilai dan keunikan diri dapat menjadi bentuk kepercayaan diri yang lebih sehat. (mg3/c1/sub)

Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan
Pick me Psikolog Blitar Insecure kepercayaan diri kesehatan mental